Kamis, 18 Oktober 2018

Seri Kisah Denia-Kisah ke-7

Kisah Ke-7KENANGAN BERSAMA BUNDA

Hari yang mendebarkan telah berlalu. Kami berhasil mengelabuhi Tante Delima dan Om Gentong yang ingin membongkar penyamaran Denia. Berawal dari pertemuan Ummi Albi dengan Tante Delima. Tante Delima ngotot menuduh Ummi Albi sebagai penculik Denia.
“Kamu yang menculik anakku, ya! “ Tuduh Tante Delima.
            “Maaf, Bu. Jangan asal menuduh. ya! Apa alasan Ibu menuduh saya seperti itu?”
“Ini pelat motor yang saya catat tempo hari. Motor ini yang dipakai membonceng anak saya.”
“Dengan menulis pelat motor seperti ini bukan berarti tuduhan anda benar. Bisa saja Ibu menulis pelat ini barusan dan menuduh saya yang tidak-tidak. Saya tidak punya waktu menanggapi tuduhan yang nggak penting ini!” Ummi Albi marah mendapat tuduhan itu tiba-tiba.
Seseorang bertubuh tambun, legam dan bertato membelalakkan mata seolah ingin menerkan Ummi Albi.
Aku tertegun hampir tak percaya akan melihat Tante Delima di hadapanku. Aku segera memasang masker mukaku. Takut wajahku dikenalinya.
            “Aku tidak terima dengan tuduhan ini. Aku bisa lapor ke polisi dengan aduan pencemaran nama baik.” Ummi Albi cukup punya nyali menghadapi dua orang asing di depannya. Ya, karena Ummi Albi tidak bersalah.
Mendengar ancaman itu mereka agak ciut juga rupanya. Mereka pergi menjauhi kami. Menaiki sepeda motor yang mereka parker tak jauh dari pasar tempat kami belanja.
“Wah, gawat kalau mereka terus membuntuti kami.” Batinku. Sampai saat ini aku belum berterus terang dengan Ummi Albi tentang siapa sebenarnya Denia.
Malam harinya Ummi Albi menemuiku di paviliun menanyakan siapa sebenarnya Denia. Tidak ada jalan lain. Aku harus terus terang. Tak peduli Ummi Albi akan memarahiku dan mengusir kami.
Alhamdulillah persaudaraan seiman ini begitu indah. Ummi Albi sanggup membantu kepindahanku dari paviliunnya. Sebagai bentuk permintaan maaf dan penyesalanku atas segala risiko mengambil Adenia dari jalanan, aku memesan pelat khusus. Agak mahal memang. Tapi demi orang-orang yang kucintai tak mengapa.
Pengorbanan dan perjuanganku, membuat Denia berkali-kali mengucapkan terima kasih. Bahkan seminggu setelah kejadian itu, Denia masih saja mengungkap rasa hutang budinya
Langkah kedua, kami segera mencari tempat indekos baru. Dengan bantuan Ummi Albi juga, kami cepat mendapatkannya.
“Mutia, bukannya aku mengusir kalian, tapi dua hari ini ada orang asing. Yang aku rasa mereka mengawasi rumah ini. Untuk keselamatan kamu dan Denia, sebaiknya kalian pindah dulu. Aku akan mengembalikan setengah dari uang yang telah kalian bayarkan. Dan sampai perhitungan enam bulan kalian masih bisa memakainya. Atau kalau kalian menawarkan paviliun itu untuk orang lain juga boleh. Sampai enam bulan ke depan, transaksi pembayarannya bisa langsung ke kamu, Mutia.”
“Terimakasih, Ummi baik sekali. Mohon maaf bila kehadiran kami sudah meresahkan.”
Aku harus merogoh kocek lagi mencari kontrakan baru. Beruntung usaha jualan setelan baju syar’i dan pernak- perniknya makin berkembang. Lumayan buat menambah uang kiriman ayah buat kuliah.“
Kami memperoleh paviliun yang lebih besar dan nyaman., Alhamdulillah. Denia berulang kali mengucap permintaan maaf. Baru sebulan lalu aku mengeluarkan uang tiga juta untuk sewa paviliun, sekarang aku harus membayar tiga setengah juta. Denia tahu persis pengorbananku itu.
Beruntung Ummi Albi mengembalikan satu setengah juta. Beberapa pemilik pavilion tidak akan mengeluarkan uang yang telah diterimanya sebagai kesepakatan sewa satu tahun.
“Denia, sudahlah, ini sudah menjadi kewajiban Kak Mutia sebagai pengganti orang tuamu.”
Mendengar perkataanku itu, Denia terisak.,” Kak Mutia benar, janji Kakak saat membawaku bertemu dengan orang-orang baik, benar-benar kualami. Ummi Albi juga sangat baik sebaik ibuku.”
Setahun kebersamaanku dengan Denia, seolah membenamkan semua kepahitan berada di jalanan. Ada yang berkelebat dalam benaknya, kenangan bersama orang tuanya, terutama ibunya yang amat penyayang.
***
“Kak, ini foto keluarga kami yang masih tersisa.” Denia menunjukkan foto keluarga yang makin using, foto itu dibawa dimana juga Denia berada. Warnanya sudah mulai berubah. Memudar. Ada empat sosok di foto itu.
“Ini yang pakai kerudung biru pasti ibu kamu.”
“Benar, Kak.”
Satu persatu Denia memperkenalkan anggota keluarganya. Ayahnya bernama Pak Kasim. Punya watak yang keras, berwibawa dan ditakuti anak-anaknya. Ibunya bernama Wulansari, sosok yang lembut, keibuan dan penyayang. Dari sinar mata dan pancaran di wajahnya, terlihat kesabaran . Ketaatan ibadah.  Kakaknya bernama Arul. Dulu Arul penyayang dan pandai mengasuh Denia. Berbagai cobaan hidup yang berat dan bertubi-tubi membuat Arul kehilangan kepribadian baiknya.

***
Ibuku sangat penyabar, selama aku bersama ibu, beliau nggak pernah marah.Kalaupun marah hanya dengan wajah yang masam, tanpa kata-kata.
Waktu itu, pertama kali aku bisa mengingat sesuatu. Peristiwa paling berkesan. Mungkin masuk usia lima tahun. Aku memakai rok yang ibu jahit dari bekas celana ayah. Sepupuku, Mirzal membuli aku lantaran rok itu, dia tahu bekas celana ayah.
            “Kasihan banget kamu ya, rok aja pakai bekas celana ayah kamu. Sungguh terlalu membeli baju pun tak mampu.”
Kesal dengan ledekannya. Aku tantang dia berkelahi, meskipun dia laki-laki. Kami bertempur seperti pegulat. Bergulingan di atas jerami padi. Tak sengaja mata kami tercolok jerami. Rasanya perih sekali. Kami menangis bersama keras-keras.

“Ya, Allah, ada apa ini, Denia, Mirzal!” Ibu paling cepat kalau mendengar suara tangisan. Siapapun yang menangis. Dia akan segera menghibur atau menolong kami sampai tangisan itu reda.
“Ini, Bu, Mirzal yang mulai duluan.”
“Bukan Bi, Denia yang memukul aku duluan.” Mirzal membela diri
Ibu segera membopong kami berdua, mencari mainan atau pergi ke warung supaya kami melupakan segala masalah kami.
Terlalu banyak kenangan indah bersama ibuku. Sampai bencana itu melanda kampung kami.
Sejak hutan di sebuah bukit tepat di atas kampung kami, kehilangan pohon-pohon hijaunya. Awalnya kami tidak terlalu peduli dengan perubahan itu. Tapi lama-lama air di sumur kami mengering.
“Denia, bantu ibu mencari air, ya? Sumur kita sudah makin dalam lebih sulit menimba dari pada mengambil di saluran irigasi kampung sebelah.”
“Kok bisa kering kenapa, ya,Bu?” Aku bertanya polos
“Mungkin karena musim kemarau dan hutan di bukit ini sudah mulai gundul.”
“Gundul? Mirip kepala Kak Arul ya?” Aku tertawa sambil menunjuk kepala Kak Arul yang dibotak ayah karena kenakalannya..
“Jangan ngeledek kamu, Denia. Ntar kamu yang dibotak ayah bakal tahu rasa!” Yang aku goda melotot tambah lucu.
“Sudah, ayo kita berangkat. Kalau nggak ada air bersih, kita nggak bisa minum, mandi,kan?” kami menuruti ajakan lembut ibu dengan suka cita.
Masyarakat makin resah dengan kekeringan itu. Entah apa yang mereka lakukan, aku tidak tahu. Yang jelas ayah pergi ke bukit itu. Katanya ada pengusaha kayu yang menghabisi pohon.
Ibu yang selalu menenangkan ayah kalau kemarahannya sudah meledak.
“Enak saja mereka membabat hutan tempat kita tinggal. Mereka jauh datang kemari, mengambil kayu. Bukit yang gundul itu penyebab kita kesusahan air. Kalau hujan besar datang, risiko longsor sangat besar. Kita yang akan jadi korban tumbal keserakahan mereka.”

“Ayah, sudahlah, jangan terlalu merisaukan hal yang belum terjadi. Bukankah Allah Maha Melindung?” Ibu menenangkan ayah.
“Mereka itu sudah berbuat zalim, harus dicegah. Uang tutup mulut ini tak ada gunanya. Bukan aku tidak percaya pada perlindungan-Nya. Tapi Allah juga menilai siapa yang mau memperjuangkan keadilan, kebenaran dan mencegah kerusakan yang mereka perbuat!” Ayah meninggalkan kami, aku terbengong-bengong dengan apa yang tak begitu aku mengerti.
Hingga peristiwa pilu itu terjadi. Aku dan Kak Arul pergi ke sekolah. Hujan mengguyur perbukitan dua hari lamanya. Tiba-tiba suara keras terdengar. Tanah bukit gundul itu bergesr menimpa sebagian kampung kami. Termasuk rumah kami. Tidak ada yang tersisa selain kenangan indah waktu ibu dan ayah masih ada.

****
Isak tangis mengakhiri cerita Denia. Aku memeluknya erat. “Tenang Denia. Insya Allah ayah dan ibu kamu khusnul khatimah. Sekarang ada Kak Mutia, ada Ummi Albi yang turut menyayangimu. Meskipun tidak sesempurna ibumu, anggap kami sebagai penggantinya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IMPIAN PENUH KENANGAN

IMPIAN PENUH KENANGAN  Oleh: Farel Kemenangan Tim Bulutangkis SMPN III di tingkat provinsi tahun lalu memberikan semangat yang tak perna...