Kisah Ke-18
SELAMAT JALAN
BANG GOFAT II
#TantanganMenulisDariLagu
#SahabatKabolMenulis
#SeriKisahDenia
#PengenBeken_ProjectPop
Kubiarkan denia
tergugu, mengenang seseorang yang pertama kali bertengger di hatinya. Cinta yang tumbuh karena budi dan kebaikan
sikap. Rasanya perasaan Denia perlahan
menyusup dalam relung kalbuku.
Perlahan Denia
mampu mengendalikan emosi yang sempat melimbungkan raganya. Terlunglai di pangkuanku, aku usap kepalanya
yang selalu terbalut hijab. Dia mengusap air matanya, seolah mengumpulkan
tenaga buat bercerita kembali.
“Bang Gofat,
dipanggil Tuhan dua bulan setelah hijrah dari sikap buruknya. Semoga taubat Bang Gofar diterima, ya, Kak
Mutia.”
“Insyaallah,
Denia. Allah sayang sama Bang Gofat makanya Dia memanggilnya di saat-saat
terbaik. Dia tak ingin Bang Gofat pulang
dalam keadaan kotor dan berlumur dosa kembali.
Karena kita tidak tahu kapan hidayah datang dan kapan dia pergi karena
kelalaia atau godaan sekitar kita.”
“Yang paling
memilukan kami, Bang Gofat meninggal dengan cara tragis, jasadnya dilempar
pembunuhnya, di depan kami saat kami berlatih band entah untuk yang keberapa
kali.”
***
Belakangan sejak
kami punya Debiduband, ada saja teror yang menghampiri kami. Lewat bbm Kifli, Nindi dan Biandra. Dari kami berenam hanya mereka yang punya bbm. Memang mereka gabung dengan kami bukan karena
terpaksa alias miskin tapi lebih karena keluarganya broken. Mereka mencari komunitas yang dianggap bisa
melampiaskan rasa ketidak pedulian keluarga.
“Wah, gawat ada
yang nggak suka kita punya grup band.
Dia nge-bb gue dengan nama Dimon.”
Biandra menunjukkan bbmnya pada kami.
“Coba bacain
Biandra, apa isi lengkapnya.”
“Gue, Dimon. Gue lebih berhak buat punya grup band
daripada elo. Gue adik Bank Dekky. Asal lo pada tahu, gue punya impian buat
beken. Abang gue beken jadi artis dan
punya grup band. Kakak perempuan gue
juga bintang iklan ternama. Tinggal gue
yang dianggap sampah. Kalau alat-alat
music dari abang gue nggak kalian balikin, jangan salahkan kalau ada peristiwa.” Biandra mencoba mengeja keras tulisan tipo
itu supaya kami semua bisa paham.
“Gue juga dapat
nih, Bian. Gile pengirimnya sama,
Dimon. Siapa dia, ya?”
“Lo Nindi,
ya? Asal kamu tahu gue pingin beken
sampe sekarang nggak kesampean, gue sampe pergi ke dukun buat obsesi gue. Gue malah diledekin sama itu dukun. Emang gue ngerasa muka gue pucet, gigi gue
jarang-jarang dan kuku tangan kue hitem gara-gara bekas kemo waktu masih kecil,
kebanyakan obat. Penyakitan. Gue dari
keluarga kaya. Bisa bayar preman buat
ngabisin kalian. Jadi buat nyingkirin Debiduband menurut gue kelewat
mudah. Berhati-hatilah kalian. Band kalian bakal gue bikin layu sebelum
berkembang.” Gantian Nindi mengeja
ancaman kedua
“Kayaknya yang
ngaku Dimon tuh nggak main-main, ya? “ kak Arul terlihat mulai cemas.
“Kalau bisa di
simpulkan, dia ngaku adik Bang Dekky.
Dia pingin bisa beken, tapi nggak kesampaian. Dia ngiri Bang Dekky ngasih kita alat musik
buat bikin grup band, padahal dia pingin juga dan ngerasa lebih berhak. Sepertinya dia akan melakukan apa saja asal
bisa beken. Bahkan pergi ke dukun pun
dia lakuin.” Aku menyimpulkan dua BBM
berisi ancaman itu.
“Lo ini Denia,
bicaranya sudah macam komentator atau analis di tivi aja.” Biangka nyinyir.
“Gue pikir, bener
kata Denia, kita harus menanyakan ini pada Bang Dekky.” Bondan yang tertua diantara kami sering
mengarahkan kami kalau Bang Gofat sedang tidak ada.
“Biandra, coba
kamu telpon Bang Dekky.” Kak Arul
memberi usulan. Suasana menjadi mencekam
apa kiranya yang akan kami alami.
“Kamu juga Nindi,
telpon Bang Gofat. Di mana dia
sekarang. Aku agak cemas dengan
keadaannya.” Bondan ikut memutar otak,
mencari solusi.
“Rasanya kita
harus menyebar. Memeriksa keadaan di
sekitar bekas mall ini. Kita berpencar dua-dua supaya kalau ada apa-apa bisa
saling bantu. Terus buat memudahkan
komunikasi, harus ada HP di masing-masing kelompok. Gue sama Denia pinjam HP Kifli, Arul sama
Biandra dan Kifli sama Nindi.” Bondan
berpikir cepat.
“Lo nih, Bondan,
dalam keadaan tegang begini masih juga ngembat Denia.” Biandra protes.
“Lo juga, keadaan
runyem masih juga nyemburuin Denia.
Kapan sih, kalian akurnya? Adil,
kan, Denia paling muda dan gue paling tua.
Sudah kita mulai tugas kita.”
Ada ketidak
nyamanan, khawatir memikirkan keselamatan Bang Gofat. Detak jantungku makin kencang membayangkan
hal yang tidak baik akan menimpa kami.
“Mas Bondan, kunci
dulu ruang band kita. Siapa tahu Dimon
ingin mencuri alat-alat kita.” Aku
mengingatkan Mas Bondan.
“Oh, Iya, betul
juga Denia.” Kami batal latihan minggu
ini. Disamping Bang Gofat dan Bang Dekky
belum datang, kami juga ingin memastikan keadaan baik-baik saja. Terutama keadaan Bang Gofat.
“Apa tidak
sebaiknya kita telpon Bang Gofat dan Bang Dekky. Sebelum terjadi hal-hal yang tak
diinginkan.
“Gue akan
menghubungi mereka sambil jalan. Lo yang ngawasin sekitar, ya, Denia!”
Kami menyusuri
lantai dua, sementara Kak Arul dan Biandra memeriksa lantai tiga. Kifli dan Nindi di lantai satu. Ruang latihan kami ada di lantai dua ini.
Aku memeriksa
dengan waspada tiap sudut bekas petak pertokoan yang sudah mulai mengelupas
dinding-dindingnya. Tidak ada yang
mencurigakan kecuali besar tulisan di
dinding “Debiduband Fuck” dengan cat merah tak beraturan.
“Mas Bondan lihat
tulisan itu. Mereka ada di sekitar sini
dan tahu tempat berlatih kita.”
“Gawat, berarti
kita dalam bahaya. Nada dering tersambung ke Bang Gofat tapi tak diangkatnya
juga. Aku akan coba ke Bang Dekky.”
Detak jantungku
makin kencang saat terlihat ada sosok berkelebat dari koridor mall ujung utara
sana.
“Mas, ada yang
berlari di sana.” Mas Bondan
mengeluarkan belatinya. Aku sendiri
selalu membawa ketepel dan beberapa kerikil untuk bela diri. Jalanan terlampau menindas kita tanpa
alat-alat itu.
“Bang tolong ke
tempat latihan kita Bang, sekarang juga.
Kami dalam bahaya. Ada teror dan
ancaman buat Debiduband.”
Alhamdulillah,
Bang Dekky bersedia datang, beliau akan mengajak dua orang temannya yang
bertugas di kepolisian.
Aku minta izin
mengarahkan ketepelku pada sosok yang bersembunyi di balik teralis toko. Aku mengendap-endap supaya tidak
ketahuan. Dan, sasaranku kena, tepat di
pelipis. Sosok iti bengerang kesakitan,
darah yang mengujur berusaha ditutup dengan tangannya.
“Kurang ngajar
ternyata kalian nggak bisa dianggap enteng, ya?” Aku segera lari menuju Mas Bondan. Kami lebih menguasai medan. Dari informasi yang coba saling kami tukar
ada lima orang yang menyatroni tempat latihan kami. Mereka di lantai dua dan tiga. Kami ingin memancing mereka supaya semua
turun ke lantai bawah dan mengepung semua pintu masuk kea rah gedung bekas mall
itu. Sebentar lagi Bang Dekky akan
sampai ke lokasi.
Kami berkumpul
di lantai bawah dan tiba-tiba……
“Awas ada yang
melempar ke bawah.” Mas Bondan memberi
isyarat supaya kami jangan berada di tempat terbuka, senjata seperti bintang
enam di lempar ke arah kami. Hampir saja
Biandra kena.
Baru saja kami
berlindung, sesosok tubuh dilempar dari lantai tiga.
“Bang Gofat!”
Aku berteriak mau menghambur ke tubuh tak berdaya itu, tapi Mas Bondan
mencegah. Bahaya Denia. Jangan ada yang mendekati Bang Gofat. Kalian akan jadi sasaran senjata bintang itu.
Dari jarak
empat meter sosok itu menghembuskan napas terakhir
“La illaha…..
illallah……. Muham……mad rasul……ullah.”
Kalimat tauhid terucap dengan berat, menahan rasa sakit yang begitu
dalam. Yang cewek semua menangis, tapi
ada yang lebih penting. Mencegah kawanan
itu lari dan terusmengganggu kami.
Dengan segala perasaan tercabik kami menjaga tiga pintu masuk ke gedung
itu.
Bersamaan
dengan itu seorang polisi menembakkan peluru ke udara bersama asap yang keluar
dari moncong pistolnya. Suasana mencekam
begitu kental.
Aku mencoba
menggunakan ketepelku ke arah lantai tiga, seseorang berkaos hitam dan
berpenutup muka terkena bidikanku.
Dendam membara atas meninggalnya Bang Gofat. Seseorang yang paling menyayangi aku lebih
dari siapapun saat itu.
Begitu tahu ada tembakan, mereka mengangkat
tangannya dan turun satu-satu. Begitu keadaan terkendali, kami semua berkumpul
di tempat Bang Gofat menghembuskan napas terakhir.
Polisi
memborgol tangan mereka dan membuka penutup wajah itu satu-satu.
Kami menghambur
ke jenasah Bang Gofat. Seseorang yang
kami kenal jahat pada awal pertemuan kami.
Hijrah menjadi sosok penyayang.
Dalam waktu kurang dari tiga bulan, harus kembali dengan kondisi yang
menyedihkan. Tusukan di bagian dada itu
masih meneteskan darah segar. Memerahkan baju takwa putih yang dipakainya.
Wajahnya tidak
tergores luka, bahkan bercahaya dan tersenyum.
Aku belum pernah melihat raut wajah sebersih itu dan senyuman sebahagia
itu sebelumnya selain senyum jenazah ibu.
Semoga dua orang yang sangat aku sayangi itu syahid.
***
Air mata Denia
kembali berlinang. Aku menghapusnya
dengan tissue.
“Lalu yang
memakai topeng itu siapa, Denia?”tanyaku penasaran
“Seseorang yang
mengaku Dimon itu ternyata adik Bang Dekky.
Mahasiswa tingkat dua yang terobsesi ingin terkenal dengan segala cara
apapun. Berdukun, hingga memosisikan
dirinya sebagai aktor laga dalam dunia nyata.
Bang Gofat yang belum lama menyita kekagumanku. Menjadi korban obsesinya.”
“Dan korban
sesungguhnya justru dirinya sendiri dan teman bayarannya itu.”
Akhirnya Dimon
memang beken tapi hanya sesaat dengan menghiasi berita kriminal yang akan
mengabadikan keburukannya. Kerugian
abadi, dia telah menghilangkan nyawa tak berdosa. Bila tidak bertobat, siksa Allah yang pedih
di hari pembalasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar