Kisah Ke-11
JANGAN KAU RENGGUT MASA DEPANKU
#TantanganMenulisdariLagu
#SahabatKabolMenulis
#SeriKisahDenia
#TerajanaRhomaIrama
“Terajana...Terajana.... “ Rombongan pengamen mendendangkan lagu di sebuah taman. Lengkap dengan pemain seruling dan penabuh gendangnya.
Tiba-tiba Adenia seakan ingat sesuatu dan ingin berdiri ingin ikut meliukkan tubuhnya
“Subhanallah, Denia, kenapa kamu?” Aku menggoyangkan badannya untuk tidak melanjutkan aksinya itu. “Malu dilihat orang kamu sudah pakai hijab, Denia.”
Denia masih juga menggoyangkan badannya seperti orang terhipnotis. Sebagian yang menyaksikan grup pengamen itu juga bergoyang mendengar suara setuling yang melengking, dipadu harmonisnya ketukan perkusi gendang.
Aku sendiri yang malu beberapa pasang mata mulai menuju arah Denia. Aku tidak punya cara lain. Kusiram mukanya dengan air botol kemasan dingin yang aku beli dari pedagang asongan. Tidak peduli jilbabnya basah.
“Kak Mutia, kenapa mengguyur aku pake air es? Dingin banget.”Denia mulai sadar.
“Kamu seperti terhipnotis Denia. Kamu nggak denger sedikitpun perkataan Kak Mutia. Bahkan cubitan ini. Kamu kenapa?”Aku terheran sambil menunjuk kulit tangannya yang aku cubit untuk menyadarkannya
Aku papah Denia menuju bangku taman. Sepertinya tubuh Denia lelah. Aku mencari sesuatu untuk sarapan. Somay kegemaran kami juga jilbab di kaki lima untuk mengganti kerudungnya yang basah. Kemudian Denia mulai bercerita.
“Hush, kamu tidak boleh bercerita di sini. Masih ingat Tante Delima? Kalau mereka masih penasaran mencari kamu, mungkin saja ada orang Tante Delima di sini.”Aku mengingatkan Denia.”Ceritanya di tempat kos aja, ya?”
***
Sejak Denia ditinggal orang tuanya, Denia menjadi yatim piatu bersama kakak satu-satunya, Arul. Tidak banyak yang selamat di kampung itu, hanya lima keluarga yang rumahnya tidak tertimpa longsor.
Satu minggu Denia tinggal di balai desa bersama pengungsi yang lain. Satu persatu mereka mulai meninggalkan balai desa. Tinggal Arul dan Denia.
“Denia, Arul, Bapak ada niat untuk mengangkat kalian sebagai anak asuh Bapak,” Bapak kepala desa menawarkan diri dengan tulus. Sebagai pemimpin di desa itu, Pak Haji Aman adalah orang yang sangat bertanggung jawab.
“Kami malu, Pak,”kata Arul menanggapi uluran tangan Pak Kades
“Mengapa harus malu?”
“Kami malu sama ibu dan putera-puteri Pak Kades. Kami hanya menjadi benalu yang merepotkan.” Kebingungan merayapi hati Arul dan Denia. Harta mereka benar-benar habis. Semua tertimbun tanah longsor. Sementara sawah milik keluarganya belum juga dapat ditanami. Perlu waktu lama memulihkan kembali kampung itu.
Di tengah perpincangan mereka, datang seseorang yang mengaku dirinya Bibi Maemunah. Seseorang yang seolah tiba-tiba muncul dalam kehidupan Denia dan Arul. Sejak mereka lahir belum pernah bertemu Bibi Munah.
“Pak Kades, percayalah saya Maemunah. Adik Kang Jumadi. Saya memang sudah lama nggak pulang. Berita dari televisi mengingatkan saya pada keluarga di kampung ini.”
“Bisa ibu berikan KTP Ibu?”Pak Kades ingin memastikan.
Perempuan yang memperkenalkan diri dengan nama Maemunah itu memberikan KTP-nya.
“Saya ingin mencari keluarga saya di sini. Seandainya masih ada, saya sangat ingin membantu merekaa. Itu bagian dari kewajiban saya, Pak Kades.”
“Karena masih ada yang menjadi saksi kebenaran dari pengakuan Ibu, saya percaya kalau Ibu benar-benar Bibi Arul dan Denia.”
“Terimakasih, Pak Kades. Saya akan bawa Arul dan Denia ke Tangerang. Saya akan mengasuhnya sebagai pengganti kakak saya, Kang Jumadi.”
Dikuatkan lagi dengan kesaksian beberapa warga, mereka percaya bahwa sosok di depan mereka itu Bibi Munah. Ingatan akan cerita ibu bahwa ayah punya adik perempuan yang merantau di kota, memantapkan Arul dan Denia meninggalkan kampung kelahiran mereka.
Denia dan Arul mengikuti Bibi Munah ke Tangerang. Perjalanan dua adik kakak itu terasa begitu berat. Akankah Bibi Munah tulus mencintai mereka? Sedangkan dalam bincang mereka, tampak sekali nada kecewa dari Bibi Munah.
“Jadi kalian tidak memiliki peninggalan apapun dari Kang Jumadi? Lalu dengan apa aku membesarkan kalian?”Tanda-tanda ketidak ikhlasan sudah muncul. Arul dan Denia hanya bisa diam. Hati mereka terus berdoa kiranya nasib baik akan berpihak pada mereka.
Mereka tidak menyangka justru kehidupan keras kota besar yang menyambut kemalangan ditinggal orang tua. Dengan alasan tidak ada biaya membesarkan Arul dan Denia, Bibi Maemunah memperkenalkan mereka pada bos pengamen dan pengemis, Bang Gofat. Alasannya hanya dengan izin penguasa lapangan mereka bisa ikut mengais rejeki dari mengamen atau mengemis.
Tiba saatnya Denia dan Arul mendapat penataran dari Bang Gofat. Nama ini agak anah kedengarannya. Ternyata singkatan dari God Father. Penampilannya mirip bajak laut di film zaman dulu. Mata tertutup sebelah. Rambutnya lurus panjang sebahu. Bekas luka di wajahnya menambah seram sosok di depan mereka.
Pertemuan diadakan di sebuah gudang bawah tanah. Tampaknya seperti lantai dasar mall yang sudah tutup akibat kerusuhan tahun sembilan delapan, terdampak krisis ekonomi.
“Kalian kagak boleh malu-malu. Malu adalah kegagalan pertama buat para pengamen. Bayangin elo pade ini akan menjadi musisi beken. Caranye tunjukin kehebatan kalian dalam mengamen suatu saat ada produser yang melirik kalian ke dapur rekaman.”
Anak-anak yang hadir hampir semua di bawah umur. Mereka semua ada dua puluh tiga orang mengelilingi Bang Gofat. Semua diam bergeming di depan sosok berpenampilan sangar itu.
Latihan kali ini diiringi lagu terajana, anak-anak diajarkan berjoget mengikuti irama gendang dan seruling. Mereka yang belum menjiwai irama dengan liuk tubuhnya akan mendapat hadiah sabetan batang bambu Bang Gofat. Yang dianggap lulus, mereka yang bisa mencapai trance. Kondisi kehilangan kesadaran tapi tetap menari seirama lagu.
Diantara sekian banyak yang berlatih Denialah yang berhasil malam itu.
“Kamu berhasil Denia, kamu akan menjadi ratu dari grup kita ini. Meskipun kamu baru delapan tahun, parasmu yang cantik, rambutmu yang hitam dan kemampuan menari kamu, membuat aku senang.”Bang Gofar memujinya di depan semua peserta latihan
“Terimakasih, Bang.” Ucap polos Denia. Tidak ada kecurigaan sedikitpun pada laki-laki dewasa di depannya.
Pujian Bang Gofat disambut cibiran anak-anak perempuan yang lain. Sementara yang laki-laki bertepuk tangan riang.
Sejak Denia dinobatkan sebagai peserta terbaik, Arul dan Denia sering kali di pangil berdua. Bang Gofat menyetel musik yang sama dan Denia disuruhnya menari. Denia tidak sadar bahwa gerak tubuhnya dimanfaatkan untuk memuaskan syahwat Bang Gofat. Kondisi trance itu membuat Denia konsentrasi pada music yang didengarnya.
Sampai keributan yang makin terdengar keras itu menyadarkan Denia.
“Bang, aku nggak terima adikku Abang manfaatkan untuk napsu Abang! Kami ke kota ini untuk memperbaiki nasib. Janganlah Abang merenggut masa depan Denia.”
“Kamu berani mengatur aku anak kecil?” Sabetan batang bambu itu melayang kea rah Arul.
“Abang kejam. Kalau Abang menginginkan Denia, jangan di depanku, Bang. Setidaknya aku tidak tahu bagaimana nasib dia. Adik yang harus aku lindungi.”
Berkali-kali sabetan itu ditangkis Arul. Sesekali mengenai bahian paha dan tangannya. Membekaskan rasa perih dan warna hitam.
Denia yang tersadar dari trance-nya berteriak,”Ada apa ini kenapa kalian ribut?” Denia baru sadar baju atasannya sudah terlepas. Dia tidak sadar siapa yang melepasnya. Segera dipakainya baju itu.
“Ratuku sudah sadar rupanya,” Bang Gofat menyeringai, senyum manis yang dipaksakannya selepas kemarahannya pada Arul.
“Kenapa kalian berkelahi. Bang Gofat adalah bagian dari harapan kami untuk mengubah nasib, memperbaiki masa depan. Kalau Bang Gofat jahat sama Kak Arul. Denia akan berhenti dari grup ini.” Denia mengancam berani.
“Jangan, Ratuku. Aku akan sangat kehilanganmu.”Bang Gofat menurunkan temperamennya. Mungkin dalam pikirannya ia masih punya banyak kesempatan lain.
Ternyata bukan hanya kali itu Denia mendapat perlakuan yang dapat merenggut masa depannya. Arul yang selalu berusaha melindunginya, merasa lelah. Puncaknya peristiwa di halte itu. Perpisahan pilu yang membawa berkah Allah, pertemuan Denia denganku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar