MEMAKNAI
KESENDIRIAN
#TantanganMenulisDariLagu
#SahabatKabolMenulis
#SeriKisahDenia
#Semut-SemutKecil_Melisa
Cerita Denia tentang ibu paruh baya itu cukup membuatku
tergelitik. Rasanya aku ikut sedih,
trenyuh bahkan prihatin. Mengapa dia
bisa sebatang kara seperti itu. Bagaimana
kehidupan dia, aku ingin sekali mendengarkan lebih jauh tentang dia.
Tampaknya Denia tahu akan rasa penasaranku, dia kembali
bertutur.
“Aku tahu Kak Mutia ingin tahu kisah emak yang menolongku
waktu itu, bukan?”
“Tahu aja kamu, Denia?”
“Tahu dong, Kak. Kak
Mutia sering ingat ibu itu dan bergumam sendiri, ‘Kasihan ibu itu. Kemana sanak
saudaranya, ya?’ Emang Kak Mutia nggak nyadar bilang begitu?”
“Masak, sih?” Mukaku
rasanya menghangat menyadari aku sering bergumam tanpa aku sadari.
“Tenang aja, Kak, ada terusannya, kok!” Denia membuatku tersenyum. Memang aku sering sensitive kalau ada orang
menderita dan kesusahan. Semua itu
menyusupi perasaanku dengan sendirinya.
Kami memutuskan melakukan kegiatan bersama pekan pagi
ini. Mencoba resep kue kering, nastar
coklat selai buah naga. Bersama Denia
aku makin semangat mencoba berbagai macam resep. Dia anak yang rajin dan cepat mengingat resep
yang kami coba.
Bagian yang paling menyenangkan, menikmati hasil masakan
kami, sambil minum the manis dan mendengar cerita Denia.
***
Aku
bercerita sama ibu, tentang seseorang yang menolongku waktu itu. Ibu yang berhati mulia seperti Kak Mutia,
segera membalas perbuatan baiknya mengantarkan aku dengan berkunjung ke
saungnya.
“Denia,
kita akan bawakan hadiah buat Mak Ijih, dia sudah berjasa buat keluarga kita,”
kata ibu sambil menyiapkan bungukusan buat emak tua itu. Ada sekardus mie, sekantong keresek beras dan
uang dalam amplop.
“Ibu,
kenapa banyak sekali. Memang sebesar apa
kebaikannya, Bu?” aku bertanya polos
“Dulu
ada seorang bijak bernama Lukmanul Hakim.
Dia menasihati putranya untuk ingat dua dan lupa dua.”
“Habis,
dong, Bu, jadi nggak ada yang diingat lagi, habis ingat, terus lupa.”
“Hush,
kamu bercanda saja Denia.” Maksud ibu,
lupa dua
“Seandainya,
yang membawa kamu bukan orang baik, kamu belum tentu selamat. Dan bisa jadi kita tidak akan ketemu lagi.”
Kami
berdua mengunjungi Emak Ijih, habis sholat Zuhur. Menyusuri jalan yang aku
lalui saat diantar pulang bersama ibu.
Sejak aku ditinggal ke jamban sama Kak Arul, aku belajar mengingat jalan
dengan memperhatikan hal yang paling menarik sepanjang jalan.
Hanya
butuh waktu dua puluh menit kami sampai di saung Mak Ijih. Saung satu-satunya dan terpisah dari
perkampungan lain. Berada di perbukitan,
di tengah kebun kopi yang teduh.
“Ibu,
ini rumah Emak ijih.”
“Kecil
sekali saungnya, Denia. Sepi. Jangan-jangan kosong suangnya.”
Ibu mengucap salam sampai tiga kali
dan mengetuk pintu. Tapi Mak Ijing tidak
juga keluar. Kami memutuskan untuk
menunggu. Duduk di bebatuan sebelah
kanan saung Mak Ijih. Selama kami duduk
menunggu, jarang sekali orang berjalan lalu lalang. Samapi menjelang Asar, hanya ada satu petani
yang lewat.
“Sepertinya
kita pulang dulu Denia, waktu Asar hampir tiba.
Mungkin besok atau lusa kita kemari lagi.”
Belum
sempat kami berdiri sempurna, seseorang berkerudung putih dengan kain dan
kebaya yang lebih rapih daripada kemarin.
Ternyata dia pulang dari majelis taklim ibu-ibu kampung sebelah.
“Ada
tamu rupanya, Gusti, Denia. Ini pasti
ibu Denia.” Mak Ijih menyapa kami
ramah. Tebakannya tepat.
Dia
langsung mempersilakan kami masuk.
Penghormatannya pada tamu menunjukkan kebahagiaan luar biasa ada yang
mau mampir. Dia langsung mengambil air the
tawar dan ubi rebus. Diambilnya nasi
jagung, daun singkong rebus, sambal dan ikan asin tiga potong.
“Mak,
nggak usah repot. Kedatangan kami
kemari, yang pertama silaturahim. Yang
kedua mau mengucap terimakasih sudah mengantarkan Denia sehingga bisa pulang.”
“Itu
sudah menjadi kewajiban kita pada sesama, saling membantu. Sebelum kami pulang, ibu memberikan hadiah
yang disiapkan.
“Mak, ini sedikit dari kami, sebagai tanda terimakasih yang
tak seberapa.”
“Maaf, saya nggak biasa mendapatkan hadiah sebegini
banyak. Lagi pula saya hanya tinggal
sendiri. Siapa yang mau memakannya?”
“Jangan menolak rejeki, Mak, pamali. Lagi pula ini bukan dari saya, rejeki dari
Allah.”
Akhirnya Mak Ijih menerima juga pemberian
kami. Rasa terimakasihnya begitu dalam.
Pertemuan sore itu berarkhir setelah kami ikut salat
Asar. Kami berwudu dengan air dari
gentong berpancuran. Kami sembahyang
dengan mukena yang selalu ibu bawa kalau pergi agak jauh, kata ibu, supaya
tidak ada alasan salat tidak tepat waktu.
“Mak, kalau saya kebetulan repot atau pergi, bisa nitip
Denia?” Tanya ibu saat berpamitan pada
mak Ijih.
Mak Ijih menerima tawaran ibu dengan senang hati. Sejak itu, kami akrab satu-sama lain seperti
saudara. Dia akan selalu ada dirumah, di
sungai mencari ikan atau ke majelis taklim tiap Jumat lepas Zuhur. Mak Ijih menunjukkan sungai bawah yang
membelah kampung kami.
***
Sore itu, aku dititipkan ibu pada Mak
Ijih. Dia begitu penyabar
mengasuhku. Kadang aku diajarinya iqra
yang baru masuk jilid dua.
“Mak,
saudara Mak pada kemana, kok, sendirian?” Aku menyakan sesuatu yang membuat Mak
Ijih kaget.
“Ceritanya
panjang, neng. Mak dibuang sama keluarga Emak.
Dulu Emak dimasukkan ke sumur mati.
Katanya Emak mau ditumbalin waktu usia Mak usia dua puluhan tahun. Tapi dengan izin Allah Mak nggak pindah
alam. Katanya sumur itu pintu antara dua
alam. Mak teriak minta tolong sekuat
tenaga. Sampai ada orang yang lewat
sumur itu dan mengambil Emak. Nah, orang
yang nemukan Emak membuatkan saung di sini.”
“Memang
alam ada berapa, Mak?” Aku bertanya
polos
“Yang
Emak tahu dari ajengan, ada alam gaib ada alam nyata. Ada alam roh, alam rahim, alam dunia, alam
kubur, alam akhirat. Ada juga alam jin
dan alam malaikat. Itu yang Mak pernah
dengar dari majelis taklim. Selebihnya
Emak nggak tahu.”
Aku
masih belum mengerti saat itu. Tapi
rasanya aku nggak pingin banyak tahu.
“Kenapa orang yang menolong Emak nggak menyuruh Mak tinggal
di rumahnya?”
“Mereka
takut ada yang meminta pertanggungjawaban atas hilangnya Emak.”
Dalam
hatiku tebersit kekaguman. Betapa seseorang
ini berhati baja. Sejak umur dua puluh
tahunan hidup sendiri. Tidak ada yang
berani memperisteri dia karena dianggap orang temuan. Di sebuah sumur pintu dua alam. Sampai sekarang tak berkeluarga tapi masih
dapat hidup bahagia.
Aku
mengajak Emak bermain di luar rumah. Aku
ingin main rumah-rumahan. Tapi ada
sesuatu yang menarik perhatianku. Sebuah
lubang. Semut-semut kecil yang berbaris
itu dengan arah yang berbeda. Saling berpapasan. Tiap bertemu sesama, mereka bersalaman.
Sambil
melihat-lihat mereka aku menyanyikan lagu semut-semut kecil. Saat aku kelas satu SD, lagu itu masih banyak
dinyanyikan anak seusiaku.
semut semut sini jangan gigit aku ya...
Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah tidak kegelapan
Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah tidak takut setan
Oe oe itu katamu, oe oe itu jawabmu
Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah tidak takut cacing
Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah punya mamah papah
Bergotong royong cara kerjamu
Sepotong roti di bagi-bagi
Bertemu teman lalu salaman
semut semut lucu sekali
La la la la la la la la la laa...
Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah tidak takut cacing
Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah punya mamah papah
Oe oe itu katamu, oe oe itu jawabmu
Bergotong royong cara kerjamu
Sepotong roti di bagi-bagi
Bertemu teman lalu salaman
semut semut lucu sekali
La la la la la la la la la laa..
Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah tidak kegelapan
Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah tidak takut setan
Oe oe itu katamu, oe oe itu jawabmu
Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah tidak takut cacing
Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah punya mamah papah
Bergotong royong cara kerjamu
Sepotong roti di bagi-bagi
Bertemu teman lalu salaman
semut semut lucu sekali
La la la la la la la la la laa...
Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah tidak takut cacing
Semut semut kecil saya mau tanya
Apakah kamu di dalam tanah punya mamah papah
Oe oe itu katamu, oe oe itu jawabmu
Bergotong royong cara kerjamu
Sepotong roti di bagi-bagi
Bertemu teman lalu salaman
semut semut lucu sekali
La la la la la la la la la laa..
“Neng
Denia, sedang merhatikan apa?”
“Semut,
Mak! Mereka kecil tapi mereka hebat, ya. Dalam lagu tadi katanya mereka senang
bergotong-royong? Terus mereka tetap
tenang walaupun setiap saat harus siap terinjak kaki yang tak melihatnya.”
“Emak
juga banyak belajar dari mereka, Neng.
Semut saja sekecil itu bisa belajar pasrah dengan bahaya apapun. Hujan, air yang setiap saat bisa membahayakan
nyawanya. Belum lagi injakan kaki atau
benda yang jatuh. Mereka tetap istikomah
dalam kebiasaannya. Bagaimana dengan
kita manusia yang sangat lebih besar dari semut. Mengapa nggak yakin dan baik sangka dengan
perlindungan Gusti, yang Maha Melihat, Mahatahu, Maha Mendengar?”
Aku
hanya mengangguk-angguk, tapi kenangan bersama Emak seakan hadir saat aku harus harus sendiri di Jakarta tanpa siapa-siapa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar