Kamis, 18 Oktober 2018

Seri Kisah Denia-Kisah ke-5

Kisah Ke-5
TERIMA KASIH CINTA

Bahagianya menyaksikan keberhasilan usaha keluarga Adenia. Kesibukannya membuka usaha kecil kue kering dan packing snack menembus pasaran tanah air. Bahkan belakangan dengan memanfaatkan applikasi jual beli online, sudah ada pesanan dari manca negara.
Tidak terasa usaha itu sudah memasuki tahun kelima. Berbekal coba-coba resep bersamaku selama lima belas tahun kebersamaan kami. Aku tidak pernah menyangka keterampilan Denia akan mengantarkannya memiliki usaha sebesar ini. Yang membuat aku bangga dia memakai namaku sebagai brand usahanya, Mutiara Rasa dan Mutiara Snack. Cara berterima kasih yang berlebihan menurutku.
Karyawan usaha kecilnya sudah lebih dari lima puluh orang, Denia dan Bagas sudah bisa melepas usaha pada manager yang mereka tunjuk. Mereka sudah bisa lebih santai dan hanya mengawasi kerja-kerja karyawannya.
Kehausan akan ilmu, membuat Bagas berniat melanjutkan studi ke luar negeri. Alasannya untuk memperdalam ilmu networking dan internet marketing.

***

“Denia, kamu nggak khawatir dengan sifat labil suamimu?” Aku bertanya hati-hati. Tidak ingin menyinggung perasaannya. Atau membuatnya sedih.
“Maksud, Kak Muti?” Denia bertanya polos. Adikku yang satu ini memang selalu berbaik sangka dengan siapapun. Aku merasa beruntung menemukannya saat itu.
“Kamu tentu masih ingat saat putus asa melanda dirinya. Lalu dia menyakitimu dengan berbagai macam ulah.”
Denia terdiam, aku menangkap tatap penyesalan telah bercerita tentang keburukan suaminya padaku. Aku tahu sebenarnya dia tidak mau bercerita tentang suaminya. Waktu itu dia bercerita karena ingin meyakinkanku bahwa resign adalah keputusan yang wajib diambilnya demi menyelamatkan rumah tangga.
“Kamu tidak perlu menyesal menceritakan keadaan suamimu waktu itu. Kak Mutia juga tidak ada niatan buruk dengan pertanyaan tadi. Maksud Kakak, apakah kamu tidak ingin menemani suamimu ke luar negeri? Berat buat seorang pria yang sudah berumah tangga tinggal sendirian. Mas Lukman punya pengalaman cukup pahit selama kami tidak tinggal serumah. Apalagi jauh di seberang sana.” Aku mencoba memupus penyesalan di wajahnya.
“Aku juga punya perasaan khawatir itu, Kak. Tapi kami berusaha saling percaya. Mas Bagas sudah lebih matang sekarang. Terutama setelah anak pertama kami lahir. Kehadiran Albiruni benar-benar memunculkan sifat kebapakannya.”
Aku benghela napas lega dengan jawaban Denia nampaknya rumah tangganya makin harmonis. ”Bagaimanapun kehadiranmu di sisinya akan sangat membahagiakan.”
“Untuk pendidikan Mas Bagas, kami butuh banyak biaya. Semua bertumpu pada hasil usaha kami. Lantas kalau aku ikut Mas Bagas, bagaimana roda perusahaan ini?”
“Kalau begitu kamu harus pandai-pandai membahagiakan suamimu meski jarak kalian jauh. Bersedialah tiap dia butuh kamu. Jangan sampai Bagas memenuhi hajatnya pada yang tidak halal. Kamu tahu sendiri kehidupan di Eropa begitu bebas. Aurat begitu mudah diumbar pada siapa saja. Apalagi Bagas punya paras oriental. Wanita-wanita di sana sangat menyukai tipikal ini.”
“Terimakasih, Kak Mutia, untuk kepedulian dan ingatannya. Aku akan selalu mengingat dan menjalankan nasihat Kakak.“
Aku memberikan nomor teman-temanku ketika berada di Jerman. Maksudku supaya Bagas bergabung dengan komunitas yang baik dan bisa saling menguatkan. Denia tersenyum bahagia dengan informasi yang aku bagikan.
“Kak, jangan terlalu khawatir. Insya Allah semua akan baik-baik saja. Supaya Kak Mutia tenang akan aku forward email dari Mas Bagas, ya?”
***
            Sejak Denia berjanji mengirimiku email dari bagas, hampir tiap hari aku membaca email –email yang membuatku iri. Begitu sayangnya Bagas pada Denia. Ah, bukan berarti Mas Lukman kurang menyayangiku. Tapi, mungkin caranya yang berbeda. Bagas mencintai Denia dengan diksi yang teramat indah. Sedangkan aku sangat tergila-gila dengan sastra. Suatu saat ingin rasanya aku mendapat untaian kata seperti ini.
Satu email yang terlalu indah buat belahan jiwa dari seseorang yang amat mencinta
Sudut sunyi asmaraku, Berlin, 11 Desember 2017

Assalamu’alaikum, Denia. Salam sayang dan cinta ini adalah sapaan teragung yang diajarkan rasul kita. Doa keselamatan bukan hanya di dunia ini tapi juga untuk pertemuan kita di syurgaNya.
Apa kabar, cinta? Saat aku rindu, berulang kubaca email darimu, hatiku makin biru. Sengaja disini aku lukis wajahmu di langit kamarku, bahkan dalam benak dan alam bawah sadarku. Waktu terus berlalu, jarak pemisah masih terbentang diantara kita.
Kemarin aku bertemu dengan kawan kuliah kita. Kamu masih ingat Hasna? Dia bercerita bahwa dia masih sendiri. Saputan lara hati nyata di wajahnya. Aku tak bermaksud membuka hati menerima curhatnya. Aku bisa menjaga diri untuk tidak menempatkan wanita lain di hatiku, Denia. Makanya aku ceritakan peristiwa ini. Aku tak ingin ada rahasia di antara kita.
Denia, terus terang berat untuk jauh darimu. Ternyata meraih kesempatan, tak semudah kusangka. Kadang di sini aku merasa sepi. Sementara kamu harus terus memutar roda usaha, membesarkan Albiruni. Kirimkan doa untukku, semoga Allah berkenan memberi kita kekuatan.
Jangan matikan wa-mu malam ini Denia. Aku ingin melepas rindu, kita video call-an, sayang. Aku ingin melihat Albiruni dan mendoakannya saat dia tidur lelap. Juga kandunganmu yang membesar. Aku ingin kau jaga tumbuhan cinta yang di ladang kita.💞
Aku jauh di sini menggapai cita-citaku juga cita-cita kita. Hingga satu saat aku akan kembali. Akan kujemput kamu di tanah air dan kita akan bersama disini suatu saat nanti.
Wassalamu’alaikum, Denia.
            Sepenuh kasih aku susun huruf-huruf ini.
            Agar kau percaya.

Aku tutup emailku, aku bayangkan jawaban Denia untuk Bagas menari sendiri dalam benakku.  Lalu hari berikutnya email dari Denia kubaca, ternyata balasan untuk Bagas pun dia forward untuku.  Sungguh aku merasa mendapat penghormatan untuk kesekian kalinya

Kamar indah kita, Jakarta, 11 Desember 2017

Waalaikum salam, Mas Bagas.
Salam penuh cinta, pengikat hamba menuju ridho-Nya.
Terimakasih untuk segenap ketulusan cintamu. Aku di sini juga merindumu. Kebersamaan kita adalah hal yang terindah. Namun kerelaan kita pada takdir perpisahan ini juga indah. Bukankah seseorang yang berjalan menuntut ilmu itu sesungguhnya dia sedang berada di jalan Allah hingga dia pulang kembali?
Mas Bagas, di tiap tarikan napasku, selalu ada doa untukmu. Semoga kita terhindar dari godaan yang menyebabkan kemurkaan-Nya. Semoga perlindungan, petunjuk, keselamatan dan pemeliharaan Allah selalu mengiringi langkah kita.
Biarlah kerinduan menjadi bukti cinta, memperindah rasa hati dan memupuk kasih. Saling percaya adalah penjaganya. Semua amanah Mas Bagas aku jaga sepenuhnya, Albiruni dan juga buah hati kedua, benih yang kau tanam di ladang kita.
Tentang Hasna, aku ingin sekali bisa kontak lagi dengannya. Dia itu teman terbaikku masa kuliah dulu. Mas Bagas tahu sendiri aku kehilangan kontak semua kawan kita saat pencurian tasku saat kunjungan ke panti asuhan. Saat itu kita diajak Kak Mutia merayakan ulang tahun pernikahannya dengan Mas Lukman.
Jangan meragukan kesetiaanku, Mas. Juga jangan ragu bahwa aku percaya Mas Bagas sepenuhnya. Semua rasa itu akan menjadi penguat cinta kita, sayang. Juga ibadah kita pada-Nya. Makin dekat kita dengan Pencipta maka Ia akan mendekatkan cinta kita.
Aku tidak pernah mematikan wa-mas. Mungkin jarak yang jauh dan kualitas sinyal menjadi penyebab kesulitan kontak wa kita. Aku siap menjadi putri malam ini. Biru biasa tidur jam sebelas setelah lelah bermain. Kita bisa video call jam dua belas, mungkin di Berlin baru jam tujuh petang. Atau terserah Mas Bagas kapan juga Mas Bagas mau. Kita jadikan malam Jum’at ini ibadah indah kita, Ya Mas. Ibadah cinta.
Menjadi doa tulusku suatu saat kau hadir disini. Sentuhan kasihmu, meraihku tanganku, membawa kita pergi bersama.
Wassalam, Kasih…….
Dengan kerinduan yang dalam
Agar kita dipersatukan kembali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IMPIAN PENUH KENANGAN

IMPIAN PENUH KENANGAN  Oleh: Farel Kemenangan Tim Bulutangkis SMPN III di tingkat provinsi tahun lalu memberikan semangat yang tak perna...