Kamis, 18 Oktober 2018

Seri Kisah Denia-Kisah ke-2

Kisah Ke-2
#SahabatKabolMenulis

Adenia tumbuh menjadi gadis yang taat. Bimbinganku padanya,  juga keputusan menitipkan Denia ke pesantren  tidak sia-sia. Lima belas tahun kebersamaan  itu, penuh kekariban dan cinta. Harapanku memiliki adik perempuan  yang diluluskan Allah SWT.
Sejak bersuami, ada satu yang membuatku merasa kehilangan. Adenia tak pernah bercerita tentang segala permasalahan dengan suaminya. Seperti ada yang ditutupinya. Aku memaklumi sepenuhnya karena aku selalu menasihatinya untuk menjadi istri yang baik. “ Istri adalah pakaian buat suami dan suami adalah pakaian buat istri. Fungsi pakaian adalah menutup aurat atau aib.”
Hingga suatu saat ketika semua telah baik-baik saja, Denia mau bercerita. Tentu karena ia tak ingin membebaniku dengan masalahnya.
***
Ketenangan rumah tangga Denia tiba-tiba terusik. Berawal dari PHK besar-besaran di perusahaan tekstil tempat Bagas bekerja.
“Mas, jangan berkata begitu. Rejeki aku adalah rejeki buat kita sekeluarga. Alhamdulillah yang terdampak krisis ini hanya perusahaan Mas. Aku masih bisa bekerja dan mencari nafkah.” Denia berusaha menghibur suaminya yang belum juga mampu menerima kenyataan.
“Oh, jadi kamu mensyukuri keadaanku yang di-PHK? Kamu bisa bilang begitu karena kamu perempuan. Posisiku sebagai kepala keluarga tidak sesederhana pikiran kamu.” Bagas makin menampakkan kegelisahan. Perkataannya sulit dipahami Denia, bahkan salat pun sudah mulai ditinggalkan Bagas.
Sebagai istri, sekian kali Denia selalu mencoba menenangkan hati Bagas. Tapi nihil. Kegelisahan Bagas makin keluar dari rasionalitas.
“Aku minta kamu buat berhenti kerja!” ucap Bagas tiba-tiba.
“Mas, aku nggak salah dengar,nih?”
“Ini keputusanku sebagai suami. Kepala rumah tangga yang harus menjadi nahkoda di rumah tangga ini!”
“Terus bagaimana dengan kebutuhan kita dan persiapan anak pertama kita?”
Rasa cemburu bila Denia melirik teman sekantornya. Rasa takut dibandingkan dengan orang lain. Rasa inferior di hadapan istri menjadi pemicu. Denia meminta waktu sampai akhir bulan ini untuk mengajukan resign.
Bagas tidak keberatan. Akan tetapi dari hari ke hari suasana keluarga itu sudah tidak harmonis. Puncaknya pagi itu, Denia pulang kantor karena demam tinggi. Ia pamit pulang tidak bisa melanjutkan pekerjaannya di kantor.
“Ha…ha…ha…… Kamu tidak kasihan sama Denia, Mas. Tega-teganya aku manggil kamu. Sementara istrimu sedang ke kantor.” Suara asing dari kamarnya terdengar tak begitu jelas.
Suara wanita itu membuat langkahnya terhenti, dadanya turun naik. Dikumpulkannya kekuatan untuk mengetuk pintu kamar yang seharusnya hanya dia dan Bagas yang bisa memasukinya. Gemuruh dan kecamuk di dadanya, kesedihan atas pengkhianatan seseorang yang dicintainya.
“Assalamu’alaikum, Mas….” Suara Denia tercekat. Sekaligus menghentikan segala suara yang gaduh di kamar itu.
Bagas tidak segera membuka kunci kamarnya. Entah apa yang dilakukannya pada perempuan itu. Denia tidak menemukan siapapun di kamar. Pintu kamar yang terhubung dengan halaman tengah rumah sedikit terbuka. Sekelebat sosok perempuan meninggalkan halaman. Ditahannya keinginan mengejar sosok itu. Tapi diurungkannya karena akan memperuncing konflik dirinya dengan Bagas.
“Kenapa kamu pulang pagi begini, sudah resign dari kantor?” Bagas berusaha setenang mungkin. Menganggap Denia tak tahu apa-apa.
“Aku sakit, Mas. Demam. Aku mau istirahat!”
Denia mengganti baju kantornya, berbaring di ranjang dan menarik selimut menutupi seluruh wajahnya. Ia menyembunyikan air mata yang menganak sungai. Sementara Bagas menceracau tidak jelas, kecewa nafsunya tidak terpenuhi pagi ini. Kecamuk hati Denia dengan frustasi suaminya. Namun Denia terus berharap kiranya Bagas yang dulu akan kembali. Bagas yang penuh tanggung jawab, perhatian. Sebelum frustasinya dengan kondisi ketidak berdayaannya sebagai suami.
Denia selalu berdoa di tengah malam dengan bisikan syahdu. Kiranya Bagas yang dulu dikenalnya menemukan dirinya kembali.
“Ya Rahman, kembalikan kelembutan di hati suamiku. Hindarkan dia dari kecurigaan yang menyiksa. Tunjuki dia pada kebenaran dan kebaikan, sehingga terhindar dari dosa dan maksiat. Yakinkan hatinya bahwa dialah satu-satunya laki-laki yang singgah di hati hamba. Hiasi hatinya dengan iman dan tawakal padaMu. Kalau memperoleh pekerjaan itu akan menjadi jalan kembalinya suamiku yang dulu, berikanlah pekerjaan yang halal dan berkah ya Rabb.”
Bagas yang terbaring di atas ranjang, di sampingnya Denia, memicingkan mata. Doa indah itu belum juga menyusupi hatinya yang membatu.
Bukan hanya doa yang Denia panjatkan, atas dasar rasa kasihnya, ia berusaha mengingatkan Bagas.
“Mas, sebenarnya waktu aku pulang pagi itu, aku melihat sosok wanita meninggalkan halaman rumah kita.”
“Jadi kamu menuduhku selingkuh?” Bagas memotong dengan nada marah.
“Aku juga mendengar suara seorang wanita di dalam kamar kita.”
“Yang lebih pantas curiga kalau di antara kita ada yang selingkuh itu aku. Kamu dengan teman kantormu sangat wajar untuk selingkuh. Ya, sejak aku menjadi suami tak berguna!” Bagas meninggalkan ruang tengah, membanting pintu dan mengunci kamar’
Denia merasa resign adalah solusi jitu mengembalikan pribadi Bagas. Ia bertekat membangun usaha di rumah. Usaha kecil-kecilan. Karier di perusahaan yang gemilang ini harus ia akhiri demi kebahagiaan suaminya. Gaji jutaan tidak ada artinya dibanding keutuhan rumah tangga yang ia bangun selama ini.
***
            “Mas, aku resmi resign hari ini sesuai harapan Mas Bagas.”
Senyum Bagas mengembang. Hari ini ia merasa menjadi suami yang beruntung, memiliki istri yang begitu tulus mencintainya. Rela meninggalkan gemerlap karir dan uang demi memenuhi permintaannya.
“Kita akan memulai usaha bersama, Sayang. Uang pesangonku masih aku simpan. Menunggu kau mau membangun usaha bersama.” Suara mesra itu menyambangi telinga Denia setelah merindu hampir sebulan lamanya.
“Kita gabung dengan tabunganku, ya, Mas? Aku bisa bikin kue yang diajarkan Mbak Mutia, kakak angkatku.”
“Siip, tadinya aku nekat mau nyoba miras kalau kamu nggak mau berhenti kerja.”
“Nekat kamu Mas, merusak diri sendiri dengan dosa. Hanya karena menginginkan aku resign. ”
“Tak tahulah, Denia.  Dalam benakku aku begitu takut kehilangan kamu.  Aku memang salah, terlalu lemah iman.  Tapi bukankah setengah agamaku ada di kamu.  Jadi takut kehilangan kamu seperti takut kehilangan setengah imanku”
“Mas Bagas emang pandai berdalih.  Sudahlah kita lupakan semua, saling maaf dan aku akan selalu ada buat Mas Bagas.”
“Aku bersyukur punya istri sebaik kamu, pengorbananmu makin membuat aku sayang, Denia. Kalau bukan karena kebaikan kamu, mungkin aku sedah tersudut dalam kemalangan.” Bagas menggenggam tangan yang terasa sangat lama tak disentuhnya.
“Sudah menjadi tekatku buat menjaga rumah tangga kita ini bisa utuh hingga akhirat nanti.”
"Aku kenal dengan teman-teman kantormu. Mereka banyak yang hidung belang. Terbayang olehku, mereka ingin mendapatkan kamu, bila mereka tahu posisiku lemah sebagai pengangguran."
Bagas mengusap perut Denia yang makin besar. Rasa hangat merayapi pori-pori kulit Denia hingga rasa hati terdalam. Bunga-bunga cinta itu merekah kembali semerbak memenuhi langit-langit istana mereka berdua. Suasana mesra itu hadir kembali diantara dua anak manusia yang saling mencinta dan mengekspresikan cinta dengan caranya.
Setan- setan menangis oleh pengorbanan cinta tulus Denia. Malaikat bertasbih bersama mereka yang menjadikan cinta berpadu, melarut dalam ritual ibadah yang indah.
***
Aku menarik napas lega. Cerita Denia berakhir dengan kebahagiaannya. Awalnya aku menyayangkan pengunduran diri Denia. Puncak karir itu diraihnya dengan susah payah, tidak pernah lepas dari dukunganku.  Termasuk perjuangan kami  sejak pertama kali aku temukan Denia di pinggir jalan.
Setelah mendengar cerita Denia, aku justru aku bersyukur dengan keputusannya. Rasa kecewa  itu berubah menjadi kebanggaan pada keayuan paras dan hati Denia.  Sejak itu aku berhenti memprotes keputusannya untuk  resign. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IMPIAN PENUH KENANGAN

IMPIAN PENUH KENANGAN  Oleh: Farel Kemenangan Tim Bulutangkis SMPN III di tingkat provinsi tahun lalu memberikan semangat yang tak perna...