KERIANGAN MASA KECIL
Malam hari sebelum tidur menjadi saat yang kami tunggu. Kami berbagi cerita. Kadang aku yang cerita kadang Denia. Entah berapa kisah yang sudah kami bagi.
Denia sudah kelas delapan SMP, sementara aku sudah lulus dan menunggu seseorang melamarku. Tentang pekerjaan, aku lebih senang memberi les privat dan menyibukkan diri dengan berbagai komunitas menulis online.
“Dulu Kak Mutia senang sekali pergi ke ladang bersama ayah. Ayahku gemar memelihara apa saja. Kambing, entok, ayam, bebek.” Aku memulai cerita malam itu
“Mutia, pagi ini kamu mendapat tugas menggembala itik-itik kita. Mas Hanif yang menjaga kambing di lading kita. Ingat jangan sampai merusak tanaman orang lain. Akibatnya bisa fatal. Merusak silaturahmi dan mengganggu hubungan baik.”
Yang paling seru saat itik-itik yang aku gembala ketakutan dengan ular sebesar ibu jari.
“Mas Hanif tolong ada ular.” Aku berteriak sekeras mungkin. Saat itu usia Kakak masih aepuluh tahun, kelas lima SD.
“Mana ularnya, mana?” Mas Hanif meraih tongkat bambu yang aku pakai menggiring itik-itik itu.
Itik-itik kami berhamburan melihat Mas Hanif memukul ular sampai mati.
“Mas, kenapa dimatiin? Kata bu guru IPA dia memakan tikus sawah, musuh para petani.”
"Iya, tapi ini ularnya hitam, kata pak ustaz kalau melihat ular hitam, sunahnya dimatikan aja.”
Ular itu dibuang Mas Hanif ke selokan irigasi.
“Mas, kenapa nggak dikubur biar jadi pupuk di sawah kita. Kata bu guru itu bisa jadi pupuk organik alami.”
“Ah, kamu cerewet. Kelewat pinter. Yang diingat bu guru terus. Betul kata kamu tapi aku nggak mau susah. Lempar ke selokan beres, kamu nggak takut dan jijik lagi, kan? Ularnya udah nggak ada!” Mas Hanif sewot, lucu.
Kami terlalu asik memperhatikan ular itu.
“Ke mana itik-itikku? “ Aku kaget limabelas itik yang aku gembala tinggal enam. Aku bilang satu-satu.
Aku jadi makin cemas, ayah pasti marah. Di bantu Mas Hanif, aku mencari itik itu. Ternyata mereka berenang di selokan, mengejar ular mati yang di lempar Mas Hanif. Ah, itik-itik itu ada-ada saja.
Kami kembali ke sawah kami. Giliran Mas Hanif kebingungan, satu kambingnya masuk ke ladang orang. Kambing itu tanaman sayur punya tetangga kami.
“Kalau nggembala kambing harus bener. Jangan sampai merusak kebun orang lain. Kalian ndak merhatikan kambing kalian, atau sengaja biar kambingnya kenyang?” Lik Gimin marah besar.
“Maaf, Lik. Kami ngaku salah kami lalai tapi kami ndak sengaja. Apa yang karus kami lakukan asal Lik Gimin rela dan memaafkan kami.
Lik Gimin malah tertawa dan memetik sayur-sayur itu untuk kami. Ini sayur buat Mas Suryo, bilang hadiah dari Lik Gimin, ya?”
“Alhamdulillah, Lik Gimin baik banget. Nanti akan kami sampaikan ke ayah.”
“Lain kali kalau nggembala harus teliti dan hati-hati ndak boleh lalai apalagi tertidur.”
Kami pun bercerita tentang ular yang membuat itik kami ketakutan. Lik Gimin mengusap kepala kami, gemas.
***
Giliran Denia bercerita dan aku mendengarnya setia.
“Denia juga pernah menggembala itik, Kak. Saat aku baru masuk SD, umurku baru enam tahun.”
“Arul, Denia, kalian berdua Ibu tugaskan menggembala itik kita. Mumpung hari Ahad.” Ibu menyuruh kami ke sawah buat menggembala itik kami. Itik kami cukup banyak ada tiga puluh ekor. Ibu yang rajin memeliharanya. Dari hasil telornya kami tidak pernah lagi membeli telor di warung.
“Ibu, kenapa harus digembalakan? Bukankah tiap hari kita kasih makan itik-itik ini?” Kak Arul terlihat keberatan dengan tugasnya.
“Itik yang digembalakan itu akan lebih sehat. Sebagaimana dengan kita, mereka butuh rekreasi. Kalau mereka senang dan sehat, akan lebih banyak telurnya. Lagi pula kalian menggembala seminggu sekali. Anggap saja kalian sedang rekreasi bersama itik-itik itu.” Ibu tersenyum memandang kami.
“Tapi, Bu…” Kak Arul masih juga menampakkan rasa malasnya. Mungkin dia ada rencana bermain dengan kawan-kawannya.
“Menggembala itu melatih kalian untuk punya sifat-sifat mulia. Sabar, amanah, jeli, pandai mencari peluang dan kesempatan. Ciri sifat pemimpin terlatih dengan menggembala. Tahu ndak kalian? Semua nabi pernah menjadi penggembala?”
Ibu berusaha menanamkan kesadaran pada kami, membuat kami rela tanpa harus terpaksa.
Akhirnya aku dan Kak Arul berangkat juga. Aku yang masih kecil mengikuti langkah Kak Arul. Kami bagi dua itik itu. Limabelas tanggung jawabku dan lima belas yang lain tanggung jawab Kak Arul.
Aku sedikit heran, Kak Arul menggiring itik-itik kami ke tempat yang tak biasa.
“Kak, kenapa ke arah bukit ini. Bukankah biasanya kita menggembala di sawah kita?”
“Tenang Denia, kata ibu, itik-itik ini harus berekreasi. Jadi boleh dong kita rekreasi juga di tempat yang lebih indah?” Jawaban Kak Arul cukup masuk akal. Memang tempatnya duakali lebih jauh dari sawah kami, tapi aku menurut saja.
Tibalah kami di sebuah sawah di atas bukit itu. Entah sawah siapa. Dekat sawah itu ada selokan agak besar. Aku perhatikan selokan itu airnya mengalir tidak deras. Mungkin karena tempatnya sangat datar. Ternyata banyak ikan dan udang kecil di selokan itu. Itik-itik kami begitu riang menikmati udang dan ikan kecil.
Tugas kami hanya menjaga saat itik itu masuk ke sawah orang. Takut merusak tanaman padi yang baru di pindah dari persemaiannya.
Sambil mengawasi itik, kami duduk di hamparan rumput, menikmati pemandangan indah. Sejauh mata memandang, kaki langit terbentang indah kebiruan . Mega seakan kapas putih menanbah indahnya cakrawala. Di bawah sana hamparan hijau persawahan kampung kami. Rumah-rumah tampak kecil dari atas bukit.
Keindahan yang begitu memanjakan. Rerumputan yang tumbuh di puncak bukit memunculkan bunga aneka warna. Meskipun bukan tanaman hias, tetumbuhan itu tetap menambah keindahan.
Aku biasa mengumpulkan bunga-bunga itu, meletakkannya pada botol berisi air. Sebagian ada yang tumbuh, sebagian melayu. Tidak terasa sudah ada empat jenis tetumbuhan menjadi bunga hias hidroponik di rumah.
Aku selesai mengumpulkan bunga-bunga itu dan kembali ke selokan dekat sawah itu.
Aku kaget dan ingin menangis. Kak Arul tidak ada di sana. Aku segera mecari itik-itik yang menjadi tanggung jawabku. Alhamdulillah sedikit melegakan hatiku. Aku justru geram dengan Kak Arul. Kemana dia? Kenapa dia sering sekali tega meninggalkanku. Apakah dia senang melihatku menangis.
Aku menggiring itikku sambil menangis. Terus terang aku takut berada di bukit itu seorang diri. Senandung dan tawa riangku berubah menjadi air mata. Aku takut lupa jalan pulang ke rumah. Sesuatu yang membuat aku makin cemas, aku sama sekali tidak kenal dengan jalan setapak yang aku lalui. Beruntung hari masih siang bukan sore hari.
Di tengah perjalanan aku bertemu seseorang yang tak ku kenal, wanita setengah baya, rambutnya memutih di sana-sini. Kebaya yang dipakainya lusuh. Di pinggangnya ada bakul besar yang digendong dengan selendang. Dia menyapaku ramah.
“Anak kecil, kamu mau kemana?” tanyanya lembut.
Ragu-ragu aku ikuti petunjuknya. Tapi tidak ada jalan lain, aku butuh bantuan orang dewasa dalam perasaan lemah sebagai seorang anak kecil seusiaku.
Aku tidak peduli apakah aku akan sampai ke rumah, yang aku butuhkan, aku tidak sendirian lagi.
Kami berjalan sepanjang jalan setapak.
"Ayo mampir ke rumah Emak sebentar. Emak akan menaruh barang bawaan Emak. Berat kalau harus aku tanggung terus."
Aku diam saja, hanya menurut. Ternyata rumahnya ada di pinggir jalan setapak yang kami lalui. Berbagai perasaan campur aduk waktu itu. Antara takut dan harap yang memaksaku berdoa meminta perlindungan dari Yang Maha Memelihara.
Rumah itu lebih mirip gubuk, reot. Dindingnya dari bambu polos tanpa dicat, alasnya dari kayu papan. Rumah panggung sangat sederhana. Hanya ada tiga ruang. Buat tidur dan ruang menerima tamu dan dapur.
"Emak sendirian di sini? Iya, Neng. Dari dulu Emak sendirian. Tapi Alhamdulillah sampai sekarang Emak masih diberi rejeki sama Gusti."
"Emak nggak takut?"
"Buat apa takut. Emak nggak punya apa-apa dan siapa-siapa."
"Sama jurig misalnya?"
Emak itu terkekeh, katanya jurig itu sebangsa jin, wujudnya juga sesuai apa yang kita sangkakan. Kalau kita baik, dia tidak akan mengganggu.
Pertemuan itu seakan memberi pengalaman buatku. Apa itu kesendirian dan bagaimana seseorang menyikapinya.
Aku tidak peduli apakah aku akan sampai ke rumah, yang aku butuhkan, aku tidak sendirian lagi.
Ternyata jalan asing yang aku lalui tadi tersambung dengan jalan pematang sawah menuju kampung kami. Aku bersyukur, merasa lega dan berterima kasih pada orang asing itu.
Sesampai di rumah, Ibu menanyakan kemana Kak Arul. Aku ceritakan semua yang aku alami.
“Kenapa kalian bisa berpisah begitu. Kenapa pula kalian menggembala itik sejauh itu? “ Ibu memarahiku. Karena khawatir Kak Arul mencariku dan takut pulang tanpa aku bersamanya, aku dan ibu kembali ke atas bukit itu.Di sana aku lihat Kak Arul sedang kebingunggan. Bagaimanapun pertemuan itu terasa sangat indah. Kami tertawa bahagia meskipun Kak Arul cemberut tidak karuan. Ternyata dia ingin ke jamban. Sudah tidak tahan, katanya. Jamban itu ada di sawah di balik bukit ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar