Kisah Ke-19
KEHORMATAN
NEGERIKU (II)
#TantanganMenulisDariLagu
#SahabatKabolMenulis
#SeriKisahDenia
#Usah Kau Lara
Sendiri_Katon ft Ruth Sahanaya
Ehren
Derry merasa mendapat pelajaran berharga dari para pegiat IKWK. Ada tatap mata harapan dalam dirinya untuk
ikut merasakan kehangatan, keluhuran budaya dan kebijaksanaan Indonesia yang
Islami. Ia berjanji akan datang lagi,
berdialog dan diskusi.
Alhamdulillah, Derry mengunjungi IKWK lagi.
Kali ini dia tidak sendiri tapi bersama kekasihnya Helma Merlisa Aldana. Wanita tinggi semampai, kulit putih
kemerahan, rambut pirang keemasan.
Pakaiannya tidak seterbuka gadis jerman.
Mungkin Derry mengingatkannya untuk berpakaian cukup sopan saat
mengunjungi IKWK.
“Warum
haben laden Sie mich hier, meine Liebe? Sieht so aus, als wären wir in einer
Höhle von Terroristen. Sehen Sie sich an, wie Sie sich anziehen. Sie sicherlich
Muslime.”Helma membicarakan komunitas
muslim Indonesia sebagai teroris. Pegiat IKWK sudah biasa dengan anggapan
seperti itu. Justru kalau ada yang
menganggap mereka teroris, mereka akan makin bersemangat buat menyadarkan bahwa
anggapan itu salah.
“Bitte trinken Sie dawet Eis und gebratenes Essen.” Denia membawakan makanan dan minuman khas
Indonesia. Es dawet ayu khas Banyumas
dan gorengan bala-bala yang dicampur
dengan daging cincang itu merebut perhatian Dekky dan Helma.
Sebelum menghidangkannya bahkan sejak
memasaknya, Denia terus memohon, “Ya,
Allah, jadikan apa yang kami hidangkan ini jalan hidayahMu bagi sesama. Rabb, Engkau yang mewajibkan kami menjadi
cahaya hidayah bagi sesame. Mohon
ampunan atas kelemahan daya upaya kami.
Hanya sebatas ini yang kami mampu.
Rabb terimalah usaha ikhtiar kami.
Hanya padamu kami serahkan segala hasil, karena kami tidak pernah
berkuasa kecuali saat kami memilih jalan ikhtiar.”
“Mereka
memperlakukan kita dengan baik ya Derry,
mereka orang Indonesia yang terkenal sangat ramah itukah?”
“Betul,
sayang. Itulah mengapa aku bawa kamu ke
sini.”
Mereka menikmati dawet ayu dengan tak
henti-hentinya memuji minuman yang belum pernah melewati kerongkongan mereka
sejak mereka lahir. Ditambah lagi siang
itu cuaca lebih panas disbanding musim panas sebelumnya. Juga gorengan bala-bala khas Jawa Barat yang
adonannya dibiarkan dalam kulkas satu malam.
Empuk dan tidak berminyak. Mereka
bilang rasanya seperti pizza tapi beda.
Akhirnya mereka menamainya pizza Indonesia.
Denia menemani mereka berbincang-bincang. Pegiat IKWK sedang sibuk dengan kegiatannya
masing-masing dan sebagian sedang keluar.
“Masih
banyak menu makanan khas Indonesia dari tiap daerah. Kami memiliki 13.466 pulau yang diakui PBB
sebelum sebagian pulau kecil hilang kami mencatat jumlah pulaunya mencapai
17.000 dan Timor Leste belum memisahkan diri dari kami. Jumlah suku mencapai 714, masing-masing dengan
budaya dan bahasa khasnya. Bahkan kami memiliki 6 agama besar yang saling hidup
rukun dan damai. Belum lagi mereka yang
memilih aliran kepercayaan yang lahir dari budaya kami yang berbeda”Denia menjelaskan Indonesia
dengan bangga meskipun dengan bahasa Jerman yang masih terkesan sangat
lambat. Lumayan hasil kursus bahasa
Jerman dengan Ukhti Gita tidak sia-sia selama tiga minggu Denia di Jerman. Semangat dan kecerdasannya cukup membantu.
“Wow,
Amazing, dan kalian bisa bersatu dalam keberagaman itu. Pasti ada yang hal ajaib yang kalian punya.”Derry dan Helma hampir
bersamaan mengungkap
“Tentu
saja, kami punya falsafah Pancasila dan dasar KeTuhanan Yang Maha Esa dalam
menata keragaman ini. Untuk bahasa, kami
disatukan dengan bahasa Indonesia sebagai alat berkomunikasi. Juga semboyan Bhineka Tunggal Ika sebagai
semangat pemersatunya. ”
“Ada
enam agama besar di Negara kamu. Apa
saja itu?”Helma makin antusias
“Islam
hampir 90%, 10% selebihnya Kristen,
Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu dan berbagai aliran kepercayaan.”
“Tadi
ada kata-kata Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Emm......bahasa apa itu? Aku ingin tahu dalam bahasa Jerman.”Pertanyaan Derry makin
menantang pengetahuan Denia.
Denia memohon pada Allah dalam hati, semoga
penjelasannya tidak salah. Berbekal
ceramah tentang Pancasila yang didengarnya dari ustaz-ustaz berwawasan
kebangsaan di youtube.“Pancasila
itu, falsafah kehidupan bangsa Indonesia, digali dari nilai-nilai yang
berkembang dalam masyarakat. Perumusnya
adalah para ulama dan nasionalis. Karena
mayoritas penduduk kami muslim dan orang-orang yang beragama, maka nilai-nilai
itu terwarnai oleh keyakinan kami sebagai bangsa. Jadi Pancasila sangat bersesuaian dengan
agama yang kami anut, yaitu Islam.
Sedang Bhineka Tunggal Ika itu semboyan yang menjadi semangat pemersatu,
bahwa meskipun beragam namun kami harus tetap bersatu dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia.”
Derry dan Helma mengangguk-angguk tanda
mengerti. “Tadi kamu menyebut
Islam menjadi penyumbang terbesar dalam falsafah Pancasila, tapi yang kita tahu
hingga hari ini, Islam begitu menakutkan buat kami. Islamfobia merebak dimana-mana. WTC hancur, pemboman merata-rata, Timur
Tengah porak-poranda, maksudku sebagian.
Isis menampakkan wajah Islam yang sangat kejam. Rasanya seperti dua hal yang sangat
membingungkan dan sangat bertentangan satu sama lain. Islam yang kami dengar, yang kami lihat
adalah agama kejam , tanpa kemanusiaan, tanpa teloransi dan penuh terror.”
Pertanyaan yang menohok ini harus dijawab
dengan cerdas dan panjang. Denia merasa
harus mengeluarkan argument dengan analisis dan data.
“Nampaknya
diskusi kita makin serius. Oya. Tadi aku
ingin menawarkan dua makanan khas Indonesia.
Kalian bisa memilih dua macam untuk makan siang dan dua untuk hidangan
penutupnya. Maksud nya supaya kafe bisa
menyediakan dengan waktu yang cukup.” Denia menyodorkan buku menu masakan
Nusantara, dari Sabang sampai Meuroke.
Yang ditawari justru bingung membolak-balik buku menu yang menut mereka
terlalu banyak, membingungkan dan bikin penasaran. Pilihan mereka jatuh pada soto Lamongan untuk
makan siang dan sop buah sebagai penutupnya sementara Helma ingin mencoba es
doger. Bersyukur bahan-bahan itu sudah
kafe siapkan. Menu yang disodorkan
memang disesuaikan dengan bahan yang ada.
Sambil menunggu hidangan siap, mereka bertiga
melanjutkan diskusi. “Saat
ini memang Islam dalam posisi terpojok.
Bermula dari kepentingan kekuasaan dan kebutuhan mendesak menghadapi
krisis bahan bakar dan energy, timur tengah menjadi incaran utama. Tentu kalian tahu negara-negara produsen
minyak bumi. Timur tengah. Maka dibuat
segala macam cara dan rekayasa yang memungkinkan invasi ke sana. Rekayasa dan konspirasi sangat jelas dalam
banyak temuan di WTC. WTC lebih mirip
gedung yang diruntuhkan dengan bom nuklir dari pada runtuh oleh ledakan
pesawat. Saya melihat video terbaru,
nggak ada bayangan pesawat di kaca gedung dan ledakan pesawat penumpang apa
yang bisa menembus beton super tegar seperti WTC?”
“Saya
juga sering browsing youtube. Meledaknya
WTC adalah lawakan terhebat abad canggih ini.”Derry setuju dengan analisa Denia.
“Lalu
apa kaitannya dengan ISIS, mengapa ISIS begitu kejam dan kalian tidak bisa
menyangkal bahwa ISIS adalah bagian dari Islam.” Helma memaklumi
konspirasi WTC tapi tetap heran dengan munculnya ISIS.
“Peristiwa
WTC, melegalisasi serangan Amerika terhadap Taliban dan Alqaida. Dalam pandangan Amerika Serikat, Taliban dan
Alqaida adalah saudara yang saling mendukung dan membesarkan. Dengan alasan Alqaida sebagai pelaku pemboman
WTC, Amerika ingin membubarkan pemerintahan sah Taliban yang dipandang sebagai
pelindung Alqaida bahkan mungkin bisa memunculkan Alqaida sebagai organisasi
besar dan makin berbahaya. Kalau
menurutku, Amerika memandang bahaya Negara yang menggunakan system Islam bila
mereka membesar akan merugikan berbagai kepentingan Amerika dan barat. Di samping itu juga memang ada kelompok Islam
yang menunjukkan anti terhadap barat.”
“Nah,
itu dia. Kenapa kalian anti dengan kami?”
“Sebenarnya
mereka tidak anti terhadap barat tapi lebih pada menangkis nilai-nilai yang
kami anggap tidak sesuai. Islam penuh
dengan aturan sedangkan dunia barat penuh dengan kebebasan penuh individu. Coba kalian bayangkan bagaimana dua hal yang
saling berbeda ini bisa menyatu? Bukti
mereka tidak benar-benar anti barat, bukankan kita masih bekerja sama,
mengonsumsi teknologi yang kalian miliki?”
“Jadi
pertentangan timur barat tetap akan abadi?”
“Pertentangan
nilai tentu ada dalam hati kami.
Jangankan timur barat, kita sebagai individu, satu sama lain punya
nilai-nilai dan prinsip yang kita meredeka untuk menentukan pilihan. Itu adalah hokum alam yang tidak bisa
dihindari. Yang penting bagaimana kita
bisa saling mengendalikan diri untuk tidak menjadi pemaksa nilai dan prinsip
kita masing-masing tapi lebih pada penghormatan. Misalnya Helma tidak minum alcohol tapi Derry
minum. Apakah harus berakhir dengan
konflik fisik? Saling caci dan hina?”
“Tentu
tidak.”
“Itulah
yang kami lakukan di IKWK ini, saling mengenalakan nilai dan budaya tanpa harus
menyakiti. Semua akan berjalan dengan
baik. Tanpa kepentingan apapun kecuali
kasih sayang pada sesame, untuk saling menyelamatkan dan membahagiakan.”
“Kembali
pada kekerasan yang dilakukan ummat Islam, atau lebih tepatnya dituduhkan pada
muslim. Apakah sepenuhnya rekayasa atau
ada juga yang benar dari muslim.”
“Menurutku
ada yang rekayasa seperti WTC ada juga yang dilakukan umat Islam. Tapi tidak ada asap bila tak ada api. Munculnya ISIS misalnya diakui oleh Partai
Demokrat di Amerika sebagai sesuatu yang dilahirkan, dipersenjatai,
didanai. Maksudnya untuk membantu
Amerika mendapatkan lading minyak. Tapi
manusia tidak selalu memiliki kepala yang sama dan isi kepala pun sangat sulit
dideteksi. ISIS akhirnya tidak
sepenuhnya memenuhi komitmennya berbagi lahan minyak. Yang merugikan ummat Islam dan agama ini
justru doktrin yang tadinya bertujuan mendukung kepentingan Amerika itu menjadi
kanker dalam tubuh umat dan agama Islam.
Sesuatu yang sangat menyedihkan.”
“Du
denkst also, ISIS ist Krebs im Körper der Muslime?”
“Rasulullah
Muhammad pernah bersabda bahwa diakhir zaman akan muncul tiga tentara dari
Irak, Yaman dan Syam. Seburuk buruk
pasukan dari Irak, sebaik-baiknya dari Syam (Palestiana dan Suriah). Bukankah ISIS berasal dari Irak. Kabar itu telah disampaikan 1400 tahun yang
lalu bahkan lebih.”
“Dann,
welches Vertrauen benutzen sie. Bukankan mereka juga menggunakan Alquran
sebagai dasar sikap dan perilaku mereka?”
“Mereka
mengambil sebagian dalil dan dalil itu tidak dikaitkan dengan konteks munculnya
ayat. Misalnya dalil saat perang,
memerintahkan pembunuhan orang kafir dimanapun mereka berada, tidak bisa
dipakai dalam suasana damai. Tapi mereka
mengambil sembarang tanpa ilmu. Juga
anggapan bahwa yang tak sependapat dan sepandangan dengan mereka halal darah
meskipun muslim. Ist es nicht eine
Art von Krebs, der sich überall schädigt und ausbreitet?”
“Besar
juga ujian buat umat dan agama Islam ini, ya?
Tergerogoti oleh mereka yang mengaku muslim. Kalau begitu tidak semua muslim kejam, kasar
dan melegalkan aksi terror?”Pertanyaan
retoris yang Derry tak perlu Denia
jawab. Itu bagian dari kesimpulan
tepat hasil Dialog mereka bertiga.
“Kesimpulan
yang sangat tepat. Mereka yang mengebom
itu, sudah kebingungan menggunakan akal dan hatinya dalam berdakwah. Mengajak pada Islam dengan cara yang
salah. Memerangi kekuatan yang jauh
lebih besar dari dirinya. Kehilangan
rasionalitas dan akhirnya merugikan ummat dan agamanya. Sementara tindakannya bertentangan dengan
kesempurnaan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam.”
“Wenn
wir wissen wollen, zu welchen islamischen Werten die Repräsentanten gehen
müssen?”tanya Helma
“Kalian
bisa berkunjung ke komunitas muslim di Indonesia. Atau dimanapun tempat tapi mereka berada
dalam komunitas yang didasari ilmu, belajar islam dengan sungguh-sungguh dan
menyeluruh. Bukan hanya sebagian dan
menerapkan dengan cara yang salah.”
“Menurutku
bukan hanya muslim, siapapun kalau belajar dengan cara yang salah akan
melahirkan kekacauan dan terror dimana-mana.”
Helma cerdas menyimpulkan. Tampaknya
mereka puas dengan penjelasan Denia.
“Apakah
komunitas IKWK cukup representative buat kami belajar Islam dengan baik?”tanya Derry
“Wah,
aku tidak bisa menyimpulkan sendiri.
Kami hanya berusaha menampilkan wajah Islam tapi kami tidak bisa
mengatakan kami sudah baik. Penilaian
kami kembalikan pada kalian.”Denia
merendahkan hati, yang justru makin
menampakkan kesyumulan Islam di hadapan Helma dan Derry.
“Kalau
kami tertarik pada Islam, apakah kamiharus
masuk Islam atau sebaiknya belajar dulu?”tanya Helma
“Untuk
masuk Islam, kalian harus yakin benar-benar, tanpa paksaan dan maksud lain
selain karena kalian yakin Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan Muhammad
sebagai utusan yang kalian benarkan.”
“Also
sollten wir zuerst lernen?” Derry menyimpulkan sendiri apa yang harus
diperbuatnya setelah ini
“Ja,
also, wenn Sie sicher sind, werden Sie Luft-Islam sein richtig.”
Perbincangan itu ditutup dengan hidangan soto
Lamongan dan es tape ketan hijau campur sirup cocopandan. Helma dan Derry disuguhi sesuatu yang unik
sepanjang hidup mereka. Seindah nikmat
hidayah yang mulai mengalir di dada mereka.
Kekaguman pada negeri bernama Indonesia dengan orang-orang yang
merefleksikan Islam, warga Negara Indonesia di IKWK.
***
Kunjungan Helma dan Derry berikutnya untuk
belajar Islam, lima pertemuan, mereka memutuskan untuk masuk Islam. Wajah mereka berseri-seri penuh bahagia. Tangisan haru dari dua mualaf itu membuat kami
turut menangis. Mereka bersyahadah
dengan bimbingan Ust. Hanif Hidayat, kakak kita yang kita banggakan. Datang dari Indonesia untuk mengisi pengajian
kami. Prosesi yang sangat mengharu-biru.
Seminggu kemudian mereka datang. Membawa koper besar penuh dengan
pakaian. Wajah mereka murung tetapi
kebahagiaan iman tetap terpancar.
Ternyata mereka mengalami pengusiran dari
keluarganya yang belum bisa menerima Islam.
Bahkan menganggap Islam sebagai ancaman peradaban barat. Salah satu anggota keluarganya, sebagaimana
Derry sebelum ini adalah aktifis PEGIDA.
Komunitas IKWK menerima mereka dengan tangan
terbuka. Tinggal dalam satu komunitas
penuh cinta dan kasih sayang. Mereka
menjadi tetangga Denia di tempat kos yang dikelola IKWK.
Sebuah puisi, Denia persembahkan untuk Helma
dan Derry.
HOLD MY HAND
Saputan
kabut memudarkan senyumanmu
Takkan
kubiarkan kau bergeming dalam lara
Kucoba
mengeja jerit suara hatimu yang sunyi
Cerita
yang kau tuturkan hanya sekelumit rasa
kubentangkan tangan kubuka hati meniti asa
kubentangkan tangan kubuka hati meniti asa
Disini
aku ada untuk kita
Mengais
kasih dari Pemilik Segala
Genggam
tanganku dan kita melangkah bersama
Meretas
segala onak duri haling melintang
Lihatlah
di sini cahaya suci petunjuk ilahi
Selama
nurani hidup bestari
Pemandu
membawa arah tak pernah meragu
Bersama ‘kan kita pungkas segala kesah resah gelisah
Bersama ‘kan kita pungkas segala kesah resah gelisah
Saat
semua jalinan terputus menjauh
Kita adalah sahabat dalam kesamaan iman
Kita adalah sahabat dalam kesamaan iman
Tuntas
sudah segala lirih rintihan duka
Bersama,
kita rengkuh samudra asa dan cita
Genggam
tanganku dan kita melangkah bersama
Tiada kata tertatih sendiri meniti lara
Atas nama cinta-Nya di jalan-Nya, bersama-Nya, karena-Nya
Genggam
tanganku dan kita melangkah bersama
Kekaguman, cinta,
kerinduan terpancar pada sorot mata
Helma dan Derry, tentang Negeri Indonesia dan keramahan orang-orangnya.
“Denia, suatu saat kami akan
mengunjungi Indonesia. Terimakasih untuk
keluhuran budaya yang dicahayai oleh nilai Islam dari negerimu itu, khususnya
komunitas muslim IKWK.” Derry mengakui
dengan tulus.
Sebaliknya Denia bahagia telah turut
menjaga kehormatan negeri dan juga agama ini.
Glosarium:
1. Warum haben laden Sie mich hier, meine Liebe? Sieht so
aus, als wären wir in einer Höhle von Terroristen. Sehen Sie sich an, wie Sie
sich anziehen. Sie sicherlich Muslime.= Kenapa kamu mengajak aku ke
sini, sayang? Sepertinya kita berada
dalam sarang teroris. Lihatlah cara berpakaiannya. Pasti mereka muslim.
2. Also sollten wir zuerst lernen?
=Jadi sebaiknya kami belajar terlebih dulu?
3. Ja, also, wenn Sie
sicher sind, werden Sie Luft-Islam sein richtig =Iya,
supaya ketika sudah yakin, kalian akan ber-Islam dengan benar
4. Wenn wir wissen
wollen, zu welchen islamischen Werten die Repräsentanten gehen müssen?=Kalau
kita ingin mengetahui nilai-nilai islam yang representative harus kemana?
5. Dann,
welches Vertrauen benutzen sie=
Lalu keyakinan apa yang mereka pakai?
6. Du denkst also, ISIS
ist Krebs im Körper der Muslime =Jadi menurutmu ISIS itu
kanker dalam tubuh umat Islam
7. Ist
es nicht eine Art von Krebs, der sich überall schädigt und ausbreitet?= Bukankah semacam kanker, merusak dan menjalar kemana-mana
8. Bitte
trinken Sie dawet Eis und gebratenes Essen= Silakan
diminum es dawet dan gorengannya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar