Kisah ke-10
BERATNYA SEBUAH AMANAH
#TantanganMenulisdariLagu
#SahabatKabolMenulis
#SeriKisahDenia
#AirJoshua
Tiap menerima telephon dari Denia, aku banyak mendengar kisah-kisah indah yang membuat dia betah tinggal di darul Akhirah. Akan tetapi memasuki tengah tahun ketiga, sesuatu mengusik kenyamanan Denia.
Tahun pertama, Denia memasuki kelas intensif. Kelas khusus untuk mereka yang masuk pesantren setelah lulus SMP. Denia tetap bersemangat meskipun harus menempuh pendidikan SMA selama empat tahun.
“Tak apa, Kak. Aku nggak pernah merasa rugi. Yang penting banyak bekal pengetahuan yang bisa kuraih.”
“Sebelum kuliah juga kamu harus mengabdi Denia. Jadi bukan hanya empat tahun tapi lima tahun, gimana?” Tanyaku mengetes kesungguhannya.
“Masa pengabdian juga masa yang sangat penting, kak. Ikut membesarkan pesantren dengan peranan yang lebih penting adalah bagian dari fisabilillah. Justru Denia yang minta keikhlasan Kak Mutia. Masa belajarku jadi lebih panjang. Itu berarti lebih lama membebani Kak Mutia dan Mas Lukman.”
“Jangan berpikir begitu, Kakak hanya perantaraan jalan rejeki kamu. Semua sudah Allah sediakan. Justru aku berterimakasih, kehadiranmu membuat rejeki kita berkah.” Aku berusaha menghapus beban dari hati Denia.
Semua berjalan lancar, samapai masa-masa sulit yang hampir saja membuat Denia berhenti dari pesantren.
***
Di kelas XI semester genap, angkatan Denia tergilir untuk menjadi pengurus MST (Majelis Syura Thalabah). Denia yang cerdas terpilih menjadi bagian pengajaran. Tugasnya memastikan berjalannya program sekolah dari pukul tujuh pagi hingga tiga sore.
Suatu Jum’at, saat semua santriwati berolah raga keluar mengisi hari libur, Ibu Nyai memanggil Denia.
“ Denia, benar kamu bagian pengajaran di MST?” Bu Nyai bertanya lembut.
“Benar, Ibu. Ada yang bisa Denia lakukan buat Ustadzah terkait amanat Denia? “ Tanya Denia santun.
“Ibu, ada kegiatan mengisi pengajian di beberapa kampung tiap Jum’at. Sementara Ibu tidak bisa meninggalkan Fauzan dan Fauzi sendirian di rumah. Tugasmu, menjaga mereka sambil mengajarkan iqra’. Tidak lama Denia, dari bakda Jum’at sampai sekitar jam empat sore.” Dari tatap Ibu Nyai, nampak sekali harapan jawaban ‘ya’ dari Denia.
Tidak ada pilihan buat Denia selain menyanggupinya. Jumat adalah hari libur mereka di pesantren dan tidak ada kegiatan wajib.
“Insya Allah Denia sanggup, Ustadzah. Tapi mohon izin, saya mengasuh dengan teman saya, Maryam.”
“Itu lebih bagus, supaya kamu tidak terlalu kerepotan.”
Fauzan dan Fauzi adalah dua anak kembar yang ditemukan Pak Yai di dalam kardus dekat tempat pengelolaan sampah pesantren, lima tahun yang lalu. Kini bayi merah itu sudah berusia empat tahun. Bahkan tanggal ditemukannya Fauzan-Fauzi menjadi tanggal lahir mereka.
Jumat pertama amanah dapat dikerjakan dengan baik oleh Denia. Demikian juga Jumat berikutnya, hingga peristiwa itu terjadi.
“Denia, Jumat ini aku tidak bisa menemani kamu ngasuh Fauzan-Fauzi. Kedua orang tuaku bakal datang dan ngajak aku keluar pesantren. Maaf, ya?”
“Tidak apa Maryam, kan, cuma hari ini aja? Lagi pula aku bisa mengajak akhwat yang lain.”
Di luar dugaan Denia, tidak ada yang punya waktu buat menemaninya, mengasuh kedua anak itu. Ada saja alasan mereka. Belum mencuci, belum mengeterika, ada PR. Akhirnya Denia mengasuh dua anak itu sendirian.
Semua jadi terasa merepotkan. Saat Denia mengantar Fauzi ke kamar mandi dan memperhatikan taharahnya, Fauzan membuat ulah.
“Prang!!!!” Suara beling jatuh berserakan. Denia segera meninggalkan Fauzi ada melihat apa yang dilakukan Fauzan. Ternyata dia sedang mengobok-obok ikan di akuarium putri Bu Nyai, Tazza. Akuarium stoples bulat itu ada di atas meja belajar. Fauzan memanjat dengan kursi belajar, Tazza. Airnya tumpah kemana-mana dan ikan-ikannya jatuh bersama pecahan kaca, membasahi karpet ruang belajar Fauzi dan Fauzan, juga buku Tazza.
Hampir pingsan Denia melihat keadaan ruangan. Terbayang kemarahan Bu Nyai atas ketidak mampuannya mengasuh dua anak kembar itu.
Denia tidak punya cara lain kecuali memanggil temannya di asrama. Diliriknya Fauzi di kamar mandi sedang memainkan air keran. Air dalam kolam itu dimainkannya dengan gayung memasahi dinding dan kemana dia suka. Lantai dapur dekat kamar kecil itu basah tidak karuan. Tentu saja baju Fauzi basah juga.
“Ya Allah, Fauzan-Fauzi kenapa bisa begini, Kak Denia nggak sanggup. Pasti bakal kena marah Bu Nyai.” Denia tak mampu menahan tangis.
Denia segera membopong Fauzan supaya tidak menginjak pecahan kaca. Sementara ia membiarkan Fauzi tetap di kamar mandi.
“Fauzi, kamu jangan keluar dulu di sini banyak pecahan beling. Aku harus membereskan ini semua sebelum Bu Nyai datang.”
Sambil berlari Denia menggendong Fauzan mencari Isma. Seseorang yang dekat dengannya.
“Ukhti Isma, bantuin ana…….”
Dari kejauhan Bu Nyai datang. Rasanya kepala mau pecah. Semua menjadi gelap. Denia temas dan pingsan karena ketakutannya. Beruntung Isma segera menggapai Fauzan. Kalau tidak bisa-bisa terbentur tiang depan asrama putri.
Denia sadarkan diri saat mendengar bunyi zikir Ma’tsurat dari speaker masjid pesantren. Di sekelilingnya ada Bu Nyai, Isma, Maryam dan juga Fauzan-Fauzi yang nyengir tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Mulut Denia terkatup. Diam bergeming.
“Maafin ana Ustadzah, ana memang orang yang nggak bisa menunaikan amanah. Ana nggak pantas jadi pengurus. Apapun hukuman dari pesantren, ana siap menerima.”
“Sudah Denia, jangan terlalu dipikirkan. La yukalifullahu nafsan illa wusaha. Mengasuh dua anak hiper aktif ini sendirian memang berat untuk gadis seusia kamu. Yang jelas Ibu bersyukur kamu baik-baik saja. Tak terbayang kalau kamu pingsan lama. Justru Ibu yang akan merasa bersalah. Semua udah dirapihkan oleh teman kamu, sesame pengurus MST.” Kalimat bijak yang sangat jauh dari perkiraan Denia. Selama ini Bu Nyai dikenal tegas terhadap pelanggaran santri. Mungkin karena kondisinya berbeda.
Rasa bersalah tetap masih merayapi hati Denia, pasalnya tiga hari setelah peristiwa itu, Fauzan-Fauzi demam tinggi. Mungkin karena terlalu lama bermain air dengan baju basah.
Yang membuat Denia malu, tiap dia lewat ada beberapa teman pengurus yang meledeknya dengan lagu kanak-kanak yang dinyanyikan Joshua.
“Denia, kalau ketemu kamu rasanya aku ingat terus lagu Joshua yang suka dinyanyiin anak-anak kecil termasuk Fauzan-Fauzi.” Isma memulai candaannya.
Kemudian disusul teman sekamar sesama pengurus mulai bernyanyi:
“Ini lho ember, ini lho kran, ini lho air,
Baru tahu ya?
Di obok obok airnya di obok obok
Ada ikanya kecil kecil pada mabok
Di semprot semprot airnya di semprot semprot
Kena mukaku aku jadi mandi lagi,
Dingin dingin, di mandiin nanti masuk angin…….”
Mereka tertawa sambil bernyanyi, mungkin maksudnya bercanda dan menambah keakraban. Tapi tidak demikian dengan perasaan Denia. Nyanyian itu seperti ledekan yang memerahkan muka dan telinganya. Biasanya Denia akan menghindar sebelum teman-temannya menyelesaikan nyanyian itu.
Akhirnya ia menghubungiku. Menceritakan semuanya.
***
Aku dan Mas Lukman hanya bisa berusaha menguatkannya, untuk tetap bertahan.
Saat Denia sudah tidak bisa lagi menahan isak tangisnya, Mas Lukman akan mengambil alih perbincangan lewat telpon ini.
“Denia, tinggalkanlah prasangka. Karena sebagian prasangka tidak selalunya benar. Ketika sangkaan itu salah, ia akan menjadi dosa. Allah dan Rasulnya mengajarkan kita berbaik sangka karena itu lebih baik untuk diri kita juga orang lain. Yakinlah mereka akan segera menghentikan nyanyian itu. Mereka hanya menginginkan keakraban dan suasana ceria. Jadi lebih baik kamu ikut bernyanyi aja.”
“Bagaimana bisa Mas, aku merasa diledek oleh mereka. Seakan mereka senang dengan kegagalan aku menerima amanat dari Bu Nyai.”
“Sekarang begini. Apakah mereka benar-benar menginginkanmu atau senang saat kamu celaka? Misalnya saat kamu sakit, saat mereka meminta didoakan di Majelis Yatama yang kamu banggakan?”
Denia terdiam, kemudian berucap lagi,”Memang sebenernya mereka baik. Tapi mana tahu mereka memendam rasa iri. Saat aku terjatuh, mereka punya kesempatan membuat perasaanku makin hancur.”
“Nah, itulah yang dikatakan berburuk sangka. Dengerin Mas Lukman. Itu tidak akan menambah kebaikan kamu sedikitpun. Kecuali rasa gelisah yang ujung-ujungnya bernilai dosa. Siapa coba yang rugi?”
Sepertinya nasihat Mas Lukman masuk dalam logika dan rasa hati Denia. Sejak itu Denia tidak lagi mengeluh tentang lagu Joshua yang cukup mengganggunya.
Alhamdulillah, Denia makin dewasa. Paling tidak dia menyadari bahwa amanah memang berat, harus berpikir matang sebelum menerimanya. Juga dia belajar berbaik sangka untuk membebaskan hatinya dari pikiran negatif. Efek positif buatku, aku makin bangga dan sayang sama Mas Lukman. Cubitan sayang akan kuhadiahkan pada pipinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar