Kisah Ke-36
MAAFKAN AKU
#TantanganMenulisdariLagu
#SeriKisahDenia
#SahabatKabolMenulis
#ManusiaBiasaYovy-Nuno
Pernikahan Bagas dan Hasna menjadi
pernikahan paling mengharukan yang pernah aku saksikan. Foto-foto prosesinya aku kirim ke Mas Lukman.
Tidak ada ekspresi cemburu yang
Denia siratkan di wajahnya. Yang ada justru
perasaan lega seakan terbebas dari himpitan batu. Perasaan bersalah karena membiarkan sesamanya
menderita oleh sesuatu yang tak bisa dipahami.
Kondisi Hasna yang sangat cepat
membaik begitu akad diucapkan, masih membekaskan keheranan pada hampir semua
yang hadir. Tak terkecuali aku. Namun saat aku kembali pada keyakinan atas
kuasa Tuhan, rasa heran itu perlahan sirna.
Pesta syukuran di café Aufy IKWK
berlangsung sederhana namun khidmat.
Ditutup dengan doa bersama untuk tiga sijoli dalam mahligai rumah tangga
penuh cinta.
Aku membantu Denia dan Bagas,
menyiapkan kehadiran Hasna di rumah sewa yang tidak seluas apartemen
Hasna. Awalnya Hasna menawarkan
apartemennya untuk mereka berlima. O’ya, kami hampir lupa menyiapkan nama untuk si
bayi mungil yang baru lahir tadi pagi.
Ada beberapa usulan nama.
“Untuk menyambut kehadiran Mbak Hasna, aku setuju dengan nama
yang Mbak Hasna usulkan. “ Denia memberi penghormatan tulus untuk Hasna.
“Aku rasa ada yang lebih berhak. Mas Bagas saja sebagai ayahnya.” Hasna berusaha menghargai Bagas.
Bagas terasa bahagia dengan dua bidadarinya yang cantik dan
salehah. Diapit Denia dan Hasna, Bagas
meraih pundak dua istinya. Mereka
berpelukan sangat mesra. Masyaallah,
walhamdulillah. Aku yakin mereka akan
dapat mewujudkan keluarga contoh.
“Kalau begitu, aku sudah menyiapkan nama Putri Hasna Amania
Bagaskara. Apakah kalian suka dengan
nama yang aku sarankan?”
Nampaknya semua setuju, mereka mengakhiri perbincangan di
ruangtengah dengan derai tawa.
Kondisi Denia masih cukup lemah setelah melahirkan Puput. Ia sangat ingin menyiapkan kamar pengantin
untuk adik dan suaminya. Tapi apa daya, akhirnya ia meminta tolong padaku untuk
menyiapkan semuannya.
Hasna berpamitan untuk pergi ke apartemennya, bersama Pak
Kuncoro dan Istri. Tinggallah kami
berlima, Denia, Bagas, aku dan dua keponakanku.
“Biru punya ummi baru ya Ummi? Tanya Biru riang.
Aku mengambil Biru dan menggendongnya. Kesibukan hari ini membuatku lupa memanjakan
Biru.
“Iya, Biru, kamu bisa memanggil Bu Hasna dengan sebutan
‘ummu’ atau tanyakan padanya ingin dipanggil dengan sebutan apa.” Aku mengeluarkan oleh-oleh sebungkus coklat
khas Indonesia Chocodot. Biru
menerimanya dengan riang. Ia langsung
minta turun dari gendonganku. Tampaknya
Biru tak sabar menikmati coklat-coklat itu.
“Mas, malam ini adalah malam istimewa terutama buat Mbak
Hasna. Mas harus bisa seistimewa malam
pertama kita.”
“Doakan saja Denia.
Sebenarnya aku takut bila hatiku tak bisa berbuat adil. Rasa-rasanya tetap kamu yang menempati
sebagian besar perasaanmu.”
“Jangan khawatir, Mas.
Mas Bagas akan bisa melewatinya.
Biar perasaan itu menjadi privasi Mas Bagas dan Allah. Yang penting jangan sampai Mbak Hasna
tahu. Lagi pula dalam agama kita ada
perintah ahkum bi zawahir. Kita
diperintahkan untuk menghukumi yang tampak.
Kalau masalah hati, Denia juga harus banyak beristighfar.”
“Jadi hati kamu sebenarnya sakit Denia?” Bagas menampakkan wajah sedihnya.
“Tuh, kan. Mas Bagas
sok tahu. Bukankah Rasulullah yang
dijamin surge selalu beristighfar?”
Denia mencubit dua pipi Bagas gemas.
Akhirnya kami membagi tugas.
Aku kebagian menata kamar malam pertama Bagas dan Hasna. Lampu kamar aku ganti dengan warna pink. Temaram tapi romantis. Bedcover, sarung bantal dan guling semua baru
dan wangi. Rupanya Denia sudah
menyiapkan jauh-jauh hari. Warna biru senada untuk semua pernak-pernik di kamar
tidur.
Bunga segar dan wangi semacam sedap malam yang Denia pesan
online segera tiba. Aku masukkan dalam
vas tembikar berisi air. Pewangi ruangan
bunga lavender aku semprotkan di tiap sudut kamar berukuran enam kali tujuh
yang lengkap dengan kamar mandi itu. Di
samping spring bad, aku hamparkan dua sajadah dan lapisan sajadah putih di
atasnya.
“Mbak ini ramuan yang biasa kami minum sebelum melakukan
ibadah cinta.” Denia memberikan dua
sachet minuman jamu. Aku tersenyum
dengan keikhlasannya.
Bakda Maghrib Hasna datang diantar paman dan buliknya. Bu Kuncoro langsung berpamitan setelah
membantu Hasna memasukkan barang bawaannya.
“Kok, lajeng keseso, Bu.
Mbok pinarak rumiyin.”
“Tasih wonten perkawis ingkang kedah dipuntingkasaken
wonten apartemen Hasna. Nyuwun
pangapunten, sanes wedal insyaallah waget kitha lajengaken malih.” Bu Koncoro menolak dengan santun.
“Lagi pula kalau penuh orang rumah ini bakalan mengganggu
pengantin mala mini.” Pak Kuncoro
menggoda Hasna dan Bagas. Denia pun ikut
tersenyum.
Kami kembali duduk di ruang tengah. Hasna mengeluarkan beberapa barang untuk semua anggota keluarga barunya.
“Denia, ini cincin aku kembalikan, bagaimanapun Mas Bagas
pinjam dari kamu. Nggak baik mahar
diambil kembali.” Sebentuk cincin persis
dengan cincin Denia dikeluarkan Hasna
dari tasnya dan diserahkannya pada Bagas.
Sungguh ajaib kenapa bisa sama? Ternyata Hasna punya teman pembuat
cincin. Ia memesan satu lagi cincin
identik. Cincin Denialah yang dijadikan masternya.
Hasna mengeluarkan uang dua ribu euro. Ini uang seribu euro yang Mas Bagas pinjam
dari kamu. Seibu euro buat Mas Bagas.
Bagas tiba-tiba berubah raut muka dan meninggalkan ruang
tengah.
“Maaf aku ada perlu sebentar.” Sebentuk senyuman yang dipaksakannya
mengakhiri kehangatan sore itu.
Aku mencoba menyusul Bagas.
Tidak mungkin Denia yang menyusulnya.
Langkahnya masih lambat.
Benar saja Bagas ada di perpustakaan IKWK. Bersama beberapa pengunjung yang khusyuk
membuka jendela ilmu. Akan tetapi tidak
demikian dengan Bagas. Ia membuka buku
tanpa membacanya dengan benar. Sekedar
melampiaskan kegundahan.
“Assalamu’alaikum, Bagas.”
“Wa’alaikum salam. Kak
Mutia nggak perlu merayuku untuk pulang ke rumah. Nanti juga aku akan pulang.” Karakter Bagas yang satu ini sangat aku
pahami. Dia akan menghindar bila takut
marahnya meledak. Ia akan pulang dengan
kata-kata bijak untuk menyelesaikan permasalahan. Dia hanya perlu mengatur emosinya.
“Aku tahu kamu akan segera memaafkan Hasna. Lagi pula bukan maksud dia mau merendahkanmu
sebagai suami. Aku yakin semua karena
sifat pemurahnya yang sesuai dengan kantong tebal yang dia miliki.”
“Justru itu, Mbak.
Rasanya salah aku menikahi Hasna yang sangat jauh status sosialnya
dengan kami. Bukankah aku akan makin
kehilangan wibawa kalau tanganku selalu di bawah.”
“Ini aku bawa rekening usaha kalian. Kelebihan sisa hasil usaha dari yang aku
transfer pada kalian, aku tabung di sini.
Semoga bisa kalian manfaatkan.
Maksudku bukan untuk menjerat kalian pada perlombaan mempertahankan
harga diri. Tapi setidaknya, kamu harus
mendidik Hasna. Mengarahkannya hartanya
untuk hal-hal bermanfaat dan bernilai ibadah.
Bukankah kamu dan Denia ingin membuat komunitas seperti AUG GmbH?”
Bagas menarik napas panjang.
Dia bisa memahami masukan dariku.
Aku pulang lebih awal ke rumah sewa utama. Untuk menghindari kecurigaan bahwa aku
menyusul Bagas.
Di ruang tengah Denia dan Hasna berbincang serius. Bahkan aku dengar mereka sudah bersepakat
mengubah panggilan. Hasna memanggil
Denia dengan panggilan Ummi dan Denia memanggil Hasna dengan panggilan
Ummu. Perkembangan yang bagus.
Menjelang Isya, Bagas datang.
Disambut Hasna dengan permintaan maaf dan isakan air mata.
“Mas Bagas, maafin aku.
Mungkin aku sudah menyinggung perasaanmu. Tapi sama sekali bukan maksudku merendahkan
Mas Bagas. Aku lakukan ini karen aku
sayang kalian.” Hampir saja Hasna
mencium kaki Bagas kalau Bagas tidak segera meraih pundaknya.
“Sudah, Ummu jangan menangis.
Abi tahu niat baik Ummu. Saya
justru berterimakasih punya istri berhati pemurah. Tapi simpan saja uang itu semuanya. Ini ada seribu euro untuk Ummi dan Ummu. Justru Abi minta maaf sudah membuat kalian berdua
cemas.”
Denia memandang heran pada suaminya. Darimana Bagas punya uang sebanyak itu. Dia tahu persis isi kantong Bagas, suaminya.
“Tanyakan saja pada Kak Mutia. Ummi nggak perlu mencurigai Abi seperti
itu.” Aku sedikit geli dengan sebutan
baru Bagas, tapi semua mengalir alami.
Nampaknya keharmonisan akan mewarnai keluarga ini.
Aku tersenyum melihat mereka berpelukan. Sambil berdoa semoga suatu saat aku bisa
merasakannya bersama Mas Lukman. Tapi
entah dengan siapa Mas Lukman berjodoh setelah aku.
EPILOG:
Malam ini setan kembali menangis, godaannya untuk
kesengsaraan Bani Adam kembali gagal total. Nafsu-nafsu yang bertengger pada
hati dan jiwa manusia telah berubah karena cinta. Cinta yang dititipkan oleh Sang Maha Cinta. Arrahman, Arrahim, Allathif, Alwadud dan Alhalim. Sibghah Allah menggantikan mazmumah
menjadi mahmudah.
Tugasku dari Mas Lukman sudah selesai empat hari aku di
Berlin dan Frankfurt. Besok sore aku akan terbang ke Jakarta membawa rasa rindu
yang dalam. Lima hari berpisah dengan komunikasi yang tidak begitu lancar,
membuatku sedikit tersiksa. Hanya Allah
penghibur setiaku.
Pagi hari aku diajak
Hasna melihat apartemennya di Apartemen Downtown Invalidenstrasse 129, Mitte, Berlin, Jerman. Dua lantai sudah menjadi miliknya. Apartemen mewah dan indah bernuansa biru dan
ungu. Semua dibuat senada dalam nuansa warna itu.
Ada
delapan belas ruangan lux. Di lantai 19
ada 10 ruangan di lantai 20 ada 8 ruangan.
Benar-benar modern. Semua serba
automatik dengan sensor yang kadang membuatku kaget. Aku merasakan betul kenyamanannya.
Dalam
hatiku terselip doa. Semoga Bagas mampu
mendidik dua istrinya. Mampu mengatur
karunia Allah ini dan membawanya kepada perjuangan untuk taat pada Allah dan
RasulNya. Menjadi hamba-hamba yang
bertakwa.
GLOSARIUM:
1. “Kok, lajeng keseso, Bu. Mbok pinarak rumiyin.”= Kok, terus buru-buru, Bu. Mari silahkan duduk dulu.
1. “Kok, lajeng keseso, Bu. Mbok pinarak rumiyin.”= Kok, terus buru-buru, Bu. Mari silahkan duduk dulu.
2.
“Tasih wonten perkawis ingkang kedah dipuntingkasaken wonten apartemen
Hasna. Nyuwun pangapunten, sanes wedal
insyaallah waget kitha lajengaken malih.” = Masih ada hal yang harus
diselesaikan di apartemen Hasna. Mohon
maaf,lain waktu insyaallah bisa kita lanjutkan lagi
3.
Arrahman, Arrahim, Allathif, Alwadud dan Alhalim.=Mahakasih, Mahasayang,
Mahalembut, Maha Pencinta dan Mahasantun
4.
Sibghah= celupan sifat-sifat baik sebagai petunjuk dari Allah
5.
Mahmudah=sifat baik sebagai lawan dari sifat buruk, seperti pemaaf, kasih
sayang, rida pada tiap ketentuan Allah, bertauhid, cinta akhirat, rendah hati,
pemurah dll
6.
Mazmumah= sifat buruk sebagai lawan dari sifat baik, seperti pendendam,
bermusuhan, berburuk sangka dan tidak rida dengan ketentuan Allah,syirik
menyekutukan Allah, cinta dunia, sombong,kikir dll
7.
Ahkum bizawahir=menghukum dengan yang tampak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar