Kamis, 18 Oktober 2018

Seri Kisah Denia, Kisah ke-9


Meskipun berat, aku harus mengantarkan Denia ke Pesantren Darul Akhirah, Sukabumi. Sebuah pesantren di kaki Gunung Gede Pangrango.
Kami berangkat pagi-pagi benar dari Jakarta, berharap bisa mengenang kembali keindahan alam saat aku dan Mas Lukman sama-sama menjadi anggota MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam). Cukup banyak yang berubah, kecuali kehijauan sepanjang mata memandang, mengapit kelok jalan aspal menila kebiruan. Sayangnya, eksploitasi alam pada beberapa titik, menodai keasliannya. Perjalanan ini adalah kali kedua aku menyambangi Gunung Gede Pangrango setelah kegiatan MAPALA yang aku ikuti tujuh tahun yang lalu.
Setelah tiga jam perjalanan santai, kami sampai juga di Darul Akhirah. Pesantren itu bukan pesantren besar. Siswanya dua ratus orang akhwat dan dua puluh meter dari asrama akhwat terdapat asrama ikwan. Jumlah santri ikhwan setengah dari jumlah akhwat, sekitar seratus lima orang. Mereka seusia SMP dan SMA.
Pertama kali memasuki halaman pesantren, aku merasakan kesan asri dan indah. Hamparan rumput taman menghijau, di sana-sini dihiasi bunga soka dan bougenfil aneka warna. Di seheliling halaman pesantren terdapat bangunan bertingkat. Lantai atas untuk asrama enam kamar dan lantai bawahnya untuk ruang kelas. Tiga kelas untuk tingkat SMP selebihnya untuk tingkat SMA. Dua gedung berseberangan itu saling membelakangi. Di bagian tengah terdapat kantor dan rumah pengelola.
Kesan pertama melihat penataan pesantren ini, aku merasa tidak salah menitipkan Denia di sini. Turun dari mobil, kami membawa seluruh perlengkapan Denia ke kamar yang telah ditentukan oleh para pengurus yang berpakaian seragam anggun serasi..
“Ini kunci lemarinya, Bu,” sapa gadis berhijab setelan syar’i warna merah marun. Namanya, Lisda Amanda. Senyumnya tulus membuat kami nyaman dan cepat akrab. Dengan kaca mata frame tipis yang bertengger di depan matanya, Lisna makin nampak manis.
“Ukhti, saya nitip adik saya ini. Baru kali ini dia berpisah jauh dari saya. Jadi mohon bimbingannya biar cepat betah.” Pada pengurus Majelis Syura Thalabah (MST) yang satu ini aku menitipkan Denia.
Setelah menata kamar buat Denia, kami menghadap Pak Yai. Menyerahkan jiwa, raga Denia buat dididik, diasuh hingga mengenal diri, mengenal Rabb-nya, mengeri banyak hal tentang iman, adab dan ilmu.
Selama pintu rumah pimpinan pesantren dibuka, itu pertanda bahwa kami bisa menemuinya kapan saja. Tamu yang sowan ke rumah Pak Yai seakan tak pernah berhenti. Satu persatu rombongan keluarga bertamu bergantian. Tiba giliran keluargaku yang sowan.
Ruang tamu tanpa sofa, hanya hamparan karpet hijau tebal dan empuk. Di tengah permadani berderet makanan ringan untuk menjamu tamu lengkap dengan air putih botol minuman kemasan dengan gelas di sampingnya.
Di depan sosok penuh wibawa itu, kami seakan tak mampu banyak berkata-kata. Beliau tak banyak bicara, kecuali hal penting atau menjawab pertanyaan kami. Di tangannya melingkar tasbih yang tak pernah berhenti diputarnya. Penampilannya menunjukkan kecintaan pada sunnah. Jubah putih, serban hijau, jenggot yang mulai memutih dan tongkat kayu di depan tempat beliau duduk.
“Terimakasih sudah memercayakan santri ke pesantren ini. Kami akan berusaha memenuhi harapan orang tua dan wali santri. Tapi dorongan doa dari keluarga tak kalah pentingnya. Keselarasan gerak antara keluarga dan pihak pesantren dalam sama-sama menaati ketetapan-Nya akan sangat memudahkan santri mencapai perubahan dirinya kea rah yang lebih baik.” Nasihat itu mengalir mengingatkan kami untuk sama-sama memperbaiki diri.
“Pak Yai, kami sepenuhnya memercayakan dan menyerahkan lahir batin, jiwa raga adik kami pada pesantren ini. Pada Pak Yai dan seluruh pengurus. Bila ada kesalahan adik kami, kami mohon untuk diperbaiki sesuai aturan pondok. Kami ikhlas.” Mas Lukman mengikrarkan kerelaan tanda serah terima kepengasuhan pada pihak pesantren.
Kami meninggalkan rumah Pak Yai yang sederhana namun menunjukkan kemurahan hati pemiliknya.
“Denia, kamu baik-baik di sini, ya? Ikuti tata tertib yang diaturkan untuk kebaikan kamu. Mulai sekarang tidak ada HP, tidak ada facebook, semua waktu digunakan untuk mengikuti kegiatan pondok.” Mas Lukman menasihati Denia.
“Kak Mutia yakin kamu akan dengan cepat beradaptasi. Bukankah ini pilihan kamu untuk menjadi santri?” Aku menyemangati Denia dengan sebuah keyakinan bahwa dia bisa.
“Doakan Denia bisa, ya, Kak. Ini pengalaman baru buat Denia. Pasti akan banyak kejutan yang aku nggak pernah tahu sebelumnya.”
“Kalau ada apa-apa jangan segan konsultasi pada pengurus dan ustadzah pembimbing kamu. Kalau ada izin menghubungi keluarga, jangan segan-segan cerita sama Kak Mutia, ya.” Aku kecup kening Denia dan kupeluk erat sebelum berpisah.
Sementara Mas Lukman yang tak pernah membiarkan tangannya bersentuhan dengan yang bukan mahram, memberi salam terakhir layaknya emotikon terimakasih di medsos. Denia yang telah memahami keutamaan itu, melakukan hal yang sama.
Kami segera menuju kendaraan yang kami parkir di tengah hamparan rumput halaman pesantren. Aku tak bisa membendung lagi air mata yang sedari tadi aku tahan. Sengaja aku tidak menampakkan kesedihan di depan Denia. Aku tak ingin turut sedih dengan kesedihanku.
“Sudah, ummi jangan menangis begitu. Nanti kesedihan kamu bisa nyambung ke perasaan Denia.” Mas Lukman mengingatkanku.
“Gimana nggak sedih Mas, aku yang memungutnya dari kehidupan di jalanan dengan alasan kasih sayang. Lalu kini, setelah lima tahun bersama aku lepas dengan alasan kasih sayang juga. Dua hal yang kontradiktif dalam bingkai yang sama, cinta.” Mas Lukman mengambil tissue dan menyeka air mataku.
“Anggaplah ini latihan pertama sebelum kelak kita melepas anak kita untuk mengarungi
keindahan samudera ilmu.” Mas Lukman mengecup buah hatinya yang kini masih dalam kandunganku.
            Aku menoleh ke arah asrama putri, Denia masih melambaikan tangannya. Aku balas lambaian itu hingga pandanganku terhalang gerbang pesantren. Doa tulusku untukmu, adikku. Semoga penjara suci ini dipenuhi cahaya cinta yang lebih indah.
***
Empat puluh hari sejak perpisahan itu, Denia baru bisa menghubungiku via telepon. Ya, telepon jadul yang hanya bisa dipakai SMS dan bicara. Itupun tak boleh lama-lama, hanya maksimal lima menit. Antre katanya.
Aku biarkan cerita Denia mengalir tanpa hambatan. “Kak, Alhamdulillah aku betah di sini. Pesantren ini ternyata sangat mengistimewakan yatama apalagi yatim piatu seperti aku. Tiap pecan ada majelis khusus Yatama. Kami ada dua puluh satu orang, ikhwan akhwat. Kegiatannya dipimpin langsung Pak Yai. Tempatnya juga di rumah beliau, di ruang tamu. Kami dijamu. Di majelis itu kami mendoakan banyak hal. Mulai dari yang sakit hingga tentang program-program pesantren yang kurang berjalan, kami yang mendapat tugas khusus mendoakan.”
            Kebahagiaan dalam dari seorang Adenia aku rasakan, seakan tumpah ruah tak terbendung.
“Alhamdulillah, tapi meskipun diistimewakan, kamu harus tetap rendah hati Denia. Semua atas kasih sayang Allah yang menggerakkan tiap hati manusia.” Aku berusaha mengingatkan Denia.
“Semua yang ada di sini menyayangi kami, Kak. Bahkan banyak yang menitip doa di majelis kami. Termasuk para santri yang sedang pendapat masalah. Pak Yai sering mengingatkan satu hadits Rasulullah. Rasulullah pernah bersabda bahwa Rasulullah dan anak-anak yatim ibarat jari tengah dan telunjuk, barang siapa yang mengasihi dan membelanya maka dia juga mengasihi dan membela Rasulullah.”
Binar bahagia itu terasa kental dari semua tutur denia melalui telpon sore ini. Sekali lagi aku merasa telah meletakkannya di tempat yang tepat. Tempat yang dilimpahi cahaya cinta, kasih sayang yang tulus sebagaimana tuntunan Rasulullah SAW.


Denia, aku akui aku lemah saat harus berpisah dengamu, mungkin kau juga begitu. Namun kini kau telah menemukan kesejatian cinta. Cinta yang dititipkan Rasulullah SAW pada ummat ini. Cinta pada yatama, cinta karena ikatan iman pada apa yang disabdakannya.
Syukurlah, Denia memiliki kenangan terindah dalam hidupnya bersama mereka yang tulus mencinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IMPIAN PENUH KENANGAN

IMPIAN PENUH KENANGAN  Oleh: Farel Kemenangan Tim Bulutangkis SMPN III di tingkat provinsi tahun lalu memberikan semangat yang tak perna...