Rabu, 04 April 2018

HOWEVER YOU'RE MY MOM



BISMILLAH
HOWEVER YOU’RE MY MOM

            Liburan semester yang dirindukan akhirnya datang juga.  Pesantren Maryam memberi tugas baksos pada tingkat lima untuk mengadakan baksos atau pengabdian masyarakat.  Hal ini sudah menjadi kegiatan rutin santri tingkat lima saat liburan. Kata Pak Kyai, mereka harus mempraktikan apa yang mereka dapat di pesantren.  Menjadi rahmat bagi semesta.
            Kelompok Maryam ada lima orang.  Nena, Puput, Rahma, Ghina dan Maryam.  Lima gadis dengan lima karakter unik.  Nena yang cekatan.  Puput yang manja dan anak ummi banget.  Rahma yang selalu merasa cantik.  Ghina yang anggun penampilannya tapi tegas perkataannya.  Maryam yang pendiam, paling muda namun cerdas.  Kelas akselerasi menjadi langganannya sejak SD. 
            “Kita mau baksos dimana tahun ini?  Kampung aku sudah.  Kompleks perumahan Puput dan Rahma sudah.  Tinggal Ghina dan Maryam nih yang belum kegilir.”  Nena membuka diskusi siang ini di mushola pesantren.
            “Aku usul bagaimana kalau rumah pamanku.  Di sana ada TPA punya pamanku.”  Ghina menawarkan tempat yang cukup menarik buat mereka baksos sambil mengajar anak TPA.
            “Lingkungannya gimana, Ghina?  Maksudku banyak orang yang masih tergolong menengah ke bawah nggak?”  tanya Maryam.  ”Tempat baksos kita nggak boleh jauh dari orang-orang dhuafa.  Nanti sasarannya kurang mengena.  Lagi pula barang-barang yang kita bawa banyakan mie instan dan pakaian layak pakai.”
            “Sepertinya sih, kebanyakan menengah ke atas.  Pamanku tinggal di kompleks perumahan pusat kota.“
            “Kalau kamu, Maryam.  Ada nggak tempat kerabat kamu yang cocok buat baksos kita?”  Ghina menatap Maryam penuh harap.  Kiranya Maryam bisa memberi solusi.
            Maryam terdiam sesaat sambil mengingat-ingat satu persatu kerabatnya yang ada TPA atau diniyah, PAUD atau apa saja tempat anak-anak kecil belajar.  Namun juga mudah mendapati orang dhuafa.
            “Di tempat nenek aku mungkin bisa.  Nenekku punya tempat ngaji bakda Maghrib.  Anak ngajinya juga cukup banyak.  Lebih dari tiga puluh orang waktu aku terakhir mengunjungi beliau.  Tapi sayangnya tempatnya agak pelosok gitu.  Nggak ada jalur angkota atau angkodes yang lewat.  Kendaraan yang bisa masuk cuman ojeg sama delman.”  Maryam menjelaskan panjang lebar.
            “Nggak masalah aku kira.  Yang penting akses jalannya bagus.  Walaupun mungkin belum jalan aspal tapi rata nggak rusak seperti sungai kering bebatuan, kan?”  Rahma mengundang gelak mereka berlima.
            “Jalannya aku jamin bagus.  Walaupun nggak diaspal tapi batu-batu tua dan keras tertata rapi.  Artistik malah.”
            Mereka berlima merasa mendapat solusi dari kebuntuan tentang tempat baksos mereka.  Binar-binar bahagia memancar dari wajah lima gadis ayu, berbalut gamis dan jilbab lebar rapih.
            Pemberangkatan seluruh santri akan dilakukan bakda Dzuhur, selepas mereka makan siang.  Semua disibukkan dengan bebenah barang perbekalan.  Dari lima anggota kelompok yang mereka namai MULIA (Mujahidah Lil ‘Alamin) itu, Maryamlah yang paling sibuk.  Karena dia harus memberi kabar pada Bibi Nisrina tentang rencana baksos kali ini.
            Diambilnya Android dari bagian keamanan untuk mengirim pesan WA pada Bibi Rina.  Asyik bermain dengan tuts Android di pojok ruang asramanya, senyuman merekah mulai menghiasi bibir mungilnya.  Pertanda baik kegiatannya direspon positif oleh keluarga  nenek di Kampung Banyuasih.
kkkkk
            Empat jam perjalanan dari pesantren dengan menaiki minibus.  Perjalanan yang cukup melelahkan bergumul dalam satu kendaraan dengan berbagai aroma penumpang dan barang bawaan mereka.  Belum lagi asap rokok menusuk hidung.  Makin menyesakkan keadaan yang sudah sarat penumpang.  Yang sedikit menolong mereka adalah membuka lebar-lebar jendela minibus.
Akhirnya mereka samapi pada pertigaan menuju kampung Nenek Maryam.  Benar juga kata Maryam, pemandangan yang begitu indah.  Sejauh mata memandang selalu bertemu dengan bukit dan gunung.  Jalanan hanya selebar empat meter.  Belum diaspal namun dipenuhi bebatuan yang tertata meratakan jalan.  Di kanan kiri jalan sawah dan ladang membinarkan harapan petani yang menanamnya.
Mereka sepakat untuk berjalan kaki sambil menunggu delman kosong yang sangat jarang lewat.  Kalaupun ada biasanya selalu penuh penumpang.  Satu-satunya cara menyewa delman yang menuju kota.  Itu juga kalau tidak membawa penumpang  yang mau ke kota.
“Aduh, Maryam...kenapa kamu nggak bilang kalau kita harus jalan kaki begini.  Lihat kulitku yang putih jadi kian merona.  Ntar bakal hitem mukaku ini”  Rahma bersungut-sungut sambil memandangi wajahnya di cermin yang selalu di bawanya kemana-mana.
“Kakiku pegel banget.  Kalau ada mama pasti aku udah digendong, nih!”  Puput makin meramaikan suasana sore itu.
“Masya Alloh, kalian santriwati.  Nggak zamannya lagi manja macam anak mama dan berlagak sok cantik macam artis.  Malu sama julukan kalian santriwati.”  Nena menegur kemanjaan Puput dan Rahma.
“Ingat dong pesan Ustadzah Nuri.  Santriwati harus tangguh.  Apalagi kelompok kita Mujahidah.  Mana ada mujahidah letoy nan gemulai.”  Jurus dalil Ghina mulai keluar.
Puput dan Rahma memilih diam daripada harus menelan kalimat-kalimat  dari Ghina.  Gadis anggun namun tugasnya sebagai bagian keamanan melatihnya berkata tegas hingga pedas.  Akhirnya Puput dan Rahma lebih memilih menghela napas panjang saat keluh kesahnya tercekat rasa malu pada julukannya sebagai Santriwati Mulia.
Berjalan setengah jam, akhirnya mereka sampai di depan rumah Nenek Maryam.  Rumah besar dengan interior rumah zaman Belanda.  Rumah yang sudah langka di zaman sekarang.  Bagian depan ada empat anak tangga setinggi satu meter.  Diantara anak tangga dipisahkan oleh bidang miring selebar tiga jengkal orang dewasa.  Batu-batu keras menghiasi pondasi sejajar tangga, bercat hitam di batasi warna putih. 
Setelah mengucapkan salam, muncul sosok wanita paruh baya menjawab salam mereka.  Usianya menjelang enam puluh tahun.  Keriput di wajahnya mulai bermunculan.  Namun bekas-bekas kecantikan masih terlihat nyata pada kulitnya yang putih bersinar.  Cantik alami terpancar dari bekas wudhu yang selalu membasahi wanita ahli ibadah itu.
“Maryam, akhirnya kalian sampai juga.  Nenek sudah menunggu sejak tadi.  Cepat masuk.  Ajak teman kamu ke kamar yang sudah Nenek sediakan.  Setelah itu kalian ke meja makan.  Lihatlah kejutan apa yang Nenek hidangkan buat kalian!”  Keramahan Nenek Maryam sungguh tulus.  Mereka berlima bahagia disambut sedemikian rupa.
“Subhanalloh Nenek, selalu saja bikin Maryam bahagia dan betah buat berlama-lama di sini.”  Maryam menaiki tangga dan mencium tangan keriput penuh berkah itu.  Diikuti keempat temannya. 
Mereka berlima menuju kamar tidur untuk melepas tas punggung mereka masing-masing.  Belum lagi dua tangan kanan kiri menjinjing tas sarat beban. Bekal pakaian dan bahan baksos tentu saja.
“Ayo kita makan!  Jangan sampai nenekku kecewa dengan respon kalian yang menunjukkan selera makan rendah. OK?!” 
“Untuk urusan yang satu itu tentu saja nggak ada malesnya, Maryam.”  Nena selalu semangat untuk urusan perut.  Sesuailah dengan badannya yang paling tambun.
“Hitung-hitung perbaikan gizi.  Selama ini kita belajar qonaah, kan?”  Puput tidak mau kalah semangat
“ Sekarang saatnya belajar bersyukur dengan makan besar.” Rahma dan Ghina saling menimpali hampir bersamaan.  Tertawa renyah memenuhi kamar untuk para gadis berukuran enam kali lima meter itu. 
Mereka segera menuju kamar makan.  Meja makan berbahan kayu mahoni berbentuk bundar, telah penuh dengan segala jenis makanan khas kampung.  Telor kampung mata sapi.  Gulai terong lalap campur daging ayam.  Sambal tomat segar.  Goreng ikan sambel kecap. Lalap daun sawi dangur rebus.  Dan kerupuk udang.  Yang membuat semua istimewa karena makanan ini ada dari tetes keringat Nenek Maryam.  Kecuali kerupuk udang dan gulai.
“Aduh maaf Maryam,  Gulainya tumpah dikit.  Taplak mejanya jadi kotor deh.”  Puput merasa bersalah menumpahkan kuah gulai yang diambilnya.
“Nggak papa cuman dikit, kok? “  Maryam mengambil lap untuk menyusut kuah gulai.  Ada sesuatu di bawah taplak yang membuat gulai itu tumpah rupanya. “Pantesan tumpah Put, ada yang mengganjal di bawah mangkuk gulainya,”  Maryam berusaha mengambil sesuatu dari bawah taplak meja.  Gulungan kertas putih.  Dimasukkannya gulungan kertas itu ke dalam saku gamisnya.  Maryam sangat pantang membuang sampah sembarangan.  Lagi pula ia khawatir kertas itu barang berharga milik nenek.  Ia akan memeriksanya setelah makan dan menyerahkannya pada nenek.
Semua begitu menikmati hidangan petang itu.  Adzan Maghrib memanggil, mengalun merdu.  Mereka  segera berwudhu untuk berjamaah bersama anak-anak ngaji bakda Maghrib di mushola samping rumah nenek.  Bakda Maghrib, mereka langsung membantu mengajar ngaji anak-anak kampung.  Kebahagiaan mewarnai silaturahim yang indah ini.  Mereka segera saling akrab oleh ketulusan kelompok MULIA.
kkkkk
Semua sudah pulas tertidur, kecuali Maryam.  Jarum jam terus berdetak, menemani kesendirian Maryam.  Diliriknya pemberi tahu waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.  Tulisan pada gulungan kertas itu begitu mengganggunya.

Salam Rindu untuk anakku, Lusi.
Akhirnya ibu putuskan untuk berterus terang padamu,Nak.  Ibu menganggap kamu sudah cukup dewasa untuk menerima berita ini.  Semoga juga pengajaran yang kami dapat di pesantren bisa membantumu menerima segala kenyataan ini.
Anakku, ayahmu merantau ke Aceh saat kamu masih dalam kandungan.  Peristiwa Tsunami 2004  menghilangkan jejaknya begitu saja. Kamu terlahir tanpa ayahmu seminggu setelah peristiwa Tsunami.  Ibu mengalami depresi sehingga tidak dapat mengasuhmu dengan baik.  Sepasang suami istri yang baik hati, putra dari Ibu Supardi mengasuhmu sebagai anak angkat.
Ibu menulis surat ini atas izin bapak dan ibu angkatmu supaya kamu tahu nasab yang sesungguhnya.
Anakku, bila kau berkenan, temui ibu di rumah sebelah kanan SD terdekat.  Bila kamu belum siap tak mengapa.  Ibu akan tetap menunggu perjumpaan kita.
Banyuasih, 13 Maret 2018

Semua yang tertera dalam surat itu menyisakan misteri yang tak mudah untuk Maryam.  Siapa Lusi dalam surat itu?  Lalu siapa Ibu Supardi?  Nenek yang dikenalnya bernama  Zainab.  Ibu dan ayah yang mengangkat Lusi sebagai anak pun tidak tertera jelas dalam surat itu.
Hanya satu yang membuat Maryam curiga bahwa dirinya bukan anak kandung dari ayah dan ibunya selama ini.  Ya...sejak usia balig, ayah mulai membatasi keakrabannya.  Ayah melarang Maryam melepas jilbab saat mereka bersama. 
“Ayah mengapa Maryam harus terus berjilbab?  Kan di rumah ini hanya ada kita bertiga?”  Tanya Maryam suatu saat.
“Untuk jaga-jaga Maryam, mana tahu ada sepupu atau tamu yang bukan mahrom kita tiba-tiba datang.  Atau kalau tiba-tiba ada gempa.  Kamu nggak perlu repot-repot cari jilbab.  Bisa langsung lari keluar ke tanah lapang.  Betul, kan?”  Ayah Maryam memberi alasan yang sangat masuk akal dan tak membuatnya curiga.  Kecuali setelah membaca secarik kertas itu.
Ingatan Maryam tertuju pada Ibu Supardi.  Siapa Supardi?  Tiba-tiba Maryam teringat bahwa nama almarhum kakek, suami nenek adalah Supardi.  Tidak salah lagi yang mengadopsi Lusi pasti putra dari nenek.  Dan nenek hanya punya dua anak, Bibi Nisrina dan seseorang yang dianggapnya ayah selama ini.  Sementara itu Bibi Nisrina hanya memiliki tiga anak, semuanya laki-laki.
Air mata Maryam tak terbendung.  Keringat dingin keluar deras membasahi baju tidurnya.  Yang ia mau, pagi segera datang dan ia akan menemui ibu kandungnya.  Siapapun dia.
“Aku harus memastikan semua pada nenek.  Nenek pasti tahu banyak tentang diriku.”  Keputusan inilah yang membuat Maryam mampu memejamkan mata pada akhirnya.
kkkkk
Selepas Subuh, Maryam menanyakan nasabnya pada Nenek.  Semua jamaah sudah meninggalkan mushola, tinggal nenek yang masih meneruskan zikirnya.
“Nek, boleh Maryam menanyakan sesuatu?”  Maryam memulai pembicaraan hati-hati.
“Ada apa Maryam, nampaknya penting sekali?”  Nenek menghentikan putaran tasbihnya.
“Maryam menemukan gulungan kertas ini, di bawah taplak meja makan.  Apakah anak yang bernama Lusi itu aku, Nek?”
Nenek tak segera menjawab, ada gurat kekhawatiran pada wajah sepuhnya.  Ada rasa iba hatinya pada Maryam.  Gadis salehah itu harus mengetahui kenyataan ini pada akhirnya.  Ada rasa takut kehilangan kasih sayang cucu perempuan satu-satunya yang sangat ia sayangi. 
“Maryam, kamu janji nggak marah pada kami yang merahasiakan nasabmu, Nak?
“Tentu tidak, Nek.  Maryam yakin dengan ketulusan kasih sayang keluarga ini.  Semua pasti demi kebaikan Maryam.  Bahkan Maryam berterimakasih atas segala yang telah Maryam terima meskipun tidak ada ikatan darah antara Maryam dan keluarga Nenek.”
“Kemarin, ibu kandungmu tahu kamu akan datang.  Dia membawakan semangkok besar gulai ayam.  Dia juga minta izin menyimpan surat ini.  Nenek tidak bisa melarangnya.  Itu hak dia.  Nenek berdosa kalau memutuskan tali nasab antara kamu dan ibumu, Nak.  Lusi dalam surat itu adalah namamu, pemberian ibumu.”
Semua menjadi jelas.  Lusi adalah nama pemberian ibunya saat masih bayi.
Maryam segera meninggalkan nenek yang melanjutkan putaran tasbihnya.  Diciumnya tangan mulia itu.  Maryam bertekat menemui ibu kandungnya sekarang.
Keremangan pagi hari mulai menyapa.  Angin dingin menusuk kulit.  Kabut pekat makin mengajak manusia pemalas merapatkan balutan selimutnya. Maryam  meminta Ghina, kawan terdekatnya untuk menemaninya memecahkan segala misteri yang menyesakkan dadanya.
Setengah kilometer mereka menyusuri jalan mencari SD terdekat.  Sebuah rumah di sebelah kanan sekolah itu, masih tertutup rapat. Ragu-ragu Maryam menaiki tangga menuju teras.  Rumah itu sepertinya kosong.  Tumah tingkat cukup mewah untuk ukuran rumah di kampung itu.  Bercat putih apel dengan bingkai jendela dan pintu warna biru muda.
“Maryam, sepertinya rumah ini kosong.  Lihat tulisan di pintu itu.”
“Rumah ini menjadi hak milik BPR Daerah Unit Banyuasih. Disegel mulai 13 Maret 2018.”  Maryam mengeja kalimat-kalimat yang menyesakkan dada untuk kedua kalinya.
Batinnya bergumul dengan berbagai pikiran tentang siapa sebenarnya ibu kandungnya?  Mengapa rumah ibu disita?  Apakah ibu bermain riba bank?  Sebesar apa hutang ibu hingga jaminannya sebesar rumah ini?  Bagaimana cara hidup ibu hingga harus terlilit hutang?  Lalu kemana Maryam harus menemui ibu kandungnya?
Segala tanya, kecewa, sedih bercampur aduk dalam benaknya.
“Maryam, kamu yang sabar ya? Ingat nasihat Pak Kyai di pondok.  Seperti apapun orang tua kita, kita tetap harus hormat pada mereka.  Bahkan bila mereka menyembah selain Alloh sekalipun, kita harus pergauli mereka dengan baik. Berbicara lemah lembut pada mereka.  Mengucapkan ‘ah’ pun tidak boleh, bukan?”
“Terimakasih Ghina, kamu sahabatku yang baik.  Bantu aku biar kuat menghadapi ujian ini ya?”  Maryam memeluk sahabat dekatnya itu.  Isak tangisnya tumpah juga.  Seakan  meminta dukungan dari beratnya masalah yang dihadapi.
“Kamu pasti bisa melaluinya.  Percayalah!  Aku akan membantumu sampai kamu bisa bertemu ibu kandungmu.”
Segala ingatan tentang nasihat Pak Kyai dari Ghina membuat Maryam tersenyum.  Dalam hati Maryam berjanji menerima seperti apapun keadaan ibu kandungnya, meskipun berat. 
kkkkk
            Gagal menemui ibu kandungnya, membuat Maryam ingin bertanya banyak hal pada nenek.  Ia yakin neneknya pasti tahu.  Siang menjelang Dzuhur, Maryam menemui nenek di kamarnya.
            Diketuknya pintu perlahan, sambil mengucap salam.  Suara lembut nenek menjawab salamnya dan menyuruhnya masuk.  Maryam segera masuk dan menutup pintu kembali.  Ia tak ingin banyak orang tahu tentang masalah yang dihadapinya kecuali nenek dan Ghina.
            “Bagaimana, Nak.  Kamu sudah bertemu ibumu?”  Nenek begitu antusias ingin mengetahui cerita dari Maryam.
            Maryam menceritakan apa yang ia temukan tadi pagi.  Nenek begitu sabar mendengarkan, ia sudah menduga kisah pilu yang akan ditemui cucu angkatnya itu
            “Nenek bisa membantu Maryam untuk bertemu ibu?”
            “Tentu cucuku.  Tapi Nenek harap kamu tidak kaget atau kecewa dengan apa yang terjadi dengan ibumu.”
            “Supaya tidak kaget, Maryam ingin dengar cerita dari nenek tentang ibu.  Kenapa rumah semewah itu bisa disegel pihak bank, Nek?”
            Nenek mulai bercerita panjang tentang ibu kandung Maryam, Gania.  Ayah Maryam tidak memberi kabar apa-apa dalam sepuluh tahun.  Keluarga Gania memutuskan untuk menikahkan anaknya.  Kali ini seorang pedagang kaya di Banyuasih yang terpesona dengan kecantikan Gania, meminangnya.
            Kehidupan Gania mulai berubah sejak itu.  Kesederhanaan dan kekurangan berubah menjadi serba kecukupan dan kemewahan. 
            “Rupanya kemewahan itu sangat mudah menggelincirkan.  Gaya hidup dan pergaulan ibumu mulai berubah.  Kegemarannya memperbaiki penampilan, teman bergaulnya anggota kelap di tempat fitnessnya.  Sebenarnya semua warga sudah gerah dengan gaya hidupnya yang mencontohkan pergaulan bebas,”  Nenek terdiam menyadari ceritanya yang sudah terlalu dalam.  Ada kekesalan dalam sorot matanya pada perbuatan Gania, yang tidak mau mendengar nasihatnya.
            Maryam disampingnya terus setia mendengar kisah itu.  Air mata mengalir untuk kesekian kalinya hari ini.
            “Teruskan, Nek.” Pinta Maryam
            “Tapi kamu jangan pernah benci ibumu, Maryam.  Cukup perbuatannya yang kita hindari dan dijadikan pelajaran.”
            “Maryam paham, Nek.  Beruntung Maryam tau.  Maryam ingin menyelamatkannya, sebisa mungkin.  Sebelum terlambat.  Sebelum ajal menjemput.” 
            Nenek mengambil sapu tangan menyeka air mata Maryam.  Dalam hatinya, lebih baik Maryam tahu darinya daripada dari orang lain.  Akan lebih menyakitkan hati cucu angkat kesayangannya itu.
            “Gaya hidupnya membuat ia meminjam uang di bank.  Rumah mewah itu menjadi jaminannya.  Ayah tirimu sudah menebusnya dua kali dan untuk ketiga kalinya dia menyerah.  Keputusan terakhir, ayah tirimu menceraikan Gania.”
            “Ya, Alloh, kasihan sekali ibu.....”  Maryam bergumam lirih.
            “Maryam, bagaimanapun dia ibumu.  Jaga rahasia dan kehormatannya.  Nenek tahu banyak tentang Gania, karena nenek selalu berusaha menasihatinya selama ini.  Semoga ujian yang diterimanya kini membuatnya sadar.  Nenek yakin kehadiranmu akan banyak membantunya kembali ke jalan yang Alloh ridhoi.”
            Harapan yang nenek ucapkan mengembangkan senyum di bibir mungil Maryam.  Tekatnya untuk menemui ibu kandungnya dan membangkitkannya dari keterpurukan dan dosa, makin kuat.
            Semoga kau berhasil Maryam, hatimu yang mulia, akan mendatangkan rahmatNya.  Insya Alloh.
ALHAMDULILLAH

DONGENG TEENLIT-GADIS YANG TERPASUNG

Sejak memasuki usia sebelas tahun aku merasa terganggu dengan kemampuanku yang tak biasa. Aku tidak ingin disebut INDIGO dengan kemampuanku ini. Terus terang aku tidak begitu suka melayani mereka yang bertanya tentang esok, lusa atau apapun yang aku lebih tahu dari orang lain.

Juga mimpi malam ini sangat menggangguku.

“Gayatri, tolong aku. Bebaskan aku. Aku sangat menderita di sini!” Gadis manis dengan berhijab rapi. Mukanya bersih bersinar. Sesaat kemudian tertukar dengan wajah kumal, rambut tergerai acak. Meronta-ronta dengan kaki dan tangan terpasung.

“Astaghfirulloh.” Aku terbangun, kemudian bertaawudz dari mimpi aneh dan mengerikan ini.

Pikiranku sesaat menjadi kacau dengan apa yang kulihat dalam mimpi itu. Dari hari ke hari mimpi-mimpi itu seperti kisah bersambung. Bahkan makin sering, sesering aku memejamkan mata untuk tidur. Tak peduli siang, malam atau pagi bakda Subuh karena kelelahan yang amat sangat.

Pada mimpiku yang kesekian, gadis itu terlihat kurus tanpa daya. Tuturnya menampakkan keputusasaan.

“Gayatri, kau tak juga iba padaku? Percayalah aku bukan sosok mengerikan yang kau lihat. Sebenarnya aku seperti kamu juga. Bisa berpikir, merasa, bicara dengan baik. Aku hanya korban ambisi orang-orang dekatku.” Gadis kecil itu terus bercerita

“OK, aku percaya padamu setelah kau begitu sering menemuiku.” Benteng kekakuan mulai bisa aku kalahkan. “Apa yang bisa kulakukan untukmu?”

“Namaku Amrita Priyanti. Untuk mengetahui lebih jauh tentangku kau bisa browsing aku di Geevv searching machine. Ada banyak berita tentang aku di sana.”

“Aku akan berusaha tapi aku tak bisa menjanjikan apa-apa untuk memperbaiki keadaanmu. Tetaplah berdoa, semoga aku bisa melakukan apa yang menjadi harapanmu.”

Sejak aku memutuskan berusaha membantunya, mimpi itu tidak datang lagi. Lagi-lagi kemampuanku yang tak biasa ini menyeretku dalam kesibukan yang tak kuharapkan.

Alhamdulillah, hati nuraniku untuk membantu Amrita yang sangat menderita melebihi rasa ketakpedulianku.

Siang hari, sepulang pemadatan menghadapi ujian nasional, aku langsung menuju warnet. Mengumpulkan segala berita tentang Amrita Priyanti.

Keluarga milyader mengalami kecelakaan tragis. Semua anggota keluarga meninggal kecuali anak tunggalnya. Artis cilik yang sedang naik daun, Amrita Priyanti, sepuluh tahun.
Pihak keluarga korban menduga ada sindikat konglomerasi pesaing sang milyader yang menginginkan kecelakaan terjadi. Persaingan tender menjadi latarbelakang tindak kriminal ini. Satu-satunya anak korban yang selamat, Amrita Priyanti mengalami depresi berat. Kerabat terdekat yang memiliki hak perwalian Amrita memasung Amrita atas permintaan warga sekitar. (www.daynewsindonesia/2016).

Keinginanku untuk membantu Amrita makin kuat. Biasanya makin kuat keinginan, kemampuanku berkomunikasi sudah tidak melalui mimpi lagi. Cukup dengan memejamkan mata. Perkembangan yang bagus. Dengan hanya mengucapkan salam, wajah Amrita akan segera muncul. Bak layar kaca tipis penghubung dua dunia.

“Assalamu’alaikum, Amrita.” Telepati pertamaku aku coba sore itu.

“Waalaikum salam. Bagaimana Gayatri, kamu mau membantuku?”

“Tentu Amrita. Aku butuh banyak informasi darimu. Tentang dimana kamu tinggal. Juga tentang bagaimana keluargamu memutuskan pemasungan terhadap kamu?”

“Ceritanya panjang dan hanya aku yang tahu. Kamu tidak akan bisa mencarinya di dunia maya.” Amrita tersenyum penuh harap. “ Aku dipasung di pulau milik ayahku yang kini dikuasai sepenuhnya oleh pamanku.”

Amrita menyebutkan nama pulau kecil, Pulau Selahitam. Lagi-lagi dia memintaku melihatnya melalui Geevvmap, applikasi pencarian lokasi buatan anak negeri.

“Kamu belum menyebutkan sebab kamu dipasung. Dan kenapa begitu mudah kamu dipasung?” Aku tak sabar mengumpulkan keterangan utuh dari kasus yang membutuhkan kelebihanku ini.

“Pamanku menginginkan seluruh harta ayah. Begitu tahu aku selamat, aku menjadi ancaman gagalnya dia menguasai harta keluargaku. Aku diberi narkoba yang membuatku berperilaku layaknya orang gila. Paman menyebarkan berita bahwa aku depresi. Paman membayar mereka untuk lapor polisi bahwa kalau aku dibiarkan bebas seperti orang normal, aku akan membahayakan nyawa mereka.”

“Lalu bagaimana kamu bisa menemuiku dalam mimpi?”

“Itu karena aku juga memiliki kemampuan seperti kamu. Aku memiliki indra keenam yang banyak diketahui orang.”

Amrita banyak memberi informasi bagaimana aku bisa mencapai Pulau Selahitam, sebuah pulau kecil di sebelah selatan Pulau Sumbawa. Dari ceritanya, terlalu banyak ranjau dipasang di pulau itu.

“Gayatri, aku meminta tolong ke kamu karena kamu anak indigo yang salehah. Kamu rajin ibadah dan berbudi pekerti baik. Cukup dengan salat dua rekaat. Letakkan printsreen dari Pulau Selahitam hasil Geevv Searchingmu, kamu akan sampai. Jangan lupa bawa pasir putih dan baca bismillah kemudian taburkan di sepanjang perjalanan. Kamu akan terhindar dari kejaran para penjaga Pulau Selahitam”

“Apa kamu bisa menjamin dalam usahaku membebaskan kamu nanti, aku akan selamat dari kekejaman pamanmu?” Tiba-tiba telepati terhenti. Aku punya firasat Amrita dalam bahaya.

***

Tidak ada pilihan lain. Aku kumpulkan semua energy keberanian dalam dadaku. Berkorban menyelamatkan gadis yang terzalimi oleh pamannya sendiri. Beruntung aku masih menyimpan pasir putih sisa akuarium air laut yang menghiasi ruang tamu keluargaku. Satu lagi, printscreen Pulau Selahitam.

Aku mengambil wudhu, salat dua rekaat dan petualangan dimulai. Dan aku sampai dalam sekejap.

“Wah pulau ini berantakan sekali. Lautnya kelabu senada dengan langitnya. Pasirnya pun hitam," gumamku

Aku merapikan jilbabku yang berantakan tertiup angin, melewati labirin cukup mendebarkan. Melitas dua dimensi ruang dan waktu. Pengalaman pertamaku berkat informasi dari Amrita.

“Lihat itu ada orang asing memasuki pulau kita! Seorang gadis kecil. Berani sekali dia. Bagaimana dia menemukan tempat ini?” Dua body guard terkaget-kaget dengan kehadiranku. Aku selinglung pengalaman jetlagku yang pertama, tak kalah kaget. Yang ada dalam benakku, melarikan diri dari mereka.

“Cepat kejar!!” Body guard bertubuh tambun kesulitan mengejarku. Namun seorang lagi tinggal sejengkal meraih tanganku.

“Hai, Gayatri….. kamu lupa dengan pasir putihmu?” Sebatang pohon besar di depanku bersuara lembut mengingatkanku.

Aku segera merogoh kantong celana PDL-ku yang berisi pasir putih dan menyebar ke sekelilingku.

“Bismillahirrahmannirahiim.”

“Lho, kemana bocah nakal itu. Tiba-tiba dia hilang.” Si Tegap terbengong-bengong kehilangan tangkapannya.

Alhamdulillah, aku menarik napas lega. Sekarang aku leluasa mencari tempat Amrita dipasung. Satu-satunya cara termudah, aku akan membuntuti dua body guard ini kemanapun mereka pergi.

Mereka putus asa mencariku yang tak juga dapat mereka lihat.

“Gembul, nampaknya sia-sia kita mencari gadis misterius itu.” Si Tegap mengepalkan tangannya kesal.

“Lebih baik kita ke ruang rahasia tempat Non Amrita di pasung. Saya merasa ada yang nggak beres di pulau ini. Kalau sampai ada yang menculiknya. Kita bakal kehilangan periuk nasi.”

Benar sekali dugaanku, mereka penjaga ruang rahasia, tempat Amrita menghabiskan hari-harinya. Mereka menaiki Jeep terbuka menuju sebuah hutan yang cukup lebat. Lima belas menit perjalanan, kami sampai di sebuah rumah tua.

Aku terus mengikuti langkah mereka dengan hati-hati. Kalau tidak, kejadian di depan pintu rahasia bisa terjadi lagi. Ya, aku menjatuhkan kaleng yang membuat mereka curiga. Hampir saja aku kena pukul mereka yang membabi buta lantaran menganggapku siluman penguntit.

Ruangan itu pengap dan gelap. Ukurannya hanya tiga kali empat meter. Mirip ruang penjara bawah tanah. Aku tak habis pikir, terbuat dari apa hati paman Amrita. Gadis cantik, yatim piatu itu dibiarkan tersiksa di usianya yang sangat belia.

Bukan hanya kaki dan tangan yang mereka pasung. Mulutnya pun ditutup dengan lakban perekat. Aku akan segera bertindak setelah dua body guard itu keluar. Dari tatap mata Amrita ke arahku, aku yakin Amrita dapat melihat kehadiranku.

Setelah semua aman aku mendekati Amrita. Tangisnya tak terbendung. Ada bahagia, sedih, penuh harap dan entah apa lagi. Aku segera membuka lakban perekat di mulutnya. Sosok yang persis menemuiku dalam mimpi danbtelepatiku belakangan ini. Keadaannya kusam, lusuh tak terurus. Ia memintaku membuka seluruh ikatan yang memasungnya. Amrita memelukku erat.

“Terimakasih Gayatri. Akhirnya Alloh mengabulkan doaku.”

“Sudah menjadi kewajibanku membantumu melepas semua penderitaan ini. Aku juga berterimakasih kau memberitahuku banyak hal tentang kelebihanku.”

“Gawat ada yang menuju kemari. Pasir putihmu masih ada Gayatri.”

“Aku sudah sebar saat aku dikejar dua body guard itu.”

“Coba kamu periksa, barang kali ada sebutir duabutir tersisa!. Aku membutuhkannya untuk menghilang dari pandangan mereka.”

Suara itu makin mendekat. Detak jantungku berdegup kencang. Ya Alloh beri kami jalan. Bagaimana kalau kami kehabisan satu-satunya senjata yang kami punya?

Aku tak mau berputus asa. Aku kais dasar saku celana PDL-ku dan Alhamdulillah masih ada sisa pasir tercecer.

“Bismillahirrahmaanirrahiim.” Semua akan baik-baik saja. Amrita kini hilang dari pandangan mereka. Kami harus segera lari menjauh dari rumah mengerikan juga Pulau Selahitam ini.

Sabtu, 24 Maret 2018

HALUSINASI (CERPEN MANUSIA ANOMALI)


HALUSINASI

Sania masih menutup muka dengan telapak tangannya. Hari ini adalah untuk pertama kalinya dia mengikuti acara lomba tumpeng di sekolah.  Acara khas yang selalu diadakan diadakan di sekolahnya tiap 17 Agustus.

Tidak banyak yang memerhatikan perubahan pada raut wajah Sania.  Semua orang asik menikmati hidangan yang dihias oleh kelompoknya masing-masing. 

Keringat dingin mulai bercucuran membasahi punggung Sania. Sania memberanikan diri bangkit dari tempat kelompoknya mengelilingi nampan yang  berisi nasi kuning berikut lauk pengiringnya.  Teri kacang, telor iris, suwiran daging.  Berbagai hiasan buah dan sayur berikut sambal hijau seharusnya mengundang selera makan.  Berbeda dengan Sania, semua justru seperti monster yang siap menyiksanya.

“Sania kamu mau kemana?”  Balqis yang sekelompok dengan Sania memanggil.

Sementara Sania terus menjauh tak memedulikan panggilan Balqis.

“Hai! Aku ingin merayap masuk ke kerongkonganmu, Sania!!!!  Biar aku masuk dan memakan isi perut kamu!”  Belatung yang dilihatnya di nampan itu satu persatu bergerak-gerak.  Seolah mendekatinya dan memaksa merayapi mulut kemudian masuk kerongkongannya.

Tiba-tiba.....Sania tak kuat lagi dan isi perutnya terburai lima langkah setelah ia meninggalkan ruangan.  Susah payah Sania berlari mencari air untuk membersihkan cairan menjijikkan dari perutnya.

“Ya Tuhan...jangan sampai mereka terganggu dengan keadaanku ini biarlah aku yang merasakan kesusahan ini,  Jangan sampai orang lain melihat keadaanku ini, Ya Rabb.”

Namun malangnya seorang office boy menghampirinya. Sumpah serapah akhirnya tumpah juga menghampiri kemalangannya.

“Kalau sakit tidak usah ikut acara makan-makan.  Sudah di rumah saja.  Kamu sudah mengganggu semua orang.  Lihat ada kepala sekolah, guru-guru, teman-teman kamu juga wali murid!  Kamu harusnya tahan sampai ke kamar mandi baru muntah.  Emangnya kamu hamil?”  Kalimat-kalimat itu tidak bernada tinggi tapi isinya sungguh menyesakkan dada Sania.

***
Gangguan ini makin lama makin menjadi.  Bentuknya pun bermacam-macam.  Orang-orang menyebut Sania dengan Putri Halusinasi.  Begitu mengetahui keadaan anaknya, Ibunda Sania berkonsultasi pada seorang ulama yang mengetahui tentang rukyah. 

“Ustadz, anak saya punya masalah yang cukup serius.”  Bunda Sania mengawali konsultasinya sore itu.”  Dia mengalami hal yang tidak sama dengan apa yang dialami orang lain.  Apa yang dia lihat, apa yang dia dengar berbeda dengan orang lain.  Tapi anehnya Ustadz, apa yang dialaminya ini hanya lima sampai tujuh hari setiap bulannya.  Seperti wanita yang mengalami haid.”

“Kalau boleh tahu apakah gangguan itu bersamaan dengan waktu menstruasinya?”

“Justru itu Ustadz, Sania belum mengalami menstruasi.”

“Baiklah saya akan mencoba merukyah putri ibu.  Sudah sejak umur berapa gangguan ini, Bu?”  Ustadz Shobri mengambil sepasang sarung tangan dan memakainya.

“Dua tahun yang lalu, waktu usianya 13 tahun.”

Ustadz Shobri mulai meruqyah dengan berbagai bacaan dan Sania tidak memberi reaksi apa-apa kecuali pingsan.  Tidak ada dialog yang bisa ikut didengar oleh Bunda Sania.  Beberapa hal dipesankan Ustadz Shobri.  Sania mengalami gangguan karena darah kotor yang seharusnya dikeluarkan melalui haid tidak keluar.  Darah kotor ini mengganggu fungsi syaraf otak sehingga muncul halusinasi.

“Ibu, untuk lebih jelasnya, Ibu bisa berkonsultasi pada dokter kandungan.  Apakah organ reproduksi putri Ibu normal atau tidak.  Untuk gangguan jin, saya agak kesulitan mendeteksinya karena pasien pingsan.”

Sejak terapi ruqyah, Sania berulangkali ke dokter untuk menjalani pengobatan halusinasinya.  Namun keadaannya tidak juga membaik.  Bisikan-bisikan buruk makin menjadi-jadi.  Untuk kesekian kalinya pada setiap bulannya Bunda Sania tidak pernah lupa melingkari massa haidnya.

Penjagaan ekstra Bunda selalu mengiringi Sania dalam keadaan apapun.  Berlembar-lembar memori mengerikan itu tersimpan rapi dalam kisah pengasuhan Bunda.

Pernah di sebuah rumah sakit, saat menjaga ayah yang sedang diopname, Sania tiba-tiba ketakutan.  Gorden di kamar itu tiba-tiba bergerak tertiup angin.  Bergerak sendiri ke kanan ke kiri tanpa ada seorang pun yang menggerakkannya.

“Ah.....Ibu Sania takut ada yang memainkan gorden itu. Lihat ibu orang itu menatap Sania.  Sania takut, Ibu!!!!!.”

Saat kondisi sulit ini, Bunda tak pernah mengizinkan Sania bersama orang lain tanpa bunda di sampingnya.  Kata-kata bijak, lembut dan menenangkan selalu Sania dengar di telinganya.  Yang Bunda khawatirkan justru bila Sania mendapat cap ‘gila’ dari orang lain pasti ini akan memperburuk keadaannya.

Bunda selalu berpesan agar Sania tidak menceritakan keanehan yang dialaminya pada orang lain.  Bunda ingin hanya bunda saja yang tahu.  Biar bundanya yang membantu Sania lepas dari halusinasi itu.

“Sania sabar, Nak.  Tenang ada Bunda di sini.  Sania tidak sendiri. Coba kamu lihat lagi gorden itu.  Tetap di tempatnya bukan.”  Bunda membisikkan bacaan Fatihah dan Ayat Kursi sambil terus mengelus kepala Sania lembut.

“Alhamdulillah.  Orang itu sudah tidak mengganggu Sania lagi.”  Degup kencang jantung Sania kembali normal.

Dari sekian kali halusinasi yang menghampiri, satu dua kali Sania hadapi sendiri.  Saat-saat yang amat berat, seperti mimpi buruk yang siap menjerat jiwa.

Bunda sedang sibuk dengan orderan onlinenya.  Kalender di dinding kamar bunda belum terlingkari sebagai pengingat tanda waktu haid tiap 20 hari berselang.  Mestinya angka-angka di kalender itu terlingkari di tanggal 5 April tahun ini.

Pagi itu Sania hendak pergi ke sekolah.  Gunting bekas memotong lakban tergeletak begitu saja.  Sania merasakan kepalanya makin berat.  Kini bukan pengelihatannya yang terganggu.  Tetapi bisikan yang mendekati telinganya.  Awalnya pelan kemudian makin nyata.

Sania tertegun tidak mampu melangkahkan kakinya.  Suara itu terlalu memnaksanya untuk berhenti dari tujuan semula, sekolah.

“Ayo ambil gunting itu.  Tidak ada gunanya kamu meneruskan hidup dengan siksaan.  Ketakutan kamu yang selalu menghantui itu bisa membuatmu gila.  Cepat atau lambat orang akan tahu masalahmu dan mereka akan mengatakan ‘kamu gila’.”  Sania tidak mampu menjawab semua bisikan itu.  Dibiarkannya monolog itu berbicara sepuasnya.

“Ambil gunting itu.  Lukai urat nadi kamu.  Darah segar akan keluar dan kamu akan terbebas selamanya.  Tidak akan ada lagi yang mengganggumu.”

Sania melangkah satu-satu.  Mendekati gunting yang tergeletak di lantai.  Diraihnya gunting tajam itu. Dan....

“Sania, apa yang kamu lakukan,Nak?!” Malaikat tak bersayap bernama bunda segera merebut gunting dari tangan Sania.  Bunda memeluk erat Sania sambil menangis.  ”Sania maafin Bunda.  Bunda lalai menjagamu, Nak.” Bunda menatap angka pada kalender tanpa tanda lingkaran itu.  Lima.

***
Sania diterima SMNPTN, disebuah institut ternama.  Halusinasi-halusinasi itu mulai diakrabinya.  Tidak ada rasa takut, sebaliknya penuh percaya diri.

Semua tidak lepas dari jasa bunda Sania.  Bunda mencatat semua yang dialami Sania, semua terapi menenangkan keadaan Sania.  Sania pun mulai mengenali dirinya.  Tiap siklus haid yang berbeda itu sangat dipahaminya.

Semua pengorbanan bunda berbuah manis dan sesuai harapan.  Bahkan Sania mampu mempertahankan prestasinya di sepuluh besar kelas unggulan di sekolahnya.

Hari ini hari pertama tanda melingkar di bulan Desember.

Sania duduk di bangku terdepan mendengarkan kuliah dari dosen favoritnya.  Dosen yang masih single, muda, berprestasi dan bergelar doktor di usia tiga puluh tiga.

“Saya akan menghadiahkan sesuatu untuk yang berulang tahun hari ini.  Mahasiswi dengan kehadiran full dan selalu tepat waktu.  Hadir selalu terdepan dan meraih nilai terbaik di mata kuliah saya.”

Dosen itu menghampiri Sania selangkah dua langkah.  Sania sangat paham bila halusinasi itu datang pasti ada sesuatu yang aneh dan luar biasa.  Dia justru takut halusinasi yang menyenangkan ini.  Halusinasi yang siap membuatnya jatuh dan kecewa.

“Maaf Prof, saya permisi ke kamar kecil.”  Sania meninggalkan ruang kuliah untuk mengambil wudhu dan sholat dua rekaat.  Sholat yang menjadi self-theraphy tiap halusinasi itu datang.  Selepas salam, degup kencang jantungnya kembali tenang.  Sania bergegas menuju ruang kuliah.

“Baiklah saya akan menyerahkan hadiah ini sebagai apresiasi saya sekaligus motivasi bagi mereka yang ingin mendapat apresiasi serupa.  Atau dorongan untuk makin disiplin dalam mengikuti proses pendidikan.”  Halusinasi kali ini bukan sembarang halusinasi.  Tidak pernah Sania mengalami halusinasi yang sama untuk setelah self-therapynya selama ini.

Ada satu cara lain untuk memastikan apakah apa yang dialaminya halusinasi atau buka.

“Mia, Pak Junaedi mau memberi hadiah ke mahasiswa yang paling disiplin dan meraih nilai tertinggikah?”  tanya Sania pada kawan yang duduk di sebelah kanannya.

“Bener, Nia.  Tadi beliau ngobrolin kamu di depan kita-kita.”

Dosen itu mendekati Sania dan memberikan bingkisan yang membuat Sania berdebar dan berbunga-bunga.  Dalam pengelihatan Sania, bingkisan itu sebuah seperti sebuah buku yang terbungkus kertas kado rapih dan setangkai bunga mawar. Diterimanya bingkisan penuh rasa terima kasih.

Sania tak ingin buru-buru meyakini apa yang dilihatnya.  Mana mungkin dosen memberinya bunga di depan semua teman mahasiswanya?

“Mia, bingkisan ini apa?”  Mia satu-satunya teman yang tahu problem Sania, menjawab semua keraguan Sania.

“Sepertinya bungkusan buku dan gulungan surat.”

‘Halusinasi, kamu jahat sekali mempermainkanku sejahat ini.  Tak tahukah kamu hatiku berbunga-bunga karena ulahmu.  Dan aku harus menelan kecewa.’  Batin Sania mengakrabi halusinasinya sendiri.





IMPIAN PENUH KENANGAN

IMPIAN PENUH KENANGAN  Oleh: Farel Kemenangan Tim Bulutangkis SMPN III di tingkat provinsi tahun lalu memberikan semangat yang tak perna...