Kamis, 25 Oktober 2018

Seri Kisah Denia-18


Kisah Ke-18
SELAMAT JALAN BANG GOFAT II
#TantanganMenulisDariLagu
#SahabatKabolMenulis
#SeriKisahDenia
#PengenBeken_ProjectPop

            Kubiarkan denia tergugu, mengenang seseorang yang pertama kali bertengger di hatinya.  Cinta yang tumbuh karena budi dan kebaikan sikap.  Rasanya perasaan Denia perlahan menyusup dalam relung kalbuku.
            Perlahan Denia mampu mengendalikan emosi yang sempat melimbungkan raganya.  Terlunglai di pangkuanku, aku usap kepalanya yang selalu terbalut hijab. Dia mengusap air matanya, seolah mengumpulkan tenaga buat bercerita kembali.
            “Bang Gofat, dipanggil Tuhan dua bulan setelah hijrah dari sikap buruknya.  Semoga taubat Bang Gofar diterima, ya, Kak Mutia.”
            “Insyaallah, Denia. Allah sayang sama Bang Gofat makanya Dia memanggilnya di saat-saat terbaik.  Dia tak ingin Bang Gofat pulang dalam keadaan kotor dan berlumur dosa kembali.  Karena kita tidak tahu kapan hidayah datang dan kapan dia pergi karena kelalaia atau godaan sekitar kita.”
            “Yang paling memilukan kami, Bang Gofat meninggal dengan cara tragis, jasadnya dilempar pembunuhnya, di depan kami saat kami berlatih band entah untuk yang keberapa kali.”
***
            Belakangan sejak kami punya Debiduband, ada saja teror yang menghampiri kami.  Lewat bbm Kifli, Nindi dan Biandra.  Dari kami berenam hanya mereka yang punya bbm.  Memang mereka gabung dengan kami bukan karena terpaksa alias miskin tapi lebih karena keluarganya broken.  Mereka mencari komunitas yang dianggap bisa melampiaskan rasa ketidak pedulian keluarga.
            “Wah, gawat ada yang nggak suka kita punya grup band.  Dia nge-bb gue dengan nama Dimon.”  Biandra menunjukkan bbmnya pada kami.
            “Coba bacain Biandra, apa isi lengkapnya.”
            “Gue, Dimon.  Gue lebih berhak buat punya grup band daripada elo.  Gue adik Bank Dekky.  Asal lo pada tahu, gue punya impian buat beken.  Abang gue beken jadi artis dan punya grup band.  Kakak perempuan gue juga bintang iklan ternama.  Tinggal gue yang dianggap sampah.   Kalau alat-alat music dari abang gue nggak kalian balikin, jangan salahkan kalau ada peristiwa.”  Biandra mencoba mengeja keras tulisan tipo itu supaya kami semua bisa paham.
            “Gue juga dapat nih, Bian.  Gile pengirimnya sama, Dimon.  Siapa dia, ya?”
            “Lo Nindi, ya?  Asal kamu tahu gue pingin beken sampe sekarang nggak kesampean, gue sampe pergi ke dukun buat obsesi gue.  Gue malah diledekin sama itu dukun.  Emang gue ngerasa muka gue pucet, gigi gue jarang-jarang dan kuku tangan kue hitem gara-gara bekas kemo waktu masih kecil, kebanyakan obat.  Penyakitan. Gue dari keluarga kaya.  Bisa bayar preman buat ngabisin kalian. Jadi buat nyingkirin Debiduband menurut gue kelewat mudah.  Berhati-hatilah kalian.  Band kalian bakal gue bikin layu sebelum berkembang.”  Gantian Nindi mengeja ancaman kedua
            “Kayaknya yang ngaku Dimon tuh nggak main-main, ya? “  kak Arul terlihat mulai cemas. 
            “Kalau bisa di simpulkan, dia ngaku adik Bang Dekky.  Dia pingin bisa beken, tapi nggak kesampaian.  Dia ngiri Bang Dekky ngasih kita alat musik buat bikin grup band, padahal dia pingin juga dan ngerasa lebih berhak.  Sepertinya dia akan melakukan apa saja asal bisa beken.  Bahkan pergi ke dukun pun dia lakuin.”  Aku menyimpulkan dua BBM berisi ancaman itu.
            “Lo ini Denia, bicaranya sudah macam komentator atau analis di tivi aja.”  Biangka nyinyir.
            “Gue pikir, bener kata Denia, kita harus menanyakan ini pada Bang Dekky.”  Bondan yang tertua diantara kami sering mengarahkan kami kalau Bang Gofat sedang tidak ada.
            “Biandra, coba kamu telpon Bang Dekky.”  Kak Arul memberi usulan.  Suasana menjadi mencekam apa kiranya yang akan kami alami. 
            “Kamu juga Nindi, telpon Bang Gofat.  Di mana dia sekarang.  Aku agak cemas dengan keadaannya.”  Bondan ikut memutar otak, mencari solusi.
            “Rasanya kita harus menyebar.  Memeriksa keadaan di sekitar bekas mall ini. Kita berpencar dua-dua supaya kalau ada apa-apa bisa saling bantu.  Terus buat memudahkan komunikasi, harus ada HP di masing-masing kelompok.  Gue sama Denia pinjam HP Kifli, Arul sama Biandra dan Kifli sama Nindi.”  Bondan berpikir cepat.
            “Lo nih, Bondan, dalam keadaan tegang begini masih juga ngembat Denia.”  Biandra protes.
            “Lo juga, keadaan runyem masih juga nyemburuin Denia.  Kapan sih, kalian akurnya?  Adil, kan, Denia paling muda dan gue paling tua.  Sudah kita mulai tugas kita.”
            Ada ketidak nyamanan, khawatir memikirkan keselamatan Bang Gofat.  Detak jantungku makin kencang membayangkan hal yang tidak baik akan menimpa kami. 
            “Mas Bondan, kunci dulu ruang band kita.  Siapa tahu Dimon ingin mencuri alat-alat kita.”  Aku mengingatkan Mas Bondan.
            “Oh, Iya, betul juga Denia.”  Kami batal latihan minggu ini.  Disamping Bang Gofat dan Bang Dekky belum datang, kami juga ingin memastikan keadaan baik-baik saja.  Terutama keadaan Bang Gofat.
            “Apa tidak sebaiknya kita telpon Bang Gofat dan Bang Dekky.  Sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan. 
            “Gue akan menghubungi mereka sambil jalan. Lo yang ngawasin sekitar, ya, Denia!”
            Kami menyusuri lantai dua, sementara Kak Arul dan Biandra memeriksa lantai tiga.  Kifli dan Nindi di lantai satu.  Ruang latihan kami ada di lantai dua ini.
            Aku memeriksa dengan waspada tiap sudut bekas petak pertokoan yang sudah mulai mengelupas dinding-dindingnya.  Tidak ada yang mencurigakan kecuali besar  tulisan di dinding “Debiduband Fuck” dengan cat merah tak beraturan.
            “Mas Bondan lihat tulisan itu.  Mereka ada di sekitar sini dan tahu tempat berlatih kita.”
            “Gawat, berarti kita dalam bahaya. Nada dering tersambung ke Bang Gofat tapi tak diangkatnya juga.  Aku akan coba ke Bang Dekky.”
            Detak jantungku makin kencang saat terlihat ada sosok berkelebat dari koridor mall ujung utara sana. 
            “Mas, ada yang berlari di sana.”  Mas Bondan mengeluarkan belatinya.  Aku sendiri selalu membawa ketepel dan beberapa kerikil untuk bela diri.  Jalanan terlampau menindas kita tanpa alat-alat itu.
            “Bang tolong ke tempat latihan kita Bang, sekarang juga.  Kami dalam bahaya.  Ada teror dan ancaman buat Debiduband.”
            Alhamdulillah, Bang Dekky bersedia datang, beliau akan mengajak dua orang temannya yang bertugas di kepolisian.
            Aku minta izin mengarahkan ketepelku pada sosok yang bersembunyi di balik teralis toko.  Aku mengendap-endap supaya tidak ketahuan.  Dan, sasaranku kena, tepat di pelipis.  Sosok iti bengerang kesakitan, darah yang mengujur berusaha ditutup dengan tangannya. 
“Kurang ngajar ternyata kalian nggak bisa dianggap enteng, ya?”  Aku segera lari menuju Mas Bondan.  Kami lebih menguasai medan.  Dari informasi yang coba saling kami tukar ada lima orang yang menyatroni tempat latihan kami.  Mereka di lantai dua dan tiga.   Kami ingin memancing mereka supaya semua turun ke lantai bawah dan mengepung semua pintu masuk kea rah gedung bekas mall itu.  Sebentar lagi Bang Dekky akan sampai ke lokasi.
Kami berkumpul di lantai bawah dan tiba-tiba……
“Awas ada yang melempar ke bawah.”  Mas Bondan memberi isyarat supaya kami jangan berada di tempat terbuka, senjata seperti bintang enam di lempar ke arah kami.  Hampir saja Biandra kena.
Baru saja kami berlindung, sesosok tubuh dilempar dari lantai tiga.
“Bang Gofat!” Aku berteriak mau menghambur ke tubuh tak berdaya itu, tapi Mas Bondan mencegah.  Bahaya Denia.  Jangan ada yang mendekati Bang Gofat.  Kalian akan jadi sasaran senjata bintang itu.
Dari jarak empat meter sosok itu menghembuskan napas terakhir
“La illaha….. illallah……. Muham……mad rasul……ullah.”  Kalimat tauhid terucap dengan berat, menahan rasa sakit yang begitu dalam.  Yang cewek semua menangis, tapi ada yang lebih penting.  Mencegah kawanan itu lari dan terusmengganggu kami.  Dengan segala perasaan tercabik kami menjaga tiga pintu masuk ke gedung itu.
Bersamaan dengan itu seorang polisi menembakkan peluru ke udara bersama asap yang keluar dari moncong pistolnya.  Suasana mencekam begitu kental. 
Aku mencoba menggunakan ketepelku ke arah lantai tiga, seseorang berkaos hitam dan berpenutup muka terkena bidikanku.   Dendam membara atas meninggalnya Bang Gofat.  Seseorang yang paling menyayangi aku lebih dari siapapun saat itu.
 Begitu tahu ada tembakan, mereka mengangkat tangannya dan turun satu-satu. Begitu keadaan terkendali, kami semua berkumpul di tempat Bang Gofat menghembuskan napas terakhir.
Polisi memborgol tangan mereka dan membuka penutup wajah itu satu-satu.
Kami menghambur ke jenasah Bang Gofat.  Seseorang yang kami kenal jahat pada awal pertemuan kami.  Hijrah menjadi sosok penyayang.  Dalam waktu kurang dari tiga bulan, harus kembali dengan kondisi yang menyedihkan.  Tusukan di bagian dada itu masih meneteskan darah segar. Memerahkan baju takwa putih yang dipakainya.
Wajahnya tidak tergores luka, bahkan bercahaya dan tersenyum.  Aku belum pernah melihat raut wajah sebersih itu dan senyuman sebahagia itu sebelumnya selain senyum jenazah ibu.  Semoga dua orang yang sangat aku sayangi itu syahid.
***
Air mata Denia kembali berlinang.  Aku menghapusnya dengan tissue.
“Lalu yang memakai topeng itu siapa, Denia?”tanyaku penasaran
“Seseorang yang mengaku Dimon itu ternyata adik Bang Dekky.  Mahasiswa tingkat dua yang terobsesi ingin terkenal dengan segala cara apapun.  Berdukun, hingga memosisikan dirinya sebagai aktor laga dalam dunia nyata.  Bang Gofat yang belum lama menyita kekagumanku. Menjadi  korban obsesinya.”
“Dan korban sesungguhnya justru dirinya sendiri dan teman bayarannya itu.”
Akhirnya Dimon memang beken tapi hanya sesaat dengan menghiasi berita kriminal yang akan mengabadikan keburukannya.  Kerugian abadi, dia telah menghilangkan nyawa tak berdosa.  Bila tidak bertobat, siksa Allah yang pedih di hari pembalasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IMPIAN PENUH KENANGAN

IMPIAN PENUH KENANGAN  Oleh: Farel Kemenangan Tim Bulutangkis SMPN III di tingkat provinsi tahun lalu memberikan semangat yang tak perna...