Kisah Ke-4
“Denia, ayo masuk!” Aku menuntun tangan Denia memasuki paviliun tempat kosku.
Langkahnya satu-satu, ragu. Matanya berkeliling menyapu detail sudut halaman rumah ibu kosku, juga teras paviliun ini. “Jangan takut Denia, di sini kamu akan bertemu dengan orang-orang baik. Kak Mutia janji.” Aku kembali menatap matanya.
“Kak Mutia nggak takut dengan ancaman Tante Delima?” Denia menatapku khawatir
“Kenapa harus takut. Jakarta ini luas sayang, Kakak punya cara supaya mereka nggak ngenalin kamu. Sekarang kita salat Isya bersama, kita akan bertemu ibu kos. Supaya keberadaan kamu diterima.”
Denia belum bisa gerakan dan bacaan salat dengan baik. Aku memintanya untuk mengikuti gerakanku. Esok atau lusa aku harus membimbingnya.
“Denia, Kakak akan bilang ke ibu kos kalau Kakak mengambilmu dari panti asuhan. Maksud Kakak supaya beliau nggak cemas dengan segala resiko seperti ancaman Tante Delima.”
Malam ini aku menemui ibu kos. Tentu saja setelah mengubah dandanan Denia dan mengganti pakaianku. Pakaian saat aku membawa pergi Denia tak akan aku pakai untuk sementara sampai semua terasa aman. Terus terang kekhawatiran dibuntuti orang-orang Tante Delima acap kali singgah dalam benakku.
Alhamdulillah, Ummi Albi memaklumi segala rencanaku. Semoga kebohongan ini tidak dinilai dosa di sisi-Nya. Aku akan menceritakan hal yang sebenarnya saat semua bisa dipastikan aman. Waktu yang akan menjawabnya.
Jarum pendek jam dinding menunjukkan angka delapan, jarum panjangnya ada di angka enam. Aku sambangi isi dompetku masih ada empat lembar kertas warna merah. Harus cukup untuk aku dan Denia hingga bulan depan, dua minggu lagi. Malam ini aku harus bergerak cepat memulai penyamaran Denia.
“Denia, Kakak akan keluar rumah sekarang. Kamu tinggal di sini, ya. Kalau ada yang mengetok pintu jangan kau buka. Tidurlah dengan nyenyak, Kakak akan segera pulang. Nggak akan sampai jam sepuluh malam.”
“Kakak jangan tinggalkan Denia. Aku nggak punya siapa-siapa di sini.” Tatapan Denia kosong. Sorot mata itu memendam begitu banyak misteri buatku. “Izinkan aku bila sampai masanya mengurai apa yang tersimpan pada sorot matamu itu, Denia. Tentang perjalanan dan pahitnya hidup yang kau alami.” Aku membatin.
Berkelebat bayangan Denia yang akan tumbuh dewasa, cantik, penuh masa depan cerah. Bayangan indah itu terus mencumbuiku, tentang kasih sayang yang Allah anugerahkan pada kami berdua untuk memperbaiki masa depan. Ternyata cinta bukan sebatas syahwat. Aku menikmati cinta yang berbeda ini. Tidak seperti saat aku jatuh cinta pada lawan jenis di SMP atau SMA beberapa tahun lalu. Menyisakan pedih kecewa dan patah hati.
Harapan indah itu terus menari bak balerina di ruang imajinasiku. Mengaji untuk mencari kepahaman iman, belajar membuka wawasan , mengantarkan Denia mencari tempat belajar untuk jenjang pendidikannya. Aku belai rambutnya yang hitam pekat.
“Tenang, Sayang! Kak Mutia akan kembali. Tidurlah! Esok saat kau bangun, ada kejutan indah untukmu.” Aku memeluk erat Denia penuh kasih. Pelukan untuk meyakinkan ketulusanku, bahwa aku tetap akan menjadi kakaknya. Bahwa aku tidak akan meninggalkannya terlunta.
Aku keluar dari pavilliun menuju kawan kajianku untuk penyamaran Denia besok.
***
Pagi itu menjelang salat subuh, aku bangunkan Denia. Bingkisan ini sudah aku siapkan. Buatku, bingkisan ini lebih indah dari sekuntum mawar merah seorang kekasih. Bingkisan ini akan menyempurnakan penyamaran Denia. Menjaga Denia dari pandangan nakal penikmat gadis belia. Sekaligus menyelamatkannya dari pencarian Tante Delima dan kawanannya
***
Pagi itu menjelang salat subuh, aku bangunkan Denia. Bingkisan ini sudah aku siapkan. Buatku, bingkisan ini lebih indah dari sekuntum mawar merah seorang kekasih. Bingkisan ini akan menyempurnakan penyamaran Denia. Menjaga Denia dari pandangan nakal penikmat gadis belia. Sekaligus menyelamatkannya dari pencarian Tante Delima dan kawanannya
“Denia, hari ini Kak Mutia akan mengajakmu jalan-jalan, mencari kebutuhan kita.”
“Tapi, Kak, aku belum berani keluar. Mereka akan mengenaliku.”
“Kakak sudah menyiapakn penyamaran buat kamu. Bukan hanya itu, usiamu yang sudah sebelas tahun, sudah masuk dalam usia baligh menurut agama kita. Lagi pula kamu sudah mengalami haid. Jadi hukumnya wajib buat menutup aurat.”
“Aurat itu apa, Kak?”
Aku agak kesulitan menjelaskan detail hal ini pada Denia. Aku ambil buku fikih muslimah. Kubacakan bab tentang aurat.
“Aurat itu adalah bagian yang harus ditutup oleh seseorang yang telah memasuki usia baligh.”
“Baligh itu apa, Kak?” Denia menyimpan banyak rasa ingin tahu. Aku makin iba, betapa terabaikannya pendidikan Denia.
“Baligh itu telah mengalami haid bagi perempuan atau masuk usia sembilan tahun. Untuk laki-laki mengalami mimpi berhubungan dan keluar mani atau usianya masuk lima belas tahun.”
“Terus mani itu apa?” Denia terus mengajukan pertanyaan sebelum aku menyempurnakan jawabanku.
Aku cubit pipinya gemas. “Denia, kalau kamu terus bertanya segala hal yang kamu belum tahu, mungkin penjelasan Kak Mutia tentang aurat nggak akan pernah selesai. Nanti kamu bisa bergabung dengan anak-anak ngaji bakda maghrib di masjid kompleks ini.”
Aku melanjutkan penjelasanku tentang aurat. Denia cepat mengerti. Alhamdulillah, Dia gadis kecil yang cukup cerdas.
“Jadi kalau ada yang bukan muhrim aku hanya boleh menampakkan muka dan telapak tangan. Kalau salat hanya boleh tampak muka. Kalau sama muhrim boleh menampakkan bagian selain bagian adri dada sampai lutut?” Denadia menyimpulkan penjelasanku.
“Betul sekali. Pintar kamu.”
“Kalau boleh nebak, bingkisan ini pasti baju seperti yang Kak Mutia pakai.” Senyum lebar dan merekah itu menampakkan kebahagiaan yang seolah baru kali ini dia rasakan.
“Terimakasih, Kak Mutia. Selama ini banyak yang suka menggoda aku. Ketika aku memakai pakaian terbuka seperti yang diberikan Tante Delima. Rasa risih itu ada. Bahkan aku nggak terima perlakuan mereka. Tapi aku tak bisa mendapatkan baju yang bisa melindungiku dari godaan tangan nakal mereka.”
Denia segera membuka bingkisan itu. Tiga pasang baju syar’i lengkap.
Denia terbelalak dan memelukku erat. ”Maafin Denia ngebebanin Kak Mutia. Ini pasti mahal.” Butiran bening menetes di punggungku.
“Jangan menangis Denia. Awalnya Kak Mutia mau beli di teman Kakak. Diluar dugaan malah dihadiahkannya begitu Kakak cerita baju-baju ini buat kamu. Bersyukurlah. Ini rejeki dari Allah. Kami hanya perantara saja. Denia harus membalas kasih Tuhan ini.”
Denia melepas pelukannya, mengusap air mata dan mencoba memakai baju baru itu.
“Kak Mutia, izin ke kamar mandi, ya?”
“Memang kenapa?” Tanyaku menguji Denia.
“Kata Kak Mutia, ada batas aurat antara sesama wanita?”
Aku tersenyum dan mengangkat ibu jariku. Kamu akan tumbuh menjadi muslimah yang salihah, Denia. Bayangan masa depan kembali berkelebat indah. Denia, take and hold my hand we will raise the light.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar