Kamis, 18 Oktober 2018

Seri Kisah Denia, Kisah Ke-6

Kisah Ke-6
CINTA PERTAMA DENIA

“Denia, kamu kenapa membawa teman laki-laki kamu kemari?” Aku kecewa dengan sikap Denia yang membawa teman-teman SMP-nya tanpa seizinku.
Memasuki usia pubertas, Denia justru menjadi labil. Rasanya makin sulit mengatur Denia. Berbeda dengan empat tahun awal aku mengasuh dan mendidiknya. Denia masih polos dan penurut.
“Kak, mereka sangat berarti buat Denia. Kita emang bergiliran tempat untuk mengerjakan tugas kelompak. Maaf Denia nggak minta izin dulu. Mereka tiba-tiba datangnya.” Denia menanggapi pertanyaanku datar.
“Bukan kerja kelompoknya yang Kak Mutia permasalahkan. Kak Mutia tidak nyaman dengan sikap mereka yang kurang memahami sopan santun. Bicara keras, bercanda laki perempuan tanpa batas rasa malu.” Aku bicara panjang lebar. Bukan permintaan maaf yang aku dengar dari Denia. Ia justru pergi meninggalkanku di ruang tamu sendirian.
“Denia, Kakak belum selesai bicara. Kamu berhijab harusnya kamu malu ………..” Nasihatku terhenti. Percuma Denia telah memasuki kamarnya. Aku hampir tidak bisa menahan marah. Tapi kukendalikan sekuat batinku. Khawatir keluar kata hardikan. Sedangkan Denia anak yatim piatu yang Allah kirimkan sebagai ladang amal buatku.
Seminggu, dua minggu, keributanku dengan Denia reda. Teman sekelasnya tidak lagi bertandang ke rumahku. Aku cukup lega dan berani meninggalkannya sendiri di rumah.
“Denia, Kak Mutia ada undangan ke rumah Om Burhan. Ada syukuran selesainya kuliah Marisa. Kamu ikut, ya?”
“Maaf, Kak. Aku banyak tugas buat hari Senin. Pelajarannya agak berat, “jawab Denia ringan.
“Ya sudah, kalau kamu nggak ikut, baik-baik di rumah, ya. Jangan membukakan pintu untuk siapapun. Kakak pulang sekitar jam sebelas.” Waktu itu aku berangkat jam tujuh malam.
Namun lagi-lagi Denia mengkhianati kepercayaanku. Aku pulang jam sepuluh malam. Sejam lebih cepat dari apa yang kukatakan pada Denia. Betapa kagetnya aku, dua pasang remaja berada di ruang tamu. Mereka duduk berdekatan, sangat dekat. Yang membuatku mengurut dada, teman Denia yang bernama Dimas menggenggam tangan Denia. Ya Allah selamatkan denia dari kejahatan napsunya.
“Denia!” Aku memanggil Denia dengan teriakan marah, yang pasti ia sadari aku kecewa.
Mas Lukman menarik tanganku. Memberiku isyarat. Aku tahu itu isyarat untuk menahan diri. Kalau bukan karena Mas Lukman, entah pilihan kata apa yang akan kulontarkan untuk mereka berempat.
Kedua kalinya aku coba menahan diri. Segera kuputuskan untuk tidak memarahinya. Meski gemuruh ini tak tak bisa meninggalkan rasa hatiku. Aku kembali fokus, kebaikan dirinya, bukan egoku melampiaskan kemarahan. Juga menjaga hubungan Denia dengan kawan-kawannya. Aku pikir kalau sudah tiga kali Denia tetap tidak mengerti juga nasihatku, baru aku akan langsung bertindak.
Mereka segera menggeser posisi duduk. Denia hanya menunduk. Mas Lukman memulai perbincangan. Perbincangan ringan yang membuat suasana cair.
“Denia punya teman dekat rupanya. Sayangnya Mas nggak begitu kenal.  Boleh dong Mas Lukman tahu nama kalian?”
            Cowok yang duduk dekat Denia bernama Dimas. Penampilannya cuek, menurutku cenderung acak-acakan. Rambutnya gondrong, menutupi ketampanan wajahnya. Dia lebih mirip blasteran Arab atau India daripada orang betawi asli. Dari parasnya wajar kalau Denia jatuh cinta.
            Dua yang lain tidak terlalu menjadi perhatianku. Aku sudah memendam kekesalan yang membuatku enggan tahu lebih jauh.
“Seusia kalian memang keinginan untuk disayangi dan menyayangi lawan jenis kadang memberi sensasi rasa dan pengalaman yang berbeda. Semua itu fitrah penciptaan yang Allah anugerahkan. Ini suatu hal yang wajar. Adalah tidak wajar bila kalian menjatuhkan pilihan dan kecenderungan pada sesama jenis. Itu namanya kelainan atau penyimpangan yang harus segera dikembalikan pada fitrahnya.”
“Tapi bukan berarti kalian boleh melampiaskan keinginan bercinta itu dengan cara yang tidak pantas seperti ini,” tukasku tidak sabar
“Oh ya, Ummi bisa bikinkan mereka sekedar teh manis atau kopi susu teman ngobrol kita?” Mas Lukman menyuruhku membuat minuman. Ini adalah teguran halusnya yang sangat khas dan membuatku makin mencintainya. Tidak mau menegur langsung di depan orang lain yang membuatku malu. Aku segera membuatkan minum dan kembali duduk bersama mereka.
Aku kehilangan bagian diskusi dan memilih untuk menjadi pendengar yang baik.
“Nah, hubungan laki-laki perempuan yang bukan muhrim dalam Islam diatur dengan sangat indah. Semua untuk menyelamatkan kita dari kehinaan. Mas harap kalian berteman, bergaul untuk hal-hal yang positif bukan yang menjurus pada perzinahan. Zina mata, zina pikiran, zina hati yang ujung-ujungnya zina yang paling hina.”
“Jangan sampai hamil di luar nikah membuat kalian kehilangan masa depan.  Kehilangan nama baik diri dan keluarga. Coba berkaca pada mereka yang terpaksa menikah karena hamil duluan.” Aku bicara denganlebih pelan dan mengimbangi cara bicara Mas Lukman.
“Ada aturan yang jelas buat mereka yang bukan muhrim untuk tidak berdua-duaan. Bila sudah waktunya, hanya ada satu jenis hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram yaitu menikah. Bila belum bisa hendaklah berpuasa. Untuk menghindari fitnah ini pula kita diperintahkan menundukkan pandangan pada mereka yang bukan hak kita.”
“Sepertinya wawasan agama Mas Lukman cukup luas, ya? Terus terang aku jarang mendengar nasihat baik seperti ini. Rasanya adem ngedengerinnya.” Dimas merefleksikan kenyamanannya berbincang dengan suamiku. Mungkin karena Mas Lukman bicara dengan hati dan tulus mengharapkan kebaikan mereka. Tidak ada nada marah atau sorot mata menghakimi sedikitpun.
“Kalau Mas Lukman punya waktu, mau juga sering-sering diskusi dengan Mas Lukman.” Aldi, cowok putih bermata sipit menimpali.
Permasalahan ini belum sepenuhnya terurai. Tetapi aku sedikit lega, kehadiran Mas Lukman dapat mereka terima. Semoga bisa memberi warna indah pada usia remaja mereka.
Sejak kejadian itu, aku menjadi lebih protektif pada Denia. Aku ingin tahu kenapa sikapnya berubah begitu drastis. Saat Denia terlelap tidur, aku memeriksa laptop di kamarnya.
Hmmm, halaman akun facebook Denia masih terbuka. Aku membuka timeline Denia. Banyak postingan foto Dimas di sana. Pantas kalau Denia tertarik dan mulai jatuh cinta. Perhatian lebih dari Dimas pasti membuat Denia tersanjung. Denia tidak banyak memberi komentar hanya like di tiap postingan itu.
Aku beralih ke inbox dari Dimas.
“Tahukah kamu, di mataku kau yang tercantik
Tak sabar aku ingin berbisik, di telingamu.
Melepas segala resah, meyakinkanmu bahwa kamu cantik.
Denia cantik, bukan kuingin mengganggumu

Tapi apa arti merindu
Kalau di sini hanya menyisakan rasa tersiksa
Hanya sebatas rangkaian kata pada barisan huruf
dan layar kemayaan
Walau mentari terbit di utara, hatiku bahagia
Keterlanjuranku menambatkan nama dan wajahmu
Hatiku selalu merasa indah dan penuh cinta

Bila kau berkata ya, tanda hatimu terbuka untuk hadirku
Tentu saja akan kubalas dengan seisi jiwa
Tiada lagi yang menganggu kita

Sungguh kukatakan dengan kesungguhan
Aku sayang kamu karena cantikmu berhak aku cintai
Ingin ku berjalan menyusuri cinta kita bersama
Cinta yang abadi untukmu selamanya”

Puisi ini yang rupanya telah merasuki hati Denia. Kata-katanya seakan mengandung kekuatan magis. Pantaslah Denia teperdaya.
Mengetahui kenyataan ini membuat hatiku makin berat. Tergelayuti beban yang belum terbayangkan sebelumnya.  Semoga pertemuan mereka dengan Mas Lukman malam itu dan selanjutnya akan merubah gulana menjadi cahaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IMPIAN PENUH KENANGAN

IMPIAN PENUH KENANGAN  Oleh: Farel Kemenangan Tim Bulutangkis SMPN III di tingkat provinsi tahun lalu memberikan semangat yang tak perna...