Senin, 22 Oktober 2018

Seri Kisah Denia Ke-16


MEMAKNAI KESENDIRIAN
#TantanganMenulisDariLagu
#SahabatKabolMenulis
#SeriKisahDenia
#Semut-SemutKecil_Melisa

Cerita Denia tentang ibu paruh baya itu cukup membuatku tergelitik.  Rasanya aku ikut sedih, trenyuh bahkan prihatin.  Mengapa dia bisa sebatang kara seperti itu.  Bagaimana kehidupan dia, aku ingin sekali mendengarkan lebih jauh tentang dia.
Tampaknya Denia tahu akan rasa penasaranku, dia kembali bertutur.
“Aku tahu Kak Mutia ingin tahu kisah emak yang menolongku waktu itu, bukan?”
“Tahu aja kamu, Denia?”
“Tahu dong, Kak.  Kak Mutia sering ingat ibu itu dan bergumam sendiri, ‘Kasihan ibu itu. Kemana sanak saudaranya, ya?’ Emang Kak Mutia nggak nyadar bilang begitu?”
“Masak, sih?”  Mukaku rasanya menghangat menyadari aku sering bergumam tanpa aku sadari.
“Tenang aja, Kak, ada terusannya, kok!”  Denia membuatku tersenyum.  Memang aku sering sensitive kalau ada orang menderita dan kesusahan.  Semua itu menyusupi perasaanku dengan sendirinya.
Kami memutuskan melakukan kegiatan bersama pekan pagi ini.  Mencoba resep kue kering, nastar coklat selai buah naga.  Bersama Denia aku makin semangat mencoba berbagai macam resep.  Dia anak yang rajin dan cepat mengingat resep yang kami coba.
Bagian yang paling menyenangkan, menikmati hasil masakan kami, sambil minum the manis dan mendengar cerita Denia.
***
            Aku bercerita sama ibu, tentang seseorang yang menolongku waktu itu.  Ibu yang berhati mulia seperti Kak Mutia, segera membalas perbuatan baiknya mengantarkan aku dengan berkunjung ke saungnya.
            “Denia, kita akan bawakan hadiah buat Mak Ijih, dia sudah berjasa buat keluarga kita,” kata ibu sambil menyiapkan bungukusan buat emak tua itu.  Ada sekardus mie, sekantong keresek beras dan uang dalam amplop.
            “Ibu, kenapa banyak sekali.  Memang sebesar apa kebaikannya, Bu?”  aku bertanya polos
            “Dulu ada seorang bijak bernama Lukmanul Hakim.  Dia menasihati putranya untuk ingat dua dan lupa dua.”
            “Habis, dong, Bu, jadi nggak ada yang diingat lagi, habis ingat, terus lupa.”
            “Hush, kamu bercanda saja Denia.”  Maksud ibu, lupa dua
            “Seandainya, yang membawa kamu bukan orang baik, kamu belum tentu selamat.  Dan bisa jadi kita tidak akan ketemu lagi.”
            Kami berdua mengunjungi Emak Ijih, habis sholat Zuhur. Menyusuri jalan yang aku lalui saat diantar pulang bersama ibu.  Sejak aku ditinggal ke jamban sama Kak Arul, aku belajar mengingat jalan dengan memperhatikan hal yang paling menarik sepanjang jalan.
            Hanya butuh waktu dua puluh menit kami sampai di saung Mak Ijih.  Saung satu-satunya dan terpisah dari perkampungan lain.  Berada di perbukitan, di tengah kebun kopi yang teduh. 
            “Ibu, ini rumah Emak ijih.”
            “Kecil sekali saungnya, Denia.  Sepi.  Jangan-jangan kosong suangnya.”
            Ibu mengucap salam sampai tiga kali dan mengetuk pintu.  Tapi Mak Ijing tidak juga keluar.  Kami memutuskan untuk menunggu.  Duduk di bebatuan sebelah kanan saung Mak Ijih.  Selama kami duduk menunggu, jarang sekali orang berjalan lalu lalang.  Samapi menjelang Asar, hanya ada satu petani yang lewat.
            “Sepertinya kita pulang dulu Denia, waktu Asar hampir tiba.  Mungkin besok atau lusa kita kemari lagi.”
            Belum sempat kami berdiri sempurna, seseorang berkerudung putih dengan kain dan kebaya yang lebih rapih daripada kemarin.  Ternyata dia pulang dari majelis taklim ibu-ibu kampung sebelah.
            “Ada tamu rupanya, Gusti, Denia.  Ini pasti ibu Denia.”  Mak Ijih menyapa kami ramah.  Tebakannya tepat. 
            Dia langsung mempersilakan kami masuk.  Penghormatannya pada tamu menunjukkan kebahagiaan luar biasa ada yang mau mampir.  Dia langsung mengambil air the tawar dan ubi rebus.  Diambilnya nasi jagung, daun singkong rebus, sambal dan ikan asin tiga potong.
            “Mak, nggak usah repot.  Kedatangan kami kemari, yang pertama silaturahim.  Yang kedua mau mengucap terimakasih sudah mengantarkan Denia sehingga bisa pulang.”
            “Itu sudah menjadi kewajiban kita pada sesama, saling membantu.  Sebelum kami pulang, ibu memberikan hadiah yang disiapkan.
“Mak, ini sedikit dari kami, sebagai tanda terimakasih yang tak seberapa.”
“Maaf, saya nggak biasa mendapatkan hadiah sebegini banyak.  Lagi pula saya hanya tinggal sendiri.  Siapa yang mau memakannya?”
“Jangan menolak rejeki, Mak, pamali.  Lagi pula ini bukan dari saya, rejeki dari Allah.”
Akhirnya Mak Ijih menerima juga pemberian kami.  Rasa terimakasihnya begitu dalam.
Pertemuan sore itu berarkhir setelah kami ikut salat Asar.  Kami berwudu dengan air dari gentong berpancuran.  Kami sembahyang dengan mukena yang selalu ibu bawa kalau pergi agak jauh, kata ibu, supaya tidak ada alasan salat tidak tepat waktu.
“Mak, kalau saya kebetulan repot atau pergi, bisa nitip Denia?”  Tanya ibu saat berpamitan pada mak Ijih.
Mak Ijih menerima tawaran ibu dengan senang hati.  Sejak itu, kami akrab satu-sama lain seperti saudara.  Dia akan selalu ada dirumah, di sungai mencari ikan atau ke majelis taklim tiap Jumat lepas Zuhur.  Mak Ijih menunjukkan sungai bawah yang membelah kampung kami.
***
             Sore itu, aku dititipkan ibu pada Mak Ijih.  Dia begitu penyabar mengasuhku.  Kadang aku diajarinya iqra yang baru masuk jilid dua. 
            “Mak, saudara Mak pada kemana, kok, sendirian?” Aku menyakan sesuatu yang membuat Mak Ijih kaget.
            “Ceritanya panjang, neng. Mak dibuang sama keluarga Emak.  Dulu Emak dimasukkan ke sumur mati.  Katanya Emak mau ditumbalin waktu usia Mak usia dua puluhan tahun.  Tapi dengan izin Allah Mak nggak pindah alam.  Katanya sumur itu pintu antara dua alam.  Mak teriak minta tolong sekuat tenaga.  Sampai ada orang yang lewat sumur itu dan mengambil Emak.  Nah, orang yang nemukan Emak membuatkan saung di sini.”
            “Memang alam ada berapa, Mak?”  Aku bertanya polos
            “Yang Emak tahu dari ajengan, ada alam gaib ada alam nyata.  Ada alam roh, alam rahim, alam dunia, alam kubur, alam akhirat.  Ada juga alam jin dan alam malaikat.  Itu yang Mak pernah dengar dari majelis taklim.  Selebihnya Emak nggak tahu.”
            Aku masih belum mengerti saat itu.  Tapi rasanya aku nggak pingin banyak tahu.
“Kenapa orang yang menolong Emak nggak menyuruh Mak tinggal di rumahnya?”
            “Mereka takut ada yang meminta pertanggungjawaban atas hilangnya Emak.”
            Dalam hatiku tebersit kekaguman.  Betapa seseorang ini berhati baja.  Sejak umur dua puluh tahunan hidup sendiri.  Tidak ada yang berani memperisteri dia karena dianggap orang temuan.  Di sebuah sumur pintu dua alam.  Sampai sekarang tak berkeluarga tapi masih dapat hidup bahagia.
            Aku mengajak Emak bermain di luar rumah.  Aku ingin main rumah-rumahan.  Tapi ada sesuatu yang menarik perhatianku.  Sebuah lubang.  Semut-semut kecil yang berbaris itu dengan arah yang berbeda.  Saling berpapasan.  Tiap bertemu sesama, mereka bersalaman.
            Sambil melihat-lihat mereka aku menyanyikan lagu semut-semut kecil.  Saat aku kelas satu SD, lagu itu masih banyak dinyanyikan anak seusiaku.
semut semut sini jangan gigit aku ya...
Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah tidak kegelapan
Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah tidak takut setan
Oe oe itu katamu, oe oe itu jawabmu

Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah tidak takut cacing
Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah punya mamah papah

Bergotong royong cara kerjamu
Sepotong roti di bagi-bagi
Bertemu teman lalu salaman
semut semut lucu sekali
La la la la la la la la la laa...

Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah tidak takut cacing
Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah punya mamah papah

Oe oe itu katamu, oe oe itu jawabmu
Bergotong royong cara kerjamu
Sepotong roti di bagi-bagi
Bertemu teman lalu salaman
semut semut lucu sekali
La la la la la la la la la laa..
            “Neng Denia, sedang merhatikan apa?”
            “Semut, Mak!  Mereka kecil tapi mereka hebat, ya.  Dalam lagu tadi katanya mereka senang bergotong-royong?  Terus mereka tetap tenang walaupun setiap saat harus siap terinjak kaki yang tak melihatnya.”
            “Emak juga banyak belajar dari mereka, Neng.  Semut saja sekecil itu bisa belajar pasrah dengan bahaya apapun.  Hujan, air yang setiap saat bisa membahayakan nyawanya.  Belum lagi injakan kaki atau benda yang jatuh.  Mereka tetap istikomah dalam kebiasaannya.  Bagaimana dengan kita manusia yang sangat lebih besar dari semut.  Mengapa nggak yakin dan baik sangka dengan perlindungan Gusti, yang Maha Melihat, Mahatahu, Maha Mendengar?”
            Aku hanya mengangguk-angguk, tapi kenangan bersama Emak seakan hadir saat aku harus harus sendiri di Jakarta tanpa siapa-siapa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IMPIAN PENUH KENANGAN

IMPIAN PENUH KENANGAN  Oleh: Farel Kemenangan Tim Bulutangkis SMPN III di tingkat provinsi tahun lalu memberikan semangat yang tak perna...