Kamis, 18 Oktober 2018

Seri Kisah Denia, Kisah ke-8


Sejak peristiwa terpergok mengadakan pertemuan tanpa seizinku di rumah,  Mas Lukman intens memberikan kajian pada mereka. Seminggu sekali, aku turut menjadi pendengar setia meskipun tidak ikut duduk dalam majelis.
“Ummi dengerin aja, tapi supaya mereka mau mengungkap permasalahan yang mereka hadapi, ummi tidak usah ikut kajian.”
            “Memang kenapa, Mas. Mas Lukman nggak percaya aku bisa turut menguraikan masalah mereka?” Aku memahat senyum manis, merayu ingin menjadi mad’unya. Mengenang kembali masa ikut kajian.
“Bukan begitu, aku nanti grogi menyampaikan materi, Malah nggak focus ke mereka, jadinya merhatiin ummi terus. Nanti kalau peserta kajiannya sudah bertambah, biar yang ikhwan sama saya, akhwatnya sama Ummi. Setuju?” Aku tahu jawaban itu hanya basa-basi. Kuakui aku masih suka nyletuk dengan bahasa lugas tanpa pilih-pilih kata yang tepat untuk mereka Sementara aku sendiri menyadari itu.
Aku mencoba mencatat beberapa quote, terinspirasi dari materi yang disampaikan Mas lukman.
Manusia dari tiada menjadi ada dan akan kembali tiada. Beruntunglah mereka yang memahami hakikat kehidupan. Dari mana datangnya, oleh siapa diadakannya, untuk apa diadakannya.”
“Segala kesadaran diri berawal dari ilmu, maka menggali ilmu pengenalan diri, wajib bagi tiap diri.”
“Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Penciptanya. Dari sana awal dan sumber ilmu bermula. Tanpa mengenal Pencipta, cahaya sesungguhnya takkan dapat kita temui, selain keremangan dugaan dan keraguan.”
“Pencipta adalah Yang selalu hadir, ada. Kekal tanpa akhir terhindar dari kefanaan dan kelemahan, sempurna. Paling awal tanpa ada yang mengawali. Tidak tergambar, tidak terlukis, tdak terpahat, karena Dia tak serupa dengan apapun juga. Tidak pula bayangan dalam benak kita. Karena bayangan dan imajinasi adalah bagian dari ciptaanNya”
“Pencipta kita adalah dzat yang berdiri sendiri, tidak bergantung pada yang diciptakanNya, justru Dialah tempat bergantung dan menaruh harap dari segenap makhlukNya.”

“Pencipta hanyalah satu, penentu dari tiap peristiwa, Dialah yang Maha Berkehendak, Maha Tahu atas segala sesuatu hingga dalam lubuh hati manusia. Dialah yang selalu hidup tak pernah mati. Dia Yang Maha Mendengar tak pernah tuli, Dia yang Maha Melihat dengan pengelihatan sempurna, tidak pernah buta”
“Dialah Allah SWT, Pencipta yang takkan pernah menjadi makhluk. Maka jangan pernah menanyakan pencipta dari pencipta. Karena bila dicipta, ia akan menjadi makhluk.”
“Tujuan kita diadakan adalah untuk beribadah menghamba padaNya. Maka beribadahlah sesuai dengan apa yang diinginkanNya dengan cara mentaati segenap perintah dan menjauhi larangannya. “
“Tujuan kita diciptakan adalah untuk mengatur dan menciptakan peradaban sesuai dengan apa yang diridhoiNya, sesuai petunjuk dariNya.”
“Allah tidak pernah menzalimi hambaNya. Maka tiap ummat ada utusan terpilih untuk membawa cahaya petunjuk. Dari masa ke masa dari generasi ke generasi itulah agama.”
“Diantara kasih sayang Allah pada manusia adalah diturunkannya Alqur’an dan pesan-pesan utusannya, Rasulullah SAW. Maka menjadikan keduanya petunjuk hidup akan mengantar kita pada kebahagiaan.”
“Hidup ini penuh dengan pilihan, dari bangun hingga tidur lagi. Pilihan terbaik akan bisa kita pilih jika kita mengambil petunjukNya sebagai pedoman.”
“Cara memahami perintah dan larangannya adalah dengan memahami Alquran dan pesan Rasulullah dalam haditsnya. Juga warisan para ulama. Maka mengambil pengetahuan dari sana akan membuat kita bijak dalam menjalani kehidupan.”
Rasanya akan sangat banyak bila aku tulis semua. Aku bahagia dan bangga memiliki suami Mas Lukman. Gabungan antara ilmu dan kebagusan akhlak itu telah membuka pintu hidayah buat mereka yang membutuhkan.
Perlahan tapi pasti, perubahan baik terlihat pada diri mereka. Mereka tidak pernah lagi berboncengan cowok-cewek. Juga candaan itu sudah tidak aku dengar lagi.
“Denia, maafin Kak Mutia yang sempat gregetan dengan sikapmu sebelum memberi bekal kepahaman dengan benar. Beruntung di tengah kita ada Mas Lukman.”
“Alhamdulillah, Kak. Mas Lukman itu suami ideal. Aku juga pingin punya pasangan seperti Mas Lukman. Semoga Dimas bisa menyusul murabinya.”

“Hush….hati-hati jaga hati. Dimas belum tentu jodoh kamu. Jodohmu sudah ada di lauhul mahfuz. Kalau jodoh nggak kemana. Serahkan saja pada Allah SWT.

***
Waktu perpisahan tiba, ada kesedihan terselip di kelopak hatiku. Aku yakin juga pada mereka. Bahkan pada sorot mata Mas Lukman aku dapati kesenduan. Cinta dan kasihnya benar-benar telah merubah semuanya.
Anggota kajian kami sudah bertambah menjadi tujuh orang sampai akhir kelas sembilan mereka.
Dimas dan Denia akan meninggalkan kami menuju pesantren. Jadi anggota kajian ini tersisa lima orang.
Anak-anak ABG seusia SMP itu akhirnya berpisah sekolah. Denia aku titipkan di Pesantren Darul Akhirah di Daerah Sukabumi. Pesantren Tahfidz dan Agribisnis. Dimas melanjutkan ke pesantren di Tasikmalaya, dekat dengan tempat tinggal neneknya. Sementara Aldi dan Sania tetap melanjutkan di Jakarta, pada salah satu SMA negeri. Demikian pula tiga anggota kajian yang lain, Mita, Soraya dan Bagas.
“Perpisahan adalah sunnatullah sebagai pasangan dari pertemuan. Bukankah Allah berfirman, bahwa semua diciptakan berpasangan? Jadi jangan pernah menyalahkan pertemuan kemudian menyesalkan perpisahan. Tidak ada yang abadi di dunia, yang kekal hanya negeri akhirat. Maka pesan Mas Lukman, utamakan akhirat lebih dari dunia. Yakinlah janji kebahagiaan dunia akan ditunaikan oleh Alloh SWT.” Perkataan Mas Lukman mengembangkan senyuman di wajah mereka.
“Kalian masih ingat nggak, materi tentang beli kambing dapat tali, beli tali nggak dapat kambing?” Aku melempar pertanyaan untuk memecahkan kekakuan yang tidak nyaman ini.
“Ingat dong, Kak Mutia. Kalau kita kejar akhirat, dunia akan dapat. Kalau kita kejar dunia, akhirat bisa melayang.” Bagas menjawab cepat. Meskipun dia termasuk anggota baru, daya tangkap dan kepahamannya tidak kalah dengan yang lain.
Dimas dan Mutia banyak terdiam, mungkin diantara bertujuh, dua remaja ini paling berat untuk saling berpisah.

Kalau boleh aku membahasakan suasana hati mereka, mungkin rangkaian kata yang tepat ada dalam puisi yang bermain di hatiku saat ini.

Terimakasih Denia

Bertemu kamu adalah anugerah
Mengantarku pada sosok pembawa cahaya dan juga hujan
Saat gersang matahari menerpa kerontang jiwaku

Tiada yang lebih berharga
Melebihi cinta yang kau titipkan
Hingga cahaya itu menyinari hatiku
Menghiasi cinta menjadi rasa sarat makna

Jika ada namamu dan namaku tertambat di sana
Qadarullah akan berbicara
Kuberserah sepenuhnya
Biar semua indah pada waktu-Nya

Jagalah dirimu dalam bingkai cinta ilahiah
Juga aku berjanji, menahan diri dari syahwat duniawi
Tetap menggenggam hidayah menyatu dalam tiapa langkah
Juga napas yang terhembus hingga saatnya pupus

Lalu Denia menjawab dalan satu kilatan tatap mata yang tertahan. Lisan yang terkatup itu, membiarkan hatinya bertutur.

Wasyukru Lillah

Setiap detik bergulir
Bukan lantaran aku
Hamba yang terlalu lemah
Tapi atas kehendakNya
Karena kasih pada kita, hamba-Nya

Waktu terlalu kuasa untuk bicara
Aku pun berharap keindahan itu berpihak pada kita
Namun bila tiada namaku di sisimu
Biarlah iman yang memulas ikhlas

Akan kulepas segala tali
Kecuali ikatan keyakinan yang suci
Bukan hakku istimewa di hatimu
Biar kesucian ini menemukan cinta-Nya
Maafkan aku yang juga membebaskanmu
Untuk setia hanya pada kehendak-Nya

Tetap akan ku jaga hati ini
Bahwa ia akan tertambat pada nama yang terukir
Dalam suratan-Nya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IMPIAN PENUH KENANGAN

IMPIAN PENUH KENANGAN  Oleh: Farel Kemenangan Tim Bulutangkis SMPN III di tingkat provinsi tahun lalu memberikan semangat yang tak perna...