Kamis, 18 Oktober 2018

Seri Kisah Denia, Kisah Ke-12

Kisah Ke-12


SELAMAT DATANG DENIA
#TantanganMenulisdariLagu
#SahabatKabolMenulis
#SeriKisahDenia
#SabdaAlamChrisye

Satu tahun sudah kebersamaanku dengan Denia.  Ini adalah pertama kali aku ajak dia menemui keluargaku di daerah.  Kukumpulkan sekenario untuk meyakinkan ayah bahwa Denia layak bahkan wajib untuk dibantu. 

Kereta api ke arah Jawa Tengah melaju kencang. Sore hari lepas Asar. Di sepanjang perjalanan keindahan alam seolah bersabda.  Untaian keindahan itu sudah mulai menyapa dua biji mataku.  Ah, terbayang betapa indahnya kampungku.  Aku rindu menatapnya esok hari. 

“Kak, keretanya nyaman ya?  Tapi sayang!”  Denia memulai perbincangan

“Sayang kenapa, Denia?”

“Tidak ada pedagang asongan, tidak ada pengamen.”

“Lho, kan bagus.  Berarti kebanyakan masyarakat kita sudah sejahtera.  Punya pekerjaan yang layak.”

“Kak Mutia yakin?”

“Emm….nggak juga, sih! Aku menebak apa yang dipikirkan Denia.  Tersingkir, terpinggirkan, kehilangan kesempatan oleh sistem yang dibuat penguasa. 

“Kakak tahu nggak, kira-kira mereka yang senasib denganku  mencari nafkah kemana?”  Pertanyaan Denia mengagetkanku.

“Wah, Kakak nggak tahu.  Mungkin kamu lebih paham.”“Kalau mereka nggak kuat iman, mereka akan terpaksa menjadi pengedar.  Mereka akan berhubungan dengan bandar.  Sebagian orang seperti Bang Gofat pun beralih  menjadi bandar.”  Denia tidak berani bicara keras.  Ia berbisik di telingaku. 

Aku kaget mendengar cerita dari gadis kecil yang pernah bersentuhan langsung dengan kehidupan jalanan.

“Sebenarnya untuk membuat kereta dan fasilitas umum lebih nyaman, tidak harus menyingkirkan mereka yang susah.  Justru kita patut bersyukur mereka yang kesusahan itu tidak terlibat bisnis maksiat dengan berdagang, mengamen atau apa saja.  Yang penting halal.”  Aku mulai bicara serius. 

“Justru dengan kehadiran kami mengamen atau jualan itu ada jalinan rasa saling memedulikan.  Saling doa antara yang susah dengan yang berkecukupan.  Bukankah itu mendatangkan rahmat Allah?”  kami mulai terlibat diskusi. Ternyata Denia bukan lagi gadis ingusan umur dua belas sudah memasuki usia balig. 

“Yang penting kita syukuri yang ada.  Kenyamanan ini.  Dan kita doakan mereka yang kesusahan menemukan cinta dari sesama dan tidak terlibat bisnis maksiat.  Tetap diberi rejeki dari jalan yang baik.”  

“Aamiin…..Kak Mutia memang berhati mutiara sesuai namanya.

 Aku mencium kening Denia.  Kuperhatikan parasnya makin ayu dengan balutan hijab yang aku tenggerkan menutup mahkota di kepalanya.  Setahun yang lalu. 

*** 

Pagi dua belas tengah malam, kami sampai di stasiun kota kami.  Aku ambil Black Berry untuk menghubungi Mas Hanif.  Saat itu android belum masuk Indonesia.  

“Assalamu’alaikum. Mas.  Kami sudah sampai di stasiun.

”  Seseorang yang aku telpon sudah ada depan stasiun dan melangkah menuju tempat kami duduk. Aku cium tangan Mas Hanif.  Denia juga begitu, mengulurkan tangan. 

“Denia, Mas Hanif bukan mahram kami.  Begini cara salimnya.”  Aku memberi contoh pada nya untuk mengatupkan tangannya  antara dagu dan dada. 

“Ini Denia yang kau ceritakan itu, Mutia?  Manis juga, ya?  Alhamdulillah kita nambah saudara.  Selamat datang di keluarga kami, Denia.” 

“Terimakasih, Mas Hanif.  Ini untuk kedua kalinya janji Kak Mutia padaku terpenuhi.” 

“Janji apa lagi. Denia?”  Aku bertanya heran. 

“Ya, janji untuk mempertemukan aku dengan orang-orang baik.  Penuh kasih sayang.

 Kami tertawa bahagia dengan keakraban ini.  Aku sendiri yakin kalau Mas Hanif akan menerima Denia dengan tangan terbuka.  Pasalnya dialah yang paling sering berkomunikasi denganku.  Semoga demikian pula dengan ibu dan ayah. 

Perjalanan dari stasiun ke rumah hanya memerlukan waktu sepuluh menit.  Xenia yang dipacu Mas Hanif sudah sampai rumah.  Sepanjang perjalanan aku tidah banyak bicara.  Rasa lelah membuat aku tertidur walau sekejab.  Bayangan rumah menari-nari di pelupuk mata bersama tidur ayamku

Aku rindu rumah ini yang hanya setahun sekali aku sambangi.   Ramadan menjelang Idul Fitri.   Tamannya masih asri.  Tangan dingin ibu yang merawatnya.  Cat biru muda yang kami pulas menyambut Idul Fitri tahun lalu masih terlihat terang.  Shofa, buffet, vas bunga.  Hanya meja dispenser yang menambah keramaian di ruang tamu. Di ruang tengah karpet tebal terhampar, 

Aku dan Denia langsung masuk kamar.  Denia memilih sekamar denganku meskipun keluarga kami sudah menyediakan kamar khusus.  Aku buat Denia senyaman mungkin dengan keluarga barunya.  

Sebelum tidur, kami sahur, bersiwak dan salat Tahajud terlebih dahulu.  Khawatir tidak akan kebagian waktu sahur dan tahajud bila tidur lebih dulu.  Aku meninggalkan pesandi meja makan bahwa kami sudah sahur.  Maksudnya biar Mas Hanif tidak usah susah-susah menyuruh kami sahur. 

 Lelap kami tertidur karena kelelahan perjalanan jauh.  Bunyi alarm jam tiga dari Black Berryku  tidak membuat kami bangun.  Tanpa sadar tanganku mematikan BB.  Sampai saatnya terdengar ketukan pintu dari luar.  Mas Hanif membangunkan kami.  

“Subuh Mutia.  Ayo bangun jangan sampai lambat salat subuhnya.  Kalau masih terlalu lelah bisa kalian sambung lepas Subuh!” 

“Iya, Mas.  Aku udah bangun,” jawabku antara sadar dan tidak.  

Dari dulu Mas Hanif yang paling perhatian ikut menjaga ibadahku.  Lebih dari ibu dan ayah. 

“Denia, bangun!”  Yang aku bangunkan bergeming.  Aku semprotkan air dari botol semprot air kecantikan milikku.  Denia mulai menggerak-gerakkan matanya. 

“Yuk, kita ke masjid, Denia!”  Aku bergegas mengambil air wudhu dan  bersiwak.  Denia mengikuti langkahku malas.  Dengan langkahnya yang masih seloyoran, aku tuntun Denia.   Setelah berwudhu Denia baru terlihat benar-benar sadar.  Kami mengenakan mukena dan bersiap ke masjid.

Di ruang tengah kami bertemu dengan ibu dan ayah. Aku cium tangan mereka takzim, pelukan ibu meraih punggungku lembut.  Begitu juga dengan Denia.  Ayah hanya tersenyum yang agak sulit kumaknai.  Beliau tidak banyak bertanya.  Aku maklum beliau memang cenderung pendiam.  Sulit untuk menyimpulkan, apakah ayah setuju atau tidak dengan keputusanku mengambil Denia. 

Ayah memberi isyarat, beliau ingin bicara sepanjang perjalanan ke masjid.  Sementara ibu dan Denia berjalan lebih dulu di depan.  Ada yang penting yang akan ayah sampaikan rupanya.  Beliau cukup berhati-hati tidak ingin perbincangan itu diketahui Denia. 

“Mutia, kamu yakin anak itu punya bibit, bobot, bebet yang baik?”  Ayah mulai bicara soal Denia. 

“Ayah, bukankan tiap manusia harus mendapat kesempatan untuk menjadi lebih baik?”  Aku balik bertanya. 

“Tidak sedikit orang mengambil anak pungut tapi akhirnya direpotkan oleh anak yang diasuhnya itu.” 

“Menurut Mutia, semua tergantung cara kita mendidiknya, Ayah.  Kalau diwarnai dengan baik, diiringi dengan doa, kasih sayang  dan keikhlasan, pasti Allah akan menunjukkan jalan terbaikNya.” 

“Kamu masih muda, masih terlalu edialis.  Tapi Ayah lebih berumur dan berpengalaman daripada kamu.  Kenyataan tak selamanya berpihak pada yang baik dan benar.  Ayah belum tentu setuju dengan surat adopsi yang kamu urus itu.  Banyak yang akan menjadi pertimbangan Ayah.”

 Aku sedikit kaget, kecewa dan lemas mendengar pernyataan Ayah.  Salah satu harapan terbesarku dari kepulanganku kali ini, memperjuangkan Denia untuk masuk dalam kartu keluarga kami.  Nomor pada kartu keluargaku itu sangat penting untuk kelanjutan belajar Denia.  Ternyata masih ada penghalang untuk perjuanganku ini.  Aku hanya bisa berdoa.  Semoga Allah bukakan hati ayah. 

Hanya dalam tujuh menit berjalan, kami sampai di masjid kampung.  Selepas salat Subuh berjamaah, kami mendengar tausiah Ramadan dari Ustadz Shihab. 

"Ramadan, adalah ibadah yang mengasah kecerdasan spiritual dengan iman atas perintahnya, iman bahwa Dia Maha Melihat, Mahatahu, Maha Mendengar.  Sehingga kita berusaha mempersembahkan ibadah terbaik untuk-Nya. 

Ramadan mengasah kecerdasan emosi kita dengan latihan sabar dalam taat, sabar dalam mengekang amarah dan berbagai kejahatan napsu.  Apakah dengan berpuasa kita bisa menata hati untuk berbaik sangka pada Allah juga pada sesama.   Membebaskan diri dari rasa takut yang tidak pada tempatnya.  Misalnya takut celaka setelah kita berbuat baik pada sesama.   Takut bahwa air susu akan dibalas dengan air tuba.  Puasa mengajarkan kita ikhlas, berbuat hanya karena Allah bukan ingin balasan ataupun pujian orang hingga terjebak dalam penyakit riya. 

Ramadan juga mengasah kecerdasan sosial kita.  Adakah kita dengan rasa lapar puasa kita, membuat kita empati dengan sesama.  Mau berbagi perhatian, kasih sayang, harta benda pada mereka yang membutuhkan.  Bila kita menyadari semua hanya titipan, maka kita tidak akan berat untuk membaginya pada orang lain.  Harta adalah titipan yang akan dikembalikan pada pemiliknya, kecuali yang diamalkan untuk kebahagiaan orang lain.  Itulah harta kita sesungguhnya.  Harta yang dipakai untuk menyadarkan sesama akan kasih sayang Allah yang Maha Memberi.  Apalagi pada mereka yang tidak punya ayah, ibu juga sanak keluarga.  Wajib hukumnya kita membantu selagi ada kesempatan dan kita mampu.  Bakhan berdosa bila kita membiarkan mereka, sementara kita tahu mereka sedang dalam kepapaan. 

Rasulullah bersabda bahwa Rasul dan para penyantun anak yatim itu ibarat telunjuk dan jari tengah di surga Allah nanti.  Barang siapa menyantuni anak yatim berarti mereka sudah menjalin kedekatan dengan Rasulullah di surga.  Barangsiapa yang ingin dekat dengan Rasulullah santunilah anak yatim. 

Ramadan juga meningkatkan kecerdasan tubuh kita karena puasa akan memperbaiki system metabolism dalam tubuh.  Mengistirahatkan lambung dari kerjanya yang tak pernah berhenti.” 

Aku merasa bertuah memaksakan diri pergi ke masjid pagi ini.  Semoga semua tausiah dari Ustaz Shihab meresap dalam hati ayah.  Aku yakin, tidak ada yang kebetulan.  Allah menghendaki hidayah lewat Ustaz Shihab. 

Kami berada di masjid sampai waktu israk.  Waktu sesaat setelah terbit matahari.  Sudah menjadi kebiasaan keluargaku mengamalkan salat Israk.  Dua rekaat yang pahalanya senilai haji dan umrah secara sempurna.  

Keluar dari masjid, tak sabar aku ingin tahu reaksi ayah setelah taushiah Ustaz Shihab tadi. Aku berdebar-debar melirik ke arah ayah yang juga sedang keluar dari pintu masjid jalur ikhwan. 

“Mutia, kali ini Ayah mengaku kalah.  Langkah kamu sudah tepat buat menolong sesama.  Masalah hasil dan akibat kita serahkan pada Allah.”  Ayah tersenyum lebar sambil mengapit pundakku gemas. 

“Terimakasih, Ayah.  Ayah selalu bikin Mutia bangga.  Ayah adalah orang sangat cepat menerima hidayah”  Aku mencium tangan ayah takzim. 

Ayah mengajak kami olah raga pagi sebelum pulang ke rumah.  Berjalan mengitari pematang sawah dengan padi menguning sambil mengusir burung Pipit pemangsa padi.  Suasana yang selalu aku rindukan tiap kali pulang.  

Kicauan burung bernyanyi riang nan merdu menyambut pagi.  Harmonisasinya masih seperti dulu meskipun ada warna suara yang berbeda.  Ada yang datang tentu ada pula yang pergi.  

Embun di ujung dedaunan merefleksikan cahaya matahari.  Kilauannya indah memanjakan mata sesuci nirmala.  Pelahan hangat mentari meleburkan embun, memudar untuk terbang menuju angkasa.  Mentari kian hangat menyapa.  

Butiran halus mulai muncul dari pori-pori kami.  Ayah mengajak kami istirahat ke saung tajuk di tengah sawah kami. 

“Alhamdulillah, sebentar lagi kita akan panen.  Sejak Denia hadir, Ayah rasa rejeki dari Allah makin berkah dan melimpah,” ungkap ayah. 

“Denia kenapa mata kamu berkaca-kaca?” tanya ibu memerhatikan Denia. 

“Denia ingat kampung halaman.  Waktu itu kami masih lengkap.  Ayah, Ibu, Kak Arul danDenia.  Kami sering duduk di saung tajuk.  Seperti sekarang ini.”  Denia tergugu.” Denia menangis karena bahagia.  Betapa Allah sayang Denia.  DipertemukanNya hamba yang hina ini dengan keluarga yang baru dan lengkap.” 

Aku mengusap air mata di pipinya,  alam yang bertutur dengan keindahannya menambah keharuan kami.  Makin terasa segala kebesaran dan karuniaNya memecut kami untuk senantiasa bersyukur.  Atau lalai dari pengakuan atas nikmatNya, semua pilihan merdeka buat semua makhlukNya. 

Yang jelas, aku merasa lega.  Pagi ini ayah dan ibu menyatakan kebahagiaannya menyambut Denia. 

“Selamat Datang Denia, mulai hari ini kamu boleh memanggil Bapak dengan panggilan Ayah seperti Kak Mutia. 



 Nyanyian alam makin indah mengiringi ketulusan ayah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IMPIAN PENUH KENANGAN

IMPIAN PENUH KENANGAN  Oleh: Farel Kemenangan Tim Bulutangkis SMPN III di tingkat provinsi tahun lalu memberikan semangat yang tak perna...