Senin, 19 November 2018

Kisah Ke-36 (Tamat)


Kisah Ke-36
MAAFKAN AKU
#TantanganMenulisdariLagu
#SeriKisahDenia
#SahabatKabolMenulis
#ManusiaBiasaYovy-Nuno

            Pernikahan Bagas dan Hasna menjadi pernikahan paling mengharukan yang pernah aku saksikan.  Foto-foto prosesinya aku kirim ke Mas Lukman.
            Tidak ada ekspresi cemburu yang Denia siratkan di wajahnya.  Yang ada justru perasaan lega seakan terbebas dari himpitan batu.  Perasaan bersalah karena membiarkan sesamanya menderita oleh sesuatu yang tak bisa dipahami.
            Kondisi Hasna yang sangat cepat membaik begitu akad diucapkan, masih membekaskan keheranan pada hampir semua yang hadir.  Tak terkecuali aku.  Namun saat aku kembali pada keyakinan atas kuasa Tuhan, rasa heran itu perlahan sirna.
            Pesta syukuran di café Aufy IKWK berlangsung sederhana namun khidmat.  Ditutup dengan doa bersama untuk tiga sijoli dalam mahligai rumah tangga penuh cinta.
            Aku membantu Denia dan Bagas, menyiapkan kehadiran Hasna di rumah sewa yang tidak seluas apartemen Hasna.  Awalnya Hasna menawarkan apartemennya untuk mereka berlima.  O’ya,  kami hampir lupa menyiapkan nama untuk si bayi mungil yang baru lahir tadi pagi.  Ada beberapa usulan nama.
“Untuk menyambut kehadiran Mbak Hasna, aku setuju dengan nama yang Mbak Hasna usulkan.    Denia memberi penghormatan tulus untuk Hasna.
“Aku rasa ada yang lebih berhak.  Mas Bagas saja sebagai ayahnya.”  Hasna berusaha menghargai Bagas.
Bagas terasa bahagia dengan dua bidadarinya yang cantik dan salehah.  Diapit Denia dan Hasna, Bagas meraih pundak dua istinya.   Mereka berpelukan sangat mesra.  Masyaallah, walhamdulillah.  Aku yakin mereka akan dapat mewujudkan keluarga contoh.
“Kalau begitu, aku sudah menyiapkan nama Putri Hasna Amania Bagaskara.  Apakah kalian suka dengan nama yang aku sarankan?”
Nampaknya semua setuju, mereka mengakhiri perbincangan di ruangtengah dengan derai tawa.
Kondisi Denia masih cukup lemah setelah melahirkan Puput.  Ia sangat ingin menyiapkan kamar pengantin untuk adik dan suaminya.  Tapi apa  daya, akhirnya ia meminta tolong padaku untuk menyiapkan semuannya. 
Hasna berpamitan untuk pergi ke apartemennya, bersama Pak Kuncoro dan Istri.  Tinggallah kami berlima, Denia, Bagas, aku dan dua keponakanku.
“Biru punya ummi baru ya Ummi? Tanya Biru riang.
Aku mengambil Biru dan menggendongnya.  Kesibukan hari ini membuatku lupa memanjakan Biru.
“Iya, Biru, kamu bisa memanggil Bu Hasna dengan sebutan ‘ummu’ atau tanyakan padanya ingin dipanggil dengan sebutan apa.”  Aku mengeluarkan oleh-oleh sebungkus coklat khas Indonesia Chocodot.  Biru menerimanya dengan riang.  Ia langsung minta turun dari gendonganku.  Tampaknya Biru tak sabar menikmati coklat-coklat itu.
“Mas, malam ini adalah malam istimewa terutama buat Mbak Hasna.  Mas harus bisa seistimewa malam pertama kita.”
“Doakan saja Denia.  Sebenarnya aku takut bila hatiku tak bisa berbuat adil.  Rasa-rasanya tetap kamu yang menempati sebagian besar perasaanmu.”
“Jangan khawatir, Mas.  Mas Bagas akan bisa melewatinya.  Biar perasaan itu menjadi privasi Mas Bagas dan Allah.  Yang penting jangan sampai Mbak Hasna tahu.  Lagi pula dalam agama kita ada perintah ahkum bi zawahir.  Kita diperintahkan untuk menghukumi yang tampak.  Kalau masalah hati, Denia juga harus banyak beristighfar.”
“Jadi hati kamu sebenarnya sakit Denia?”  Bagas menampakkan wajah sedihnya.
“Tuh, kan.  Mas Bagas sok tahu.  Bukankah Rasulullah yang dijamin surge selalu beristighfar?”  Denia mencubit dua pipi Bagas gemas.
Akhirnya kami membagi tugas.  Aku kebagian menata kamar malam pertama Bagas dan Hasna.  Lampu kamar aku ganti dengan warna pink.  Temaram tapi romantis.  Bedcover, sarung bantal dan guling semua baru dan wangi.  Rupanya Denia sudah menyiapkan jauh-jauh hari. Warna biru senada untuk semua pernak-pernik di kamar tidur.
Bunga segar dan wangi semacam sedap malam yang Denia pesan online segera tiba.  Aku masukkan dalam vas tembikar berisi air.  Pewangi ruangan bunga lavender aku semprotkan di tiap sudut kamar berukuran enam kali tujuh yang lengkap dengan kamar mandi itu.  Di samping spring bad, aku hamparkan dua sajadah dan lapisan sajadah putih di atasnya. 
“Mbak ini ramuan yang biasa kami minum sebelum melakukan ibadah cinta.”  Denia memberikan dua sachet minuman jamu.  Aku tersenyum dengan keikhlasannya.
Bakda Maghrib Hasna datang diantar paman dan buliknya.  Bu Kuncoro langsung berpamitan setelah membantu Hasna memasukkan barang bawaannya.
Kok, lajeng keseso, Bu.  Mbok pinarak rumiyin.”
Tasih wonten perkawis ingkang kedah dipuntingkasaken wonten apartemen Hasna.  Nyuwun pangapunten, sanes wedal insyaallah waget kitha lajengaken malih.”  Bu Koncoro menolak dengan santun.
“Lagi pula kalau penuh orang rumah ini bakalan mengganggu pengantin mala mini.”  Pak Kuncoro menggoda Hasna dan Bagas.  Denia pun ikut tersenyum.
Kami kembali duduk di ruang tengah.  Hasna mengeluarkan beberapa barang  untuk semua anggota keluarga barunya.
“Denia, ini cincin aku kembalikan, bagaimanapun Mas Bagas pinjam dari kamu.  Nggak baik mahar diambil kembali.”  Sebentuk cincin persis dengan cincin Denia  dikeluarkan Hasna dari tasnya dan diserahkannya pada Bagas.
Sungguh ajaib kenapa bisa sama?  Ternyata Hasna punya teman pembuat cincin.  Ia memesan satu lagi cincin identik. Cincin Denialah yang dijadikan masternya.
Hasna mengeluarkan uang dua ribu euro.  Ini uang seribu euro yang Mas Bagas pinjam dari kamu.  Seibu euro buat Mas Bagas.
Bagas tiba-tiba berubah raut muka dan meninggalkan ruang tengah.
“Maaf aku ada perlu sebentar.”  Sebentuk senyuman yang dipaksakannya mengakhiri kehangatan sore itu.
Aku mencoba menyusul Bagas.  Tidak mungkin Denia yang menyusulnya.  Langkahnya masih lambat. 
Benar saja Bagas ada di perpustakaan IKWK.  Bersama beberapa pengunjung yang khusyuk membuka jendela ilmu.  Akan tetapi tidak demikian dengan Bagas.  Ia membuka buku tanpa membacanya dengan benar.  Sekedar melampiaskan kegundahan.
“Assalamu’alaikum, Bagas.”
“Wa’alaikum salam.  Kak Mutia nggak perlu merayuku untuk pulang ke rumah.  Nanti juga aku akan pulang.”  Karakter Bagas yang satu ini sangat aku pahami.  Dia akan menghindar bila takut marahnya meledak.  Ia akan pulang dengan kata-kata bijak untuk menyelesaikan permasalahan.  Dia hanya perlu mengatur emosinya.
“Aku tahu kamu akan segera memaafkan Hasna.  Lagi pula bukan maksud dia mau merendahkanmu sebagai suami.  Aku yakin semua karena sifat pemurahnya yang sesuai dengan kantong tebal yang dia miliki.”
“Justru itu, Mbak.  Rasanya salah aku menikahi Hasna yang sangat jauh status sosialnya dengan kami.  Bukankah aku akan makin kehilangan wibawa kalau tanganku selalu di bawah.”
“Ini aku bawa rekening usaha kalian.  Kelebihan sisa hasil usaha dari yang aku transfer pada kalian, aku tabung di sini.  Semoga bisa kalian manfaatkan.  Maksudku bukan untuk menjerat kalian pada perlombaan mempertahankan harga diri.  Tapi setidaknya, kamu harus mendidik Hasna.  Mengarahkannya hartanya untuk hal-hal bermanfaat dan bernilai ibadah.  Bukankah kamu dan Denia ingin membuat komunitas seperti AUG GmbH?”
Bagas menarik napas panjang.  Dia bisa memahami masukan dariku.  Aku pulang lebih awal ke rumah sewa utama.  Untuk menghindari kecurigaan bahwa aku menyusul Bagas.
Di ruang tengah Denia dan Hasna berbincang serius.  Bahkan aku dengar mereka sudah bersepakat mengubah panggilan.  Hasna memanggil Denia dengan panggilan Ummi dan Denia memanggil Hasna dengan panggilan Ummu.  Perkembangan yang bagus.
Menjelang Isya, Bagas datang.  Disambut Hasna dengan permintaan maaf dan isakan air mata.
“Mas Bagas, maafin aku.  Mungkin aku sudah menyinggung perasaanmu.  Tapi sama sekali bukan maksudku merendahkan Mas Bagas.  Aku lakukan ini karen aku sayang kalian.”  Hampir saja Hasna mencium kaki Bagas kalau Bagas tidak segera meraih pundaknya.
“Sudah, Ummu jangan menangis.  Abi tahu niat baik Ummu.  Saya justru berterimakasih punya istri berhati pemurah.  Tapi simpan saja uang itu semuanya.  Ini ada seribu euro untuk Ummi dan Ummu.  Justru Abi minta maaf sudah membuat kalian berdua cemas.”
Denia memandang heran pada suaminya.  Darimana Bagas punya uang sebanyak itu.  Dia tahu persis isi kantong Bagas, suaminya.
“Tanyakan saja pada Kak Mutia.  Ummi nggak perlu mencurigai Abi seperti itu.”  Aku sedikit geli dengan sebutan baru Bagas, tapi semua mengalir alami.  Nampaknya keharmonisan akan mewarnai keluarga ini.
Aku tersenyum melihat mereka berpelukan.  Sambil berdoa semoga suatu saat aku bisa merasakannya bersama Mas Lukman.  Tapi entah dengan siapa Mas Lukman berjodoh setelah aku.

EPILOG:
Malam ini setan kembali menangis, godaannya untuk kesengsaraan Bani Adam kembali gagal total. Nafsu-nafsu yang bertengger pada hati dan jiwa manusia telah berubah karena cinta.  Cinta yang dititipkan oleh Sang Maha Cinta.  Arrahman, Arrahim, Allathif, Alwadud dan Alhalim.  Sibghah Allah menggantikan mazmumah menjadi mahmudah.
Tugasku dari Mas Lukman sudah selesai empat hari aku di Berlin dan Frankfurt. Besok sore aku akan terbang ke Jakarta membawa rasa rindu yang dalam. Lima hari berpisah dengan komunikasi yang tidak begitu lancar, membuatku sedikit tersiksa.  Hanya Allah penghibur setiaku.
  Pagi hari aku diajak Hasna melihat apartemennya di Apartemen Downtown Invalidenstrasse 129, Mitte, Berlin, Jerman.  Dua lantai sudah menjadi miliknya.   Apartemen mewah dan indah bernuansa biru dan ungu. Semua dibuat senada dalam nuansa warna itu.   
Ada delapan belas ruangan lux.  Di lantai 19 ada 10 ruangan di lantai 20 ada 8 ruangan.  Benar-benar modern.  Semua serba automatik dengan sensor yang kadang membuatku kaget.  Aku merasakan betul kenyamanannya. 
Dalam hatiku terselip doa.  Semoga Bagas mampu mendidik dua istrinya.  Mampu mengatur karunia Allah ini dan membawanya kepada perjuangan untuk taat pada Allah dan RasulNya.  Menjadi hamba-hamba yang bertakwa.

GLOSARIUM:
1. “Kok, lajeng keseso, Bu.  Mbok pinarak rumiyin.”= Kok, terus buru-buru, Bu.  Mari silahkan duduk dulu.
2. “Tasih wonten perkawis ingkang kedah dipuntingkasaken wonten apartemen Hasna.  Nyuwun pangapunten, sanes wedal insyaallah waget kitha lajengaken malih.” = Masih ada hal yang harus diselesaikan di apartemen Hasna.  Mohon maaf,lain waktu insyaallah bisa kita lanjutkan lagi
3. Arrahman, Arrahim, Allathif, Alwadud dan Alhalim.=Mahakasih, Mahasayang, Mahalembut, Maha Pencinta dan Mahasantun
4. Sibghah= celupan sifat-sifat baik sebagai petunjuk dari  Allah
5. Mahmudah=sifat baik sebagai lawan dari sifat buruk, seperti pemaaf, kasih sayang, rida pada tiap ketentuan Allah, bertauhid, cinta akhirat, rendah hati, pemurah dll
6. Mazmumah= sifat buruk sebagai lawan dari sifat baik, seperti pendendam, bermusuhan, berburuk sangka dan tidak rida dengan ketentuan Allah,syirik menyekutukan Allah, cinta dunia, sombong,kikir dll
7. Ahkum bizawahir=menghukum dengan yang tampak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IMPIAN PENUH KENANGAN

IMPIAN PENUH KENANGAN  Oleh: Farel Kemenangan Tim Bulutangkis SMPN III di tingkat provinsi tahun lalu memberikan semangat yang tak perna...