Kamis, 18 Oktober 2018

Seri Kisah Denia-Kisah ke-3

Kisah Ke-3

Aku tak pernah mendesaknya bercerita. Terus terang aku tak ingin membangkitkan kesedihan yang dipendamnya. Meskipun aku sangat ingin tahu. Berharap melarutkan bahkan menghanyutkan duka dari sorot matanya. Biar terbawa putaran detik waktu dan menjelma binar-binar bahagia.
Baru malam ini, di malam Ahad yang santai. Di paviliun kos kami, ditemani dua cangkir kopi herbal, kue dan gorengan bikinan kami tadi sore. Bermula dari cerita kisah kecilku, Denia membalas dengan ceritanya. Tanpa kusadari ceritaku memancing keinginannya berkisah.
***
            “Denia, Arul, Bibi sudah nggak sanggup menanggung beban kebutuhan kalian! Hasil ngamen kalian sedikit sekali. Kalian masih malas-malasan, ya! Sudahlah kalian hidup saja di jalanan sama Om Tompel sana!” Bibi Munah menghardik Denia dan Arul.
“Bi, maafin kami. Sebenarnya hasil ngamen kami cukup banyak tapi kami hanya diberi seperempatnya sama Om Tompel.” Arul mencoba menjelaskan.
“Kamu ini pandai berdalih, Arul. Aku sudah Tanya ke Om Tompel. Kata dia, Cuma diambil seperempatnya, selebihnya buat kalian. Jangan belajar bohong, Arul!”
“Betul kata Kak Arul, Bi. Kami seharusnya membawa uang enampuluh ribu hari ini. Tapi Om Tompel mengambil empat puluh lima ribu dan kami hanya kebagian limabelas ribu.” Detail penjelasan Denia dibalas cubitan Bibi Munah.
“Kalian bersekongkol menipu aku, ya! Kalau sudah nggak nurut sama Bibi, kalian mau ikut siapa di dunia ini? Kalian nggak punya siapa-siapa lagi! Bentakan demi bentakan memekakkan telianga, membuat Arul dan Denia mengalah. Diam.
Sejak kedua orang tua Denia meninggal dalam sebuah bencana longsor, Denia dan Arul di bawah asuhan bibinya. Satu-satunya kerabat yang masih ada. Sangat disayangkan Bibi Munah bersikap kurang baik pada mereka berdua.
Yang lebih membuat mereka sedih, Denia dan Arul seolah dijadikan perahan oleh Bibi Munah. Seharian menjadi pengamen dan hasilnya digunakan untuk memanjakan anak-anak Bibi Munah. Ya, kisah Cinderela zaman now seakan terulang lagi.
Arul yang terbiasa dengan hardikan bibinya, tumbuh menjadi remaja yang keras dan tidak memiliki rasa kasih sayang. Termasuk pada Denia, adik semata wayangnya. Rasanya makin nganga luka itu..
“Denia, bersihkan sepatuku, besok hari Senin aku sekolah!” perintah Maruti kasar. Tidak ada pilihan lain. Denia menuruti segala keinginan Maruti. Kalau tidak, teriakan Maruti akan membuat Bibi Munah datang. Kiamat sebelum kiamat akan terjadi. Apalagi kalau bukan cacian dan hinaan.
Pernah rasa lelah begitu menindih sekujur tubuh Denia, setelah seharian mengamen. Denia baru memasuki usia delapan tahun. Usia yang harusnya penuh canda dan ceria masa bermain. Namun apa mau dikata. Teriakan Maruti yang ingin dibikinkan mie goreng memaksanya bangun dari lelap tidurnya.
“Denia, kamu mau ngeracunin aku, ya? Mienya bau sabun tahu? Nih, makan saja sama kamu!” Maruti meninggalkan Denia setelah menghentak kasar mangkuk mie goreng di atas meja di depannya.
Belum sempat rasa sedih hatinya tertata, Bibi Mubah mendatanginya dan menumpahkan cacian mengiris hati. Sembilu itu berkali-kali melukai hatinya.
“Denia, apa salah Maruti? Begitu sekali kau benci dia! Apa kamu iri dengan kebaikan nasibnya?” Pertanyaan yang membangkitkan luka itu dibiarkan lewat telinganya tanpa diendapkan dalam hati.
“Kalian harusnya bersyukur bisa tinggal di rumahku yang nyaman ini. Banyak anak-anak kaya kalian sudah hilang ditelan kehidupan di jalanan! Kalian datang kemari nggak bawa apa-apa selain baju yang melekat di badan. Sawah, tanah, rumah peninggalan orang tua kalian habis tertimpa longsor. Sepertinya aku salah mengambil kalian berdua kemari.” Orang yang seharusnya menjadi pengganti orang tua Denia itu menumpahkan segala kesah. Lebih dahsyat daripada bencana yang merenggut dua orang tuanya. Menyakitkan.
Air mata Denia kembali bercucuran. Malam itu ia dipaksa menghabiskan mie rasa sabun. Sesuatu yang tak pernah diduganya. Mungkin rasa kantuk saat mencuci mangkok membuatnya kurang bersih membilas. Atau Maruti sengaja menambahkan sabun pada mie goreng itu untuk menambah derita Denia. Entahlah.
Denia sedikit membenarkan perkataan Bibi Munah. Iri pada Maruti. Meskipun nampak jelas mereka berkecukupan, tetapi selalu saja berkeluh kesah dengan kehadiran Arul dan Denia. Denia menerima perlakuan Bibi Munah. Tapi ringkih hati merasakan dirinya dan Maruti bak bumi dan langit. Maruti adalah putri dengan kebutuhan yang selalu terpenuhi. Sedang dirinya adalah pembantu sekaligus perahan Bibi Munah untuk mengamen tiap hari bersama Arul.
Pernah suatu ketika ia ingin mengakhiri derita dengan berjalan pelan di rel kereta. Berharap kereta menyambar jiwanya. Pergi bersama luka yang makin dalam. Menelan rasa antara ada dan tiada. Ketidak berdayaan, rasa diri tanpa makna dan bukan siapa-siapa. Toh tidak akan ada yang merasa kehilangan dirinya. Arul yang hilang kasih sayang. Bibi Munah yang selalu kasar dan Maruti yang sombong menginjak harga dirinya. Lengkaplah sudah.
“Dik, kalau jalan di rel kereta api harus cepat. Sebentar lagi kereta akan lewat. Bisa bahaya. Ayo, Kakak tuntun.” Seorang perempuan berjilbab berseragam abu-abu putih mengembalikan kesadaran Denia.
Denia menuruti kata-kata gadis itu. Seseorang yang tulus menyapanya. Membelikan sebotol air putih kemasan dan sebungkus roti.
“Baik-baik, ya, Dik. Kakak harus berangkat sekarang, keretanya sudah datang, tuh. Semoga kita bisa ketemu lagi, ya?”
***
            Aku tersentak dengan cerita Denia. Aku ingat peristiwa itu empat tahun yang lalu. Akulah yang menuntun anak kecil itu. Akulah yang memberinya roti dan sebotol air putih. Aku juga yang berharap bisa ketemu lagi dengannya.
“Denia, kaukah anak kecil itu?” Aku menatapnya tak percaya.
“Jadi yang bersegam abu putih di stasiun itu, Kak Mutia?”
Malam ini kami tertawa lepas, sungguh Allah Maha Mendengar harapan hambaNya.
“Allah begitu sayang aku, ya, Kak. Sejak pertemuan itu aku selalu merindukannya datang menemani hari-hari aku yang penuh kesedihan. Sekarang harapan itu menjadi kenyataan.”
Denia kembali bertutur. Sempat dia mengingikan segala nikmat yang ada pada mereka yang beruntung. Termasuk juga aku yang bisa sekolah, berpenampilan bersih, rapih dan cantik.
Sampai akhirnya garis nasib ia terima sepenuhnya. Saat kepasrahan itu mencapai puncak, pertemuan kedua sore menjelang maghrib itu terjadi. Hingga detik malam ini. Kebahagiaan   
            Denia kebahagiaanku juga. Cerita Denia yang terluka mengantar lelap tidur kami bersama mimpi indah yang selalu kami nantikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IMPIAN PENUH KENANGAN

IMPIAN PENUH KENANGAN  Oleh: Farel Kemenangan Tim Bulutangkis SMPN III di tingkat provinsi tahun lalu memberikan semangat yang tak perna...