Rabu, 24 Oktober 2018

Seri Kisah Denia-17

SELAMAT JALAN BANG GOFAT
(Jangan Kau Renggut Masa Depanku-II)


Berulang kali Bang Gofat mengajakku berbuat yang tidak baik, hampir saja aku terjerumus dalam maksiat. Kadang aku sendiri menikmati keasikan yang dia tawarkan. Alhamdulillah, penolakaku jauh lebih kuat. Seakan ada yang melindungiku. Aku bersyukur.
Suatu sore di gedung tua bekas mall itu, Kak Arul sudah mulai bosan dengan perkelahian yang dia alami hanya untuk melindungiku dari tangan jahil anak-anak jalanan. Dia mulai enggan aku ikuti, akhirnya aku harus pulang sendiri. Sebelum pulang, seperti biasa aku harus menyetor uang pada Bang Gofat.
Sebenarnya tiap bertemu Bang Gofat sendirian, aku takut dia akan mencelakaiku. Namun ada keanehan, entah kenapa, Bang Gofat lebih menghargaiku waktu itu. Bahkan ia ingin menjagaku.
“Denia, gue minta maaf dan menyesal. Seharusnya gue ikut menjaga lo. Apalagi kalian yatim piatu. “ Bang Gofat mencium keningku dan mengusap kepalaku. Aku hanya bengong dengan perubahannya. Biasanya dia menyentuhku. Tapi kali ini tidak. Ia seakan muncul sebagai sosok seorang kakak. Hatiku menjadi lega, lebih bahagia dan merasa terlindungi.
“Terimakasih, Bang. Boleh Denia berharap?”
“Apa yang lo inginkan, Denia. Abang akan berusaha memenuhinya.” Tatapan Bang Gofat kini lebih lembut ada ketulusan dalam sorot mata itu. Penyesalan, kesedihan, harapan, entah apa lagi perasaan yang aku tangkap dari sana.
“Denia bosan dilecehkan. Juga oleh kawan-kawan cowok sesama grup kita ‘Gofat Crew’. Aku ingin dihargai sebagai seseorang yang terjaga perasaan hatinya. Bukan seseorang yang bisa dimainkan sesuka mereka.”
“Jadi selama ini bukan hanya gue yang mengganggu lo, Denia?” Bang Gofat melepas genggaman tangannya di lenganku. Dia berdiri, menatap angkasa yang mulai semburat jingga petang itu.
“Kenapa lo nggak bilang?” Ada nada cemburu dalam ucapannya.
“Percuma, Bang. Bukankah Bang Gofat memperlakukanku sama dengan mereka, bahkan lebih!” Aku mulai berani protes. Meluahkan rasa kesal yang tiba-tiba meledak.”Kalian semua jahat! Sampai Kak Arul pun menjauhi aku gara-gara kalian.” Aku menangis dengan nasib yang sering kali tak berpihak pada perasaanku. Tenagaku yang diperas dengan kerja-kerja rumah oleh Bi Munah dan Maruti. Belum lagi di jalanan, bersimbah peluh mengejar setoran. Dan di Gofat Crew, aku dianggap ratu tapi penuh penderitaan, dicibir sebagai saingan dan dilecehkan. Sekarang Kak Arul pun menjauh.
“Denia, maafkan gue, gue akan melindungi lo dari tangan-tangan mereka, percayalah.”
Petang itu untuk pertama kalinya aku diantar pulang oleh Bang Gofat dengan motornya ke rumah Bibi Munah. Kak Arul sendiri sudah jarang pulang ke rumah Bibi Munah. Di usianya yang ke-15, Kak Arul makin sulit dimengerti
Penampilan Bang Gofat sudah berubah dari preman menjadi
pemuda bersih, rapi. Meskipun codet bekas luka di wajahnya tak mampu disembunyikannya. Sebenarnya Bang Gofat cukup punya wajah, andai dia sosok saleh yang aku dambakan……
***
Di ulang tahunku yang ke-10, Bang Gofat memberikan kami kejutan. Bukan hanya kejutan dari sikapnya yang menjadi lebih lembut, tapi juga niatnya untuk memperbaiki nasib kami.
“Adik-adikku.” Kami yang biasa dipanggil kasar sama Bang Gofat tiba-tiba melongo dengan perubahan sikap Bang Gofat.
“Sudah saatnya kita saling bantu, maju bersama memperbaiki nasib, ”lanjutnya.
“Bang Gofat kayaknya ada yang beda hari ini. Ada apa, ya?” Kak Arul mengomentari perubahan Bang Gofar. Yang dikomentari hanya tersenyum.
“Gue ingin membuat grup band di Gofat Crew.”
“Modal dari mana bang, gitar, drum, organ? Sepertinya mimpi.” Biandra, cewek tomboi yang selalu menganggapku saingannya.
Bang Gofat menceritakan dari mana alat-alat itu didapat.
Ternyata ada musisi yang sudah hijrah, namanya Bang Dekky ingin menghadiahkan koleksi alat-alat musik pada kami. Semua bersorak gembira dengan berita dari Bang Gofat.
Aku sedikit menemukan titik terang mengapa Bang Gofat mengalami perubahan. Yang jelas kami bersyukur, ada harapan nasib kami berubah minimal dari kegarangan Bang Gofat.
Hari yang dinantikan itu pun tiba. Minggu pagi, Bang Gofat bersama kawannya Bang Dekky mengajak kami berlatih music untuk pertama kali. Kami berenam, aku, Kak Arul, Biandra, Kifli, Nindi dan Bondan, sedikit canggung, apalagi melihat Bang Dekky berpenampilan bak ustaz berjubah seban, berjenggot panjang. Di usianya yang masih tampak sangat muda, ini menjadi satu kejanggalan buat kami yang biasa hidup di jalanan.
“Ini mau latihan ngeband atau mau pengajian?” bisik Biandra terbengong-bengong. Aku sendiri lebih senang diam. Kalau tidak, seperti biasa ucapanku sering menjadi bahan bulian Biandra.
“Adik adik, hari ini kita akan meresmikan band kalian. Terserah kalian mau diberi nama apa band kalian ini.” Bang Dekky menyerahkan nama band pada kami.
“Sebagai penghormatan dan rasa terimakasih, menurut pendapatku, terserah Bang Gofar dan Bang Dekky.”  Aku mengajukan saran.
“Kalau menurut gue mending kita kasih nama sendiri. Yang menjadi anggota band kita, kita kudu bangga dengan nama yang kita buat itu. Bagaimana kalau namanya Godek Band. Singkatan dari Gofat dan Dekky” Biandra mengajukan nama.
“Namanya nggak beken amat, di bahasa Jawa, godek itu berarti cambang. Itu tuh kayak yang di rahang Bang Dekky.” Bondan, cowok dari Banjarnegara, Jawa Tengah menimpali pendapat Biandra.
Semua mengusulkan nama yang berbeda. Akhirnya Bang Dekky mengusulkan nama, De Bright Dust  Band-singkatannya DeBiDuBand. Maksudnya supaya band ini bisa berkilau meskipun semua manusia adalah debu.
Biandra protes dengan De di depan nama grup kami. Dia jealous menebak De diambil dari namaku. Tapi Bang Gofat menolak keberatan Biandra.  De semakna dengan The dan buat mengabadikan nama pemberi fasilitas band kami, Bang Dekky.
“Sekarang lu akan kami latih untuk memainkan alat music. Bang Dekky pingin tahu siapa yang paling berbakat untuk memainkan semua alat musik ini. Minggu depan kami akan mengumumkan masing-masing pemegang alat musik,” tukas Bank Gofat memotong perdebatan kami tentang nama band ini.
Pertama kali memegang alat musik, anak-anak cenderung sompral. Maklumlah. Senjata manual kami biasanya, kecrek, perkusi ember dan shaker dari botol plastik berisi pasir kering.
“ Bukan begini maininnya, Ngapain kalian, distek-distek begitu. Bikin kita terganggu, ntar tak lempar sepatu. Kaya nggak ada kerjaan, niruin suara drum.  Emangnya kalian ngidam, ntar tak kasih pinjam.” Bang Gofat mengajari kami lagu dari Project Pop, Distek
Di susul Bang Dekky mengajari kami olah vocal yang mantap dan pas, “ Bukan begitu, drum kami tak butuh. Coba kami dibantu, bikin sebuah lagu.”
“Kamu jadi bass, suaramu ngepas. Jangan protes deh mas, ntar lo gua lempar kulkas ( dumba ... dumba ... dumba ...). Apa kataku, lagunya ngga kuku.” Ternyata Bondan hafal lagi dan liriknya.”
Kami berlatih dengan riang. Sedikit melupakan penatnya jalanan. Akhirnya formasi itu terbentuk juga. Aku terpilih untuk menjadi vokalis. Seperti biasa diiringi nyinyiran Nindi dan Biandra. Tapi aku sudah kebal.
Ternyata keceriaan kami tidak lama. Dua bulan kami berlatih bersama. Dua bulan kami merasakan kehangatan kasih seorang abang di jalanan. Juga aku merasakan perlindungan yang menenangkan hati, bahkan mungkin aku mulai merasakan jatuh cinta. Sosok Bang Gofat yang penuh perhatian pada kami semua. Yang mulai memerhatikan salat kami, bacaan iqra kami, pagi itu adalah pagi paling naas setelah kepergian ayah dan ibu.
***
Denia tergugu, menangis pilu. Tidak kuat lagi melanjutkan kisahnya. Aku raih pundak gadis yang sekarang telah menjadi remaja berusia empat belas tahun, kelas delapan, SMP.
“Sabar Denia, ada Kak Mutia di sini. Biarlah kepedihan itu menjadi bagian dari penyadar diri, bahwa kita sekedar hamba yang lemah. Yang harus menerima segenap kenyataan. Sepenuhnya.” Aku menghibur Denia yang masih tersedan pilu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IMPIAN PENUH KENANGAN

IMPIAN PENUH KENANGAN  Oleh: Farel Kemenangan Tim Bulutangkis SMPN III di tingkat provinsi tahun lalu memberikan semangat yang tak perna...